Wanita dalam Al-Qur'an


Setelah menampilkan tema Manusia dalam Al-Qur'an, kini Ceramah Hasan Al-Banna membicarakan Wanita dalam Al-Qur'an. Ini masih seri 1, insya Allah bersambung ke Wanita dalam Al-Qur'an (2). Sebelum itu, Ceramah Hasan Al-Banna telah mengangkat tema Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan dan Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an. Selamat membaca.
***


Kita memuji Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan tercinta, tema kajian kita pada malam ini adalah "Wanita dalam Al-Qur'anul Karim." Kita telah memulai serial kajian kita tentang kandungan Al-Qur'anul Karim. Kajian serial ini telah berlangsung lama. Memang, wajar saja ia berlangsung lama, karena kandungan kitab Allah ini secara keseluruhan adalah kebaikan semata. Orang yang membaca kitab Allah SWT pasti merasa seakan-akan berada dalam kebun-kebun yang penuh dengan buah-buahan yang dapat dipetiknya. Mengenai hal ini, Ikhwan sekalian, saya terkesan oleh ucapan Sayidina Abdullah bin Mas'ud, "Jika kamu membaca Al-Qur'an 'Alif ~Lam, Haa Miim', seakan-akan kamu mampir di kebun-kebun yang dipenuhi berbagai buah-buahan."

Kitab Allah SWT dengan gayanya yang khas dan indah, memiliki komposisi unik yang tidak mungkin dapat ditemukan kecuali padanya. Logika yang cermat dalam bentuk ungkapan yang paling indah digunakan untuk membahas tema-tema yang paling remeh sekalipun. Seakan-akan seseorang berada di salah satu koleksi logika yang paling kuat.

Ikhwan, sesungguhnya barangsiapa membaca sejarah bangsa-bangsa, niscaya menemukan bahwa manusia itu mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap wanita. Perbedaan itu sampai pada kategori mengundang keheranan. Ia akan menemukan bahwa sebagian dari mereka, misalnya, ada yang menganggap bahwa wanita adalah budak. Ada yang menganggapnya sebagai sampah, dan ada pula sebagian kelompok yang tidak memandang wanita selain sebagai hiburan dan permainan. Hal itu masih berlaku, bahkan dalam pandangan bangsa-bangsa modern yang mengklaim bahwa kebanggaan terbesarnya adalah penghormatan terhadap martabat wanita, kebangkitan kaum wanita, dan penyempurnaan hak-hak kaum wanita. Di kalangan bangsa-bangsa ini sendiri, wanita dan kedudukan wanita tidak mencapai tingkat yang menjadikannya dapat memperoleh hak atau menempati posisinya secara benar.

Anda mungkin heran, Saudara-saudara, bahwa masyarakat Arab memiliki pandangan dan penilaian yang campur aduk tentang wanita. Suatu kali di mana masih terdapat beberapa kabilah Arab, mereka menganggap wanita sebagai manusia yang mempunyai hak sebagaimana manusia lain, sehingga mereka kadang-kadang mengambil pendapatnya dan kadang-kadang memberinya kebebasan memilih.

Ada beberapa contoh mengenai hal itu. Syamas bin La'iy, seorang pemuka salah satu kabilah Arab, pernah dicela dengan keras oleh seorang penyair. Ketika penyair tersebut berhasil ditangkapnya, ia ingin membunuhnya. Ia menemui ibunya dengan muka berseri-seri. Ibunya berkata, "Aku melihat di wajahmu tergambar tanda-tanda kegembiraan." Ia menjawab, "Benar Ibu. Saya telah berhasil menangkap penyair yang telah mencelaku." "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya. Ia menjawab, "Tentu saja, saya akan membunuhnya." Ibunya berkata, "Di manakah kearifan dan kepintaranmu, wahai putra La'iy? Seorang penyair berkata tentang dirimu, sedangkan perkataannya tersebar di tengah-tengah masyarakat, lantas siapakah yang kau anggap dapat menghapuskan celaannya ini?" "Jika tidak demikian, lalu apa yang harus saya lakukan?" tanyanya. Ibunya menasihati, "Perlakukan dia dengan penuh hormat, wahai Syamas. Perlakukanlah dia dengan baik, lantas biarkanlah dia sendiri yang menghapus celaan yang pernah dilontarkan kepadamu. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada orang yang dapat menghapuskan celaannya yang telah melekat padamu selama-lamanya."

Syamas bin La'iy benar-benar melaksanakan pesan ibunya dan mengikuti sarannya. Padahal ia hanyalah seorang wanita. Ikhwanku, saya katakan, di saat wanita pada sebagian kabilah diperlakukan demikian, beberapa kabilah yang lain justru mempunyai kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup dan memingit wanita di rumah dengan peraturan yang ketat dan keras. Tatanan bangsa Arab dalam memandang wanita dan kedudukannya mempunyai beberapa keragaman. Karena itu, sungguh mengagumkan, ternyata Al-Qur'an mendatangkan pandangan yang merupakan puncak ketinggian dan penghargaan terhadap status sosial wanita. Pandangan tersebut meletakkan masalah secara proporsional dan membahasnya dengan berani dan kokoh.

PRINSIP-PRINSIP TEORITIS

Ikhwan sekalian, masalah ini adalah masalah kemanusiaan yang paling penting, dibahas oleh Al-Qur'anul Karim dengan pembahasan yang penuh keyakinan, kejelasan, keberanian, dan kebenaran.

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Maka bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian. (QS. An-Nisa': 1)

Ayat yang mulia ini, Saudara-saudara, mengisahkan kepada kita dengan jelas sekali bahwa asal-usul seluruh manusia adalah satu. Seluruh manusia berasal dari satu orang. Kemudian dari satu orang ini, Allah menciptakan istrinya. Laki-laki dan wanita mempunyai asal-usul dari satu orang. Dari sini, wahai Akhi, Anda menemukan bahwa Islam telah meletakkan permasalahan ini di atas satu prinsip. Wanita dan laki-laki bermula dari asal yang sama dan dari bahan baku yang sama. "Sebagian dari kalian merupakan bagian dari yang lain." Prinsip dalam masalah ini adalah persamaan. Dalam surat Asy-Syura, Allah SWT berfirman,

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ * أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mem- berikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. Asy-Syura: 49-50)

Jadi, wahai Akhi, Anda menemukan bahwa Allah SWT mendahulukan penyebutan anak-anak perempuan dalam firman-Nya, dan menyebutnya sebagai anugerah yang diberikan kepada siapa yang Allah kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah juga menyebut anak-anak laki-laki sebagai anugerah yang diberikan kepada siapa yang Allah kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sama saja, apakah anak yang dimiliki seseorang itu perempuan semua atau laki-laki semua, ataukah perempuan dan laki-laki, maka itu merupakan karunia dan anugerah Allah. Jika kita memperhatikan urutan penyebutan antara perempuan dan laki-laki, Anda mendapati bahwa ayat tersebut permulaannya dengan menyebut perempuan. Hal ini untuk menghilangkan syubhat yang menganggap kekurangan pada perempuan.

Dalam ayat ketiga, Allah SWT berfirman, "Sebagian dari kamu merupakan bagian dari yang lain." Persamaan tidak berhenti pada kandungan secara umum ini, tetapi lebih dari itu juga termasuk dalam persoalan hukum. Wahai Akhi, Anda menemukan ayat yang mulia mengatakan,

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا * وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa menger- jakan kejahatan, niscaya akan diberi pem-balasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih, baik laki- laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun. (QS. An-Nisa: 123-124)

Di sini Anda menemukan bahwa Allah Yang Mahabenar SWT telah menegaskan bahwa asal-usul pria dan wanita adalah satu sumber, dan nilai umum dalam penghitungan dan pembebanan adalah satu pula. Di tempat lain, wahai Akhi, Anda mendengar firman Allah SWT,

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri- istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. (QS. Ar-Rum: 21)

Jika kita perhatikan ayat ini, wahai Akhi, niscaya kita mendapati bahwa kecenderungan dan perasaan tenteram antara pria dan wanita ditegaskan di sana. Di tempat lain Allah SWT berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari jiwa itu Dia menjadikan istrinya agar ia merasa tenteram kepadanya. (QS. Al-A'raf: 189)

Ketenteraman, ketenangan, dan perlindungan. Itulah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan antara pria dan wanita. Seorang wanita, wahai Akhi, berlindung kepada suaminya untuk memperoleh kekuatan dan kehidupan, sedangkan pria berlindung kepada istrinya untuk memperoleh kecintaan dan kehidupan. Al-Qur'anul Karim menegaskan hal ini dengan ungkapan yang paling tinggi nilainya, dan menegaskan bahwa hal ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah serta salah satu nikmat dan karunia-Nya.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri- istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. (QS. Ar-Rum: 21)

Dengan prinsip-prinsip teoritis ini, kita mendapatkan bahwa Al-Qur'anul Karim telah menghapus mitos-mitos berbagai bangsa terdahulu yang menyatakan bahwa bahan baku wanita dari tanah yang berbeda dari bahan baku pria dan bahwa wanita bukan dari jenis pria. Islam telah menghapuskan dan menghancurkan mitos-mitos ini dengan setuntas-tuntasnya. Bersambung ke Wanita dalam Al-Qur'an (2) [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.