Alam Semesta dalam Al-Qur'an


Setelah menjelaskan tema Wanita dalam Al-Qur'an, Hasan Al-Banna di dalam Haditsu Tsulatsa atau Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna melanjutkan dengan pembahasan Alam Semesta dalam Al-Qur'an. Sebelum itu, Ceramah Hasan Al-Banna telah mengangkat tema Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan, Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an, dan Manusia dalam Al-Qur'an. Selamat membaca.
***

Kita memuji Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, juga siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Ikhwan yang terhormat, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: Assalamu 'aikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Pada kajian yang lalu, kita telah membahas tentang manusia dalam Al-Qur'an. Kajian tersebut merupakan seri pertama dari serial kajian tentang kitab Allah SWT. Saya telah mengemukakan bahwa tujuan kajian tersebut bukanlah semata untuk penelitian ilmiah atau pengumpulan fakta-fakta secara terperinci. Tujuan kajian tersebut hanyalah agar kita bisa membuka pintu pemahaman tentang kitab Allah bagi diri kita, mengenal metode pemahaman ini, dan memperoleh kunci-kunci pembukanya. Allah akan mencurahkan pemahaman tentang beberapa kandungan makna kitab-Nya yang mulia ini ke hati hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang ingin memperluas kajiannya, bisa mengkaji kitab-kitab tafsir dan ensiklopedi. Tetapi, wahai Akhi, kita ingin membuka pandangan kita terhadap beberapa ayat Allah SWT.

Pertama kali kita telah memulai pembicaraan mengenai Al-Qur'anul Karim. Saya pernah mengatakan bahwa Al-Qur'an menjelaskan komposisi materi manusia. Ia menjelaskan bagaimana Allah SWT telah menciptakannya dari tanah. Kemudian saya juga telah membahas bagaimana Allah SWT menjelaskan komposisi ruhani manusia. Allah menjelaskan bahwa ia diciptakan dengan perintah dari Allah dan bahwa Allah meniupkan ruh-Nya kepadanya.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kami tidaklah diberi pengetahuan melainkan sedikit. (QS. Al-Isra': 85)

Kemudian, karena perkembangan ruhani ini, manusia menaikkan nilai dirinya melebihi makhluk-makhluk lain, sampai-sampai Allah SWT memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Allah SWT telah menciptakannya dan mengajarinya banyak hal yang tidak diajarkan-Nya kepada para malaikat.

وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang orang-orang yang benar.' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.' (QS. Al-Baqarah: 31-32)

Kemudian, wahai Akhi, bagaimana Allah SWT dengan limpahan karunia-Nya ini mengangkat manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Saya juga telah menjelaskan bahwa dalam keadaan demikian ini, manusia wajib menghindarkan diri dari nafsu ambisi duniawi serta dari segala hal yang bersifat materi dan hina. Hendaklah ia mengangkat keruhaniahan dirinya sampai di alam ilahiyah.

Anda, wahai manusia. Allah telah meniupkan sebagian dari ruh-Nya kepada dirimu. Dia telah menciptakanmu dengan kedua tangan-Nya dan meninggikan martabatmu. Dia menjadikanmu dengan perintah-Nya dan memerintahmu untuk mencari ilmu, ma'rifah, cahaya, dan keterangan. Karena itu, wahai Akhi, hendaklah Anda senantiasa berusaha keras agar tetap pada kedudukan ini. Allah SWT telah mempercayakan alam ini di tanganmu, maka peliharalah ia baik-baik. Ikhwan yang tercinta, dunia materi dalam kitab Allah terlihat ketika Anda membaca Al-Qur'anul Karim. Anda akan menemukan ayat-ayat yang membahas tentang alam nyata ini. Allah Yang Mahabenar berbicara kepada orang-orang kafir dengan firman-Nya,

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ * وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ * ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ * فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu ingkar kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.' Dia menciptakan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu keduanya dengan perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. Fushilat: 9-12)

Kemudian, wahai Akhi, Anda juga membaca firman Allah SWT,

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak memiliki retak-retak sedikitpun? (QS. Qaaf: 6)

Kemudian Anda membaca juga firman Allah yang lain,

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ * وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ * وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi serta menjadikan gunung- gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian- bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pokok korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ra'd: 2-4)

Demikianlah seterusnya, wahai Akhi, Anda hampir-hampir tidak membaca satu surat pun, kecuali Anda pasti menjumpai ayat yang menyebut tentang alam, keajaiban-keajaibannya, keanehan-keanehannya, hal-hal yang berkaitan dengannya, serta hal-hal yang berhubungan dengan komposisi dan keajaiban ciptaan Allah di dalamnya. Dari sinilah kita mengerti secara yakin bahwa Al-Qur'anul Karim telah menjelaskan hakikat-hakikat alam ini. Wahai Akhi, sekarang kita bertanya. Mengapa Al-Qur'anul Karim memaparkan hakikat-hakikat alam ini? Apakah Al-Qur'an memaparkannya guna menjelaskan seluk beluknya sehingga ia menjadi sebuah buku astronomi? Apakah ketika memaparkan tumbuh-tumbuhan, berbagai situasi, perkembangan-perkembangan alam dan pertumbuhannya, Al-Qur'an memaparkannya agar menjadi sebuah buku botani? Jelas, Al-Qur'anul Karim turun dari sisi Allah bukan untuk membahas ilmu-ilmu alam sebagaimana buku-buku yang ditulis secara spesifik mengenainya. Al-Qur'an tidak menguraikannya dengan analisis ilmiah untuk menjelaskan prinsip-prinsip dan cabang-cabang teorinya. Al-Qur'anul Karim memaparkannya agar dijadikan sebagai bukti yang tidak bisa lagi ditolak dan tidak bisa diragukan tentang keagungan Allah SWT yang telah menciptakan, merangkai, dan menyempurnakannya. Karena itu, wahai Akhi, seringkah Anda melihat penuturan masalah ini datang setelah menyebut beberapa sifat-Nya:

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آَللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ * أَمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ * أَمْ مَنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ * أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ * أَمْ مَنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ * أَمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?' Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang telah menurunkan air untuk kalian dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kalian sekali-kali tidak dapat menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingatnya. Atau siapakah yang memimpin kalian dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa pula yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha-tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa pula yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Adakah di samping Allah tuhan (yang lain)? Katakanlah, 'Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.' (QS. An-Naml: 59-64)

Maka, Akhi tercinta, Anda melihat bahwa Al-Qur'anul Karim memaparkan ayat-ayat alam semesta ini bukan untuk menjelaskan bagaimana proses penciptaan bumi, tetapi untuk menarik perhatian bahwa bumi dan alam semesta yang diciptakan dengan begitu cermat ini adalah ciptaan, buatan, dan karya Allah SWT. Bahwa Allah yang telah menciptakan bumi dengan segala keajaiban dan keanehannya, yang memiliki ilmu, keagungan, dan ketuhanan tunggal ini, agar tidak ada yang diibadahi selain-Nya. Wahai Akhi, Anda membaca dalam surat Al-Baqarah,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * أُولَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang- orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah yang telah menjadi- kan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Jadi, Al-Qur'anul Karim memaparkan ayat-ayat dan hakikat ini dalam konteks kemahatunggalan dan kemahaesaan sekaligus dalam keagungan Dzat Allah. Ia bukan sekedar untuk menjelaskan, tetapi agar di antara sifat-sifat Allah SWT ini bisa dijadikan sebagai bukti tentang kekuasaan Allah SWT., sehingga jiwa manusia menjadi tersambung dengan-Nya, berbahagia, dan tenteram sebagaimana yang dikehendaki dan diserukan oleh Al-Qur'an itu. Al-Qur'an mengajak semua manusia di dunia ini untuk mencari hakikat. Ikhwan sekalian, puncak dari segala hakikat adalah Allah. Sebab, Allah swt. adalah fitrah di dalam jiwa mereka. Dialah yang telah men- ciptakan mereka dan menciptakan semua agama yang dibawa oleh para rasul agar manusia mengenal Allah.

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Katakanlah, 'Perhatikan apa yang di langit dan di bumi.' (QS. Yunus: 101)

Wahai Akhi, ketika Al-Qur'an mengemukakan fenomena-fenomena alam semesta seperti matahari, bulan, tumbuh-tumbuhan, dan hujan, tidaklah bertujuan memberitahu kita akan teori-teori ilmiah tentang benda-benda ini, melainkan bertujuan menarik perhatian terhadap bukti yang terlihat nyata yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Tetapi, saudara-saudara yang tercinta, mengapa Al-Qur'an tidak membahas aspek-aspek ini secara ilmiah murni?

Ikhwan sekalian, itu lantaran bahwa tujuan Al-Qur'an diturunkan untuk menjadi pengarahan ruhani yang bisa menghubungkan jiwa manusia dengan "alam ketinggian" dan mengenalkan mereka kepada Allah swt. Andaikata Al-Qur'anul Karim membahas aspek-aspek ini dari segala sisi, niscaya tidak akan pernah selesai. Sebab, akal manusia itu secara bertahap akan meningkat dan menyingkap hakikat-hakikat alam. Pada awalnya manusia mengetahui satu hakikat, kemudian secara terus-menerus ia akan mengetahui hakikat-hakikat baru. Meskipun demikian, Al-Qur'anul Karim juga telah membahas sebagian dari hakikat-hakikat ilmiah ini dengan gaya yang sangat indah sampai-sampai para ilmuwan mengakui bahwa keterangan Al-Qur'an ini berada di atas tingkat pemikiran mereka dan sampai-sampai orang-orang awam merasakan kenikmatan ketika membacanya. Dengan demikian, orang-orang awam memahaminya sesuai dengan kadar ilmu mereka dan para ilmuwan juga memahami hakikat-hakikat ilmiah yang berada di atas tingkat pemikiran mereka. Bersambung ke Alam Semesta dalam Al-Qur'an (2) [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.