Badar, Saksi Indahnya Al-Qiyadah Wal Jundiyah


“Rasulullah, engkau menyakitiku. Padahal Allah mengutusmu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Saya minta engkau memberiku kesempatan untuk membalas.” Kata-kata ini pernah diucapkan seorang sahabat kepada Rasulullah. Sahabat ini termasuk ahli Badar. Dan peristiwa ini memang terjadi saat perang Badar. Tepatnya, beberapa saat sebelum perang Badar berkecamuk.

Sahabat itu adalah Sawad bin Ghaziyah. Saat itu ia terlihat lebih maju dibandingkan sahabat lain yang berada dalam barisan yang sama ketika Rasulullah tengah meluruskan barisan pasukan Badar. “Sawad, luruskan.” Perintah Rasulullah sambil mendorong perutnya dengan anak panah.

Saat itulah, ia menyampaikan keberatannya pada Rasulullah dengan kalimat di atas. “Rasulullah, engkau menyakitiku. Padahal Allah mengutusmu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Saya minta engkau memberiku kesempatan untuk membalas.”

Rasulullah tidak marah. Atau merasa gengsi dikritik. Justru Rasulullah menyingkap perut beliau dan berkata, “Silahkan balas”. Apa yang terjadi kemudian? Apakah Sawad mendorong perut Rasulullah dengan anak panah? Ternyata ia justru memeluk Rasulullah dan mencium perut beliau.

Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang mendorongmu berbuat demikian, wahai Sawad?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, telah terjadi apa yang engkau saksikan. Kuingin masa terakhirku bersamamu, antara kulitku dan kulitmu saling bersentuhan. Akhirnya, Rasulullah pun mendoakan kebaikan bagi Sawad.

Demikian indahnya implementasi Al-Qiyadah wal Jundiyah generasi pertama umat ini. Dan untuk episode ini, Badar menjadi saksinya.

Rasulullah mengajarkan, seorang pemimpin (qiyadah) haruslah menjadi teladan (qudwah) bagi para anggota(jundi)-nya. Maka, ketika Rasulullah dalam kesempatan pernah bersabda “Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya, terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham." Beliau memberi contoh pertama kali. Maka, saat Sawad menuntut "pembalasan" atas Rasulullah, beliau pun mempersilakan; tanpa sikap marah maupun gengsi.

Rasulullah sebagai pemimpin (qiyadah) juga menunjukkan betapa beliau menyadari bisa saja ada khilaf dalam setiap keputusannya, karenanya beliau meminta kelapangan dada dan keikhlasan orang-orang seperti Sawad. Yang menjadi perhatian Rasulullah adalah keridhaan Allah dan ampunan-Nya, bukan "kehormatannya" sebagai pemimpin atau "rasa malu" "dikoreksi" oleh sahabatnya.

Qiyadah yang terbaik ini bertemu dengan jundi-jundi terbaik pula. Sawad tidak hendak mencari kesalahan Rasulullah, tetapi justru menunjukkan cintanya. Demikian pula sahabat-sahabat lain, radhiyallahu anhum. Sehingga kehidupan yang harmonis, begitu indah dan sangat mengagumkan diabadikan dalam sejarah. Interaksi al-qiyadah wal jundiyah yang sangat ideal.

Kita, dalam kehidupan ini –apapun peran kita dan di manapun lingkungan kita- sesungguhnya juga tak pernah lepas dari al-qiyadah wal jundiyah. Hatta, kita hanya sebagai pemimpin rumah tangga, atau ibu rumah tangga (bagi akhwat).

Maka keteladanan Rasulullah di atas hendaknya terpatri dalam pikiran kita, lalu mewujud dalam sikap dan keputusan-keputusan kita. Jika ini yang terjadi, percayalah, sakinah mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga pasti terwujud. Demikian pula baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur dalam kehidupan bernegara juga menjadi nyata.

Seorang kepala rumah tangga yang menjadi teladan serta menyayangi anak dan istri. Istri yang taat pada suami. Ibu yang sangat mencintai anak-anaknya. Anak yang menurut pada orang tua. Alangkah indahnya hidup seperti ini.

Demikian pula pemimpin (qiyadah) yang mencintai anggotanya. Anggota (jundi) yang mencintai dan mentaati qiyadahnya. Qiyadah yang siap dikritik dan dikoreksi, tanpa "malu" atau "gengsi". Jundiyah yang tidak mencari kesalahan-kesalahan qiyadahnya namun senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka. Subhaanallah. Bagaimana menurut Anda? [Muchlisin]
Powered by Blogger.