Faktor-faktor Pendukung Keberhasilan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin


Bagi orang yang telah mengkaji dan meneliti Ikhwanul Muslimin, mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa Ikhwanul Muslimin sejak awal telah membangun madrasah teladan bagi pendidikan Islam yang benar-benar berhasil. Masalah penting yang telah diwujudkannya adalah membentuk generasi muslim yang baru, yang memahami Islam dengan tepat dan bekerja serta berjuang menegakkan agama Allah, merealisir ajarannya dan mempersatukan umatnya.

Lalu apa saja faktor-faktor pendukung keberhasilan tarbiyah Ikhwanul Muslimin itu?

Pertama, Iman yang tak tergoyahkan bahwa tarbiyah adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masyarakat, membentuk pemimpin dan mewujudkan cita-cita. Pemimpin gerakan itu, Hasan Al-Banna, menyadari bahwa tarbiyah itu jalan yang panjang dan penuh kesulitan. Hanya sedikit orang yang sabar menempuh jalannya yang panjang dan terjal, yaitu orang yang memiliki azzam yang kuat. Tetapi Hasan Al-Banna yakin pula bahwa tarbiyah itu satu-satunya jalan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan dan tidak ada jalan lain lagi. Itulah jalan yang ditempuh oleh Nabi SAW untuk membentuk generasi teladan yang diridhai Allah, yang tidak pernah disaksikan bandingannya oleh dunia. Mereka inilah yang melaksanakan tarbiyah bagi berbagai bangsa dan mengarahkannya kepada kebenaran dan kebaikan.

Kedua, Rencana tarbiyah mempunyai tujuan tertentu, langkah-langkah yang jelas, sumber yang terang, bagian-bagian yang saling mendukung, dengan sistem beraneka ragam dan ditegakkan atas falsafah yang jelas, digali dari ajaran Islam bukan dari ajaran lainnya.

Ketiga, Suasana kebersamaan yang positif, yang dibina oleh jamaah. Hal itu akan membantu setiap anggotanya untuk hidup secara Islam, melalui motivasi dan nasihat, contoh teladan, persamaan perasaan dan tindakan. Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan berjamaah. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat. Sebagaimana tersebut dalam hadits:

يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

Tangan Allah bersama Jamaah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Baihaqi)

فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang tersisih dari kawanannya (HR. Abu Dawud, An-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi)

Keempat, Pemimpin yang mendidik dengan bakat, ilmu dan pengalamannya yang dianugerahkan kepadanya kekuatan iman yang luar biasa, membekas pada setiap hati orang yang berhubungan dengannya, melimpah dari hatinya ke hati orang-orang di sekitamya. Dia seperti dinamo yang dari kekuatannya hati mereka diisi dengan "kekuatan". Kata-kata bila keluar dari hati langsung masuk ke hati para pendengarnya tanpa reserve, tetapi bila keluar hanya dari lidah maka pengaruhnya tidak akan melampaui telinga. Orang yang memiliki hati yang hiduplah yang dapat mempengaruhi pendengar dan pengikutnya. Sedangkan orang yang mempunyai hati yang mati tidaklah mampu menghidupkan hati orang lain. Sebab orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya kepada orang lain dan wanita yang tidur tidak sama dengan wanita yang kehilangan anak.

Kelima, Adanya sejumlah pendidik/murabbi yang ikhlas, kuat dan terpercaya yang meyakini jalan yang dibentangkan oleh qiyadah. Mereka mempunyai pengaruh terhadap murid-muridnya dan mereka ini menjadi pendidik-pendidik bagi generasi sesudahnya, demikianlah seterusnya. Yang dimaksud para pendidik di sini bukanlah alumni Perguruan Tinggi Ilmu Pendidikan atau pemegang ijazah Magister (MA) dan Doktor dalam pendidikan. Yang dimaksudkan ialah orang yang memiliki kualitas iman yang tinggi, kekuatan jiwa, keberanian hati, keteguhan azzam, kelapangan dada dan kesanggupan mempengaruhi orang lain. Mungkin mereka seorang pegawai rendahan atau pedagang atau buruh, diantara orang-orang yang tidak mempelajari dasar-dasar pendidikan atau sistemnya.

Keenam, Cara pelaksanaan yang bermacam-macam, yang bersifat pribadi, yang bersifat kelompok, yang bersifat teori, yang bersifat praktikal, yang bersifat pemikiran, yang bersifat perasaan, yang berbentuk perintah dan yang berbentuk larangan semua itu dilaksanakan dalam bentuk pelajaran, ceramah, seminar, diskusi dan pendekatan pribadi, begitu pula syair-syair yang dihafal, bacaan-bacaan yang diulang-ulang, nasyid yang irama dan lagunya mempunyai pengaruh tertentu. Pertemuan-pertemuan bergilir dari kelompok-kelompok di rumah-rumah dengan acara membaca Al Qur-an, memperluas ilmu pengetahuan, ibadah dan memperkuat tali persaudaraan, semuanya itu dinamakan kelompok "usrah" yang menanamkan perasaan cinta dan kasih sayang di antara anggota-anggota keluarga itu. Di samping itu ada pertemuan-pertemuan lain dalam lingkungan jamaah yang diadakan pada waktu malam. Tujuannya mencerdaskan akal dengan ilmu pengetahuan, membersihkan hati dengan ibadah dan menyehatkan badan dengan olahraga. Pertemuan ini dinamakan "katibah" yang menanamkan pengertian jihad. Selain itu masih ada sistem-sistem lain yang semuanya bertujuan membentuk manusia muslim yang sempurna.

[Sumber: At-Tarbiyah Islamiyah wa Madrasatu Hasan Al-Banna, karya Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi]
Powered by Blogger.