Unsur Kesatuan Umat Islam


"Kok dari gaya bahasanya, ia sepertinya berbeda dengan kita ya. Dari harakah mana dia?" Demikian kurang lebih pertanyaan seorang aktifis Islam kepada temannya, sesama mahasiswa. Dialog itu terjadi saat ada diskusi di sebuah kampus. Hal yang kurang lebih sama mungkin akan kita jumpai pada banyak kesempatan.

Itu sekedar menunjukkan betapa kesatuan umat Islam belum terwujud dengan baik; bahkan antar sesama aktifis Islam. Bahkan, dari perbedaan gaya bahasa saja, seringkali sudah dijadikan kesimpulan perbedaan fikrah. Dan, karenanya interaksi berikutnya adalah "persaingan" bukan kerja sama. Itu kondisi riil yang masih terjadi di lapangan. Meskipun, kadar tiap daerah berbeda. Diantaranya tergantung pada kedewasaan masing-masing harakah dan aktifis Islam.

Semestinya, kesatuan umat Islam lebih mudah diwujudkan daripada kesatuan-kesatuan yang lain; entah itu kesatuan atas nama nasionalisme, agama non Islam, atau paham-paham lain yang berseberangan dengan Islam. Mengapa? Sebab unsur-unsur kesatuan umat Islam sangat banyak. Diantaranya yang terpenting adalah:

Kesatuan Aqidah

Umat Islam mempunyai suatu sistem yang menghimpun setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah secara ikhlas. Dan barangsiapa tidak mengucapkannya, maka tidak termasuk bagian umat ini.

Kesatuan Ibadah
Sesungguhnya Allah menciptakan kita –kaum muslimin- hanya untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Ibadah yang diwajibkan kepada kita semua adalah satu. Setiap muslim diwajibkan shalat lima waktu sehari semalam, shaum di bulan Ramadhan setiap tahun, zakat apabila telah cukup nishab, dan kewajiban-kewajiban lain dalam Islam. Maka, dalam hal ini, umat Islam melakukan bentuk ibadah yang sama. Bersatu dalam menunaikan ibadah tanpa membedakan jenis dan warna kulit.

Kesatuan Adat dan Perilaku
Setiap muslim mempunyai keteladanan yang baik pada diri Rasulullah SAW. Ini menumbuhkan kesatuan perilaku dan akhlak, karena kaum muslimin dituntut meneladani rasulullah SAW, menyangkut perilaku dan peri kehidupannya.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah SAW. (QS. Al-Ahzab : 21)

Kesatuan Sejarah
Seorang muslim tidak terikat oleh tanah air atau warna kulit tertentu, dan hanya sejarah Islamlah yang menjadi ikatan dan kebanggaannya.

Kesatuan Jalan
Sesungguhnya jalan kaum muslimin adalah satu, yaitu jalan para Nabi dan Rasul.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus; yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Sabda Rasulullah SAW:

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِى إِلاَّ هَالِكٌ

Aku telah tinggalkan kamu dalam keadaan terang benderang di mana malamnya seperti siangnya tidak akan tergelincir darinya sesudahku kecuali orang-orang yang celaka. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Inilah jalan yang akan mengantarkan ke surga. Karena itu, seorang muslim dituntut agar senantiasa teguh dan konsisten di jalannya. Jangan sampai menyimpang, karena akan celaka dan sesat.

Kesatuan Dustur
Sumber undang-undang (dustur) umat Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kaum muslimin dilarang mengambil rujukan, untuk menata dan mengatur gerakan mereka di atas planet ini, kecuali dari apa yang diturunkan Allah dan dibawa Rasul-Nya.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa : 65)

Kesatuan Pimpinan
Umat Islam sepakat bahwa pemimpinnya yang pertama ialah Rasulullah SAW. Kemudian para khalifah sesudahnya. Kepemimpinan khalifah yang satu memang belum terjadi saat ini. Tetapi jika perjuangan umat Islam telah berhasil dan mampu mewujudkan cita-citanya, maka kesatuan umat Islam akan lebih kokoh di bawah seorang khalifah.

Bahkan untuk menjamin kesatuan pimpinan ini, digariskan ketentuan dalam agama ini bahwa tidak boleh ada kepemimpinan umat Islam ganda di tingkat dunia.

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا

Apabila dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah orang yang terakhir (dibai'at) (HR. Muslim).

Pertanyaan untuk diri kita kemudian adalah: sudahkah kita mengedepankan dan berupaya mewujudkan kesatuan umat Islam atau masih bertanya terlebih dahulu: "Dari harakah mana dia?"

[Referensi: Al-Islam karya Sa'id Hawa dan Menuju Jama'atul Muslimin karya Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir]
Powered by Blogger.