Manusia dalam Al-Qur'an (2)


Berikut ini adalah kelanjutan Ceramah Hasan Al-Banna dalam Haditsu Tsalatsa yang berjudul Manusia dalam Al-Qur'an. Sebelumnya telah diposting Manusia dalam Al-Qur'an (1). Karena cukup panjang maka ceramah ini dipotong menjadi 3 bagian. Insya Allah Manusia dalam Al-Qur'an (2) ini akan segera disusul dengan Manusia dalam Al-Qur'an (3). Selamat membaca.
***

Manusia sebagai Salah Satu Makhluk Al-Mala' Al-A'la
Sekarang kita membahas komposisi ruhani manusia.

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

Dan telah Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku. (QS.Al-Hijr: 29)

Di sini jelas, Saudaraku, bahwa manusia tidaklah terdiri dari satu unsur, tidak hanya terdiri dari unsur materi saja, tetapi tanah yang telah ditiupkan ke dalamnya ruh Allah SWT. Akhi, Anda bukan semata-mata wadah dari tanah ini, tidak hanya sampul dari kulit ini, tetapi Anda diciptakan dari ruh Allah. Sebelumnya Anda hanya berupa segenggam tanah, tetapi setelah ditiup dengan ruh Allah itu, Anda menjadi seorang manusia sempurna. Dengan demikian, Anda termasuk salah satu makhluk surga, karena kemanusiaan Anda belum terbentuk kecuali setelah Allah meniupkan ruh-Nya kepada Anda. Adapun hakikat, substansi, esensi, dan rahasia ruh ini, maka tidak ada urusan Anda dengannya. Cukuplah Anda mengetahui, Saudaraku, bahwa ruh ini merupakan unsur ketuhanan dan bahwa apa saja yang berkaitan dengan Allah SWT terlalu besar untuk dapat dipikirkan oleh manusia, di luar jangkauan akalnya dan jauh dari kemampuan penalarannya.

Di sana ada hakikat yang dikemukakan oleh kisah tersebut. Hakikat ini, Saudaraku, berkaitan dengan perbandingan Anda sebagai manusia terhadap malaikat dan kedudukan Anda terhadap makhluk Tuhan yang tercipta dari unsur cahaya ini. Anda melihat bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Anda setelah memberi Anda ruh dari-Nya. Dengan demikian, Anda wahai manusia, lebih agung di sisi Allah daripada para malaikat. Bila Anda benar-benar mewujudkan kemanusiaan Anda, maka Anda lebih tinggi daripada para malaikat. Adapun jika Anda lalai, maka Anda termasuk golongan setan. Bila Anda menunaikan hak-hak kemanusiaan ini sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT niscaya para malaikat akan menjadi pelayan bagi Anda. Telah diriwayatkan oleh hadits shahih bahwa para malaikat menjenguk orang-orang shalih yang sedang sakit. Al-Qur'anul Karim juga menjelaskan bahwa mereka akan menjadi pelayan Anda pada hari kiamat. Jadi, para malaikat itu, Saudaraku, hanyalah hamba-hamba Allah dan sebagian dari makhluk-makhluk-Nya. Mereka tidak membangkang kepada perintah Allah, selalu melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Ekspresi yang dimunculkan Allah pada mereka hanyalah satu, yaitu ketaatan. Adapun ekspresi yang dimunculkan Allah SWT pada diri Anda, wahai manusia, lebih agung daripada itu, yaitu ekspresi ikhtiar (menentukan berbagai pilihan). Hakikat keempat yang dipaparkan dalam kisah tersebut adalah berkenaan dengan hubungan Anda dengan setan. Saudaraku, kita menemukan bahwa paparan ini telah menjelaskan hubungan ini, yaitu bahwa ada permusuhan dan pertentangan yang keras serta berkesi-ambungan antara Anda dengan setan. Bahkan kehidupan ini pada hakikatnya hanyalah pertentangan antara Anda dengan setan itu. Allah SWT pernah memperingatkan Anda dari bahaya setan, di lebih dari satu tempat dalam Al-Qur'anul Karim.

اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ

Turunlah kalian semua, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. (QS. Al-Baqarah: 36, Al- A'raf: 24)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (QS.Yasin: 60-61)

Hakikat kelima yang terkandung dalam kisah tersebut adalah berkaitan dengan kedudukan Anda, wahai manusia, berkaitan dengan tempat Anda. Kisah itu menyebutkan bahwa Anda adalah makhluk yang termasuk dalam golongan makhluk mulia. Anda diciptakan di dunia malaikat. Kemudian Anda diturunkan ke bumi ini disebabkan oleh ikhtiar (pilihan) Anda. Anda akan kembali ke tempat tinggal yang tinggi itu jika Anda mengetahui jalan kembali ke sana. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan,
"Mari menuju taman-taman Adn."

Al-Qur'an dalam memaparkan kisah tersebut tidak berhenti pada hakikat ini. Ia mengemukakan hakikat keenam yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan seluruh alam ini. Ternyata ia adalah makhluk yang mulia di tengah-tengah makhluk lain. Ia mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini.' (QS. Al-Baqarah: 30)

Jadi, bumi ini telah diserahkan kepada manusia, untuk dimakmurkan, bukan untuk dihancurkan dan dimusnahkan. Ia berkuasa di bumi, sedangkan seluruh makhluk di sana ditundukkan kepadanya.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Tidakkah kalian perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. Luqman: 20)

Jadi, kedudukan manusia, terlihat dalam perkataan ini:
Mereka mengangkatmu untuk suatu urusan
Jika kau telah terima Hati-hatilah agar tiada telantar


Jadi, Anda, wahai manusia, adalah khalifah yang diutus untuk memakmurkan bumi. Allah telah menundukkan segala sesuatu di bumi kepada Anda, sehingga Anda dapat melaksanakan tugas Anda dengan ikhlas. Inilah, Saudaraku, kedudukan Anda di tengah-tengah seluruh makhluk lain.

Kemudian, kita bicarakan juga tentang hubungan antara manusia dengan sesama manusia, yaitu hakikat ketujuh,

بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

Sebagian dari kalian adalah bagian dari yang lain. (QS. An-Nisa': 25)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Allah SWT tidak menjadikan bangsa-bangsa dan suku-suku untuk saling membenci dan bermusuhan, tetapi sebaliknya untuk saling me- ngenal dan menolong. Hubungan manusia dengan sesama manusia adalah hubungan sebagai saudara. Seseorang adalah saudara bagi yang lain. Landasan hubungan antara manusia dengan Allah swt. secara global disebutkan oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyat: 56)

[Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna] Bersambung ke >>> Manusia dalam Al-Qur'an (3)
Powered by Blogger.