Jangan Biarkan Anemia Menyerang Ruhiyah Kita


Ini kedua kalinya. Ia datang menyerang dan membuatku tidak bisa menjalankan aktifitas selama dua hari kemarin seperti biasanya. Jadwal memberikan training bersama tim Trustco kemarin pun tidak bisa aku hadiri. Demikian pula mengisi pelatihan komputer di sebuah SMA sore harinya, tidak bisa kupenuhi. Aku harus istirahat. Untunglah, Allah masih menguatkanku untuk tetap bisa belajar dan menulis di Bersama Dakwah ini.

Anemia. Itu istilah medisnya. Keadaan di mana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berada di bawah normal. Seperti yang kurasakan dua hari lalu, anemia bisa menyebabkan lemah, letih, lesu, pucat, dan berkunang-kunang. Kali pertama menyerangku pada Idul Fitri lalu, bahkan memaksaku menunda mudik hingga hari ketujuh.

Di samping istirahat, aku pun mengkonsumsi multivitamin yang disarankan dokter. Alhamdulillah, kini kondisiku lebih baik dari dua hari lalu.

Kita perlu menjaga kondisi fisik kita agar tidak terserang anemia. Qawiyyul jism harus diperhatikan. Karenanya Hasan Al-Banna menyebutkannya pertama kali sebelum sembilan muwashafat lainnya dalam Risalah Ta’alim. Namun yang tak kalah penting adalah menjaga ruhiyah kita agar tidak terkena anemia.

Jika anemia bisa menyebabkan lemah, letih, lesu, pucat, dan berkunang-kunang, anemia ruhiyah membuat kita tidak semangat, malas beribadah, jiwa tidak tenang, dan gelisah. Sayyid M. Nuh menyebut gejala ini sebagai futur.

Jika untuk mengatasi anemia kita membutuhkan multivitamin atau suplemen makanan, demikian pula kita memerlukan suplemen ruhiyah agar tidak terserang futur; atau untuk mengatasinya jika gejala-gejala futur mulai terasa.

Diantara suplemen yang kita perlukan, salah satunya adalah dzikrul maut; mengingat kematian. Dalam Afatun ‘ala Thariq, Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan, “Dengan senantiasa mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang akan dihadapi selanjutnya, seperti keharusan menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di alam barzakh, suasana kubur yang gelap gulita dan sunyi sepi…, dan seterusnya, akan dapat membangunkan jiwa dari kelelapan, membangkitkannya dari kemalasan, mengingatkannya dari kelalaian, sehingga kita akan kembali bersemangat dan mulai meneruskan amaliyah.”

Suplemen ini kita perlukan dalam jumlah yang banyak agar anemia ruhiyah tidak menyerang kita. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Dzikrul maut ini akan berbanding lurus dengan ketahanan dan kekuatan seseorang, termasuk dalam menghadapi anemia ruhiyah. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling kuat itu?” Beliau menjawab, “Seseorang yang paling banyak mengingat mati dan lebih keras persiapannya menghadapi kematian. Mereka yang seperti inilah orang-orang yang paling perkasa.” (HR. Ibnu Majah)

Untuk mengingat kematian, banyak cara yang bisa dipraktikkan. Salah satunya adalah mentradisikan jamaah, halaqah atau persahabatan untuk saling mengingatkan kematian. Seperti dituturkan Ibnu Qudamah ketika menceritakan kebiasaan salafush shalih “Setiap malam Ibnu Umar mengumpukan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.”

Secara individu, mengingat kematian juga bisa ditempuh dengan jalan ziarah kubur. Dan inilah yang diajarkan Rasulullah di samping mengantarkan jenazah dan mengunjungi orang-orang yang tengah dilanda sakit keras.

Ada pula para ulama karena perhatiannya yang begitu besar pada dzikrul maut, mereka membuat sarana yang unik, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita. Seperti Ibnu Sammak Al-Waiz yang menggali sebuah lubang yang bentuknya mirip dengan petak kuburan. Petak lubang kuburan tersebut ia gunakan untuk mengingatkannya kepada kematian dengan cara memasukinya dan membayangkan dirinya sudah berada di liang lahat. Ini menjadi semacam terapi saat dirinya dilanda anemia ruhiyah bernama futur ini.

Bagaimana kiat Anda? [Muchlisin]
Powered by Blogger.