Mengandalkan Kerabat yang Jadi Pejabat


Seorang kawan menceritakan tentang seorang temannya, PNS. Sudah lama ia tidak masuk kerja. Rekan kerja dan atasannya tidak berani menegurnya. Padahal ia sangat diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk di hari-hari itu. Mengapa mereka tidak berani menegur? Karena pegawai itu adalah famili pejabat pemerintah setempat.

Pernah atasannya mencoba memintanya masuk kerja. Ia tidak menjelaskan alasannya mengapa tidak masuk. Ia juga tidak mengatakan di mana ia saat itu. Ia hanya menjawab dengan sms: “Dapat salam dari Pak X” Ia menyebut familinya yang jadi pejabat. Mendapat jawaban seperti itu, atasannya tidak berani bertanya lagi.

Mengandalkan kerabat yang jadi pejabat. Peristiwa itu juga pernah terjadi di masa Umar. Ada seorang laki-laki dari Mesir datang kepada Umar bin Khatab seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, lindungilah aku dari kezaliman!” Umar ra menjawab, “Berlindunglah kepada orang yang bisa melindungi.” Laki-laki tersebut melapor, “Aku telah berlomba dengan putra Amr bin Ash, dan akhirnya mampu mengalahkannya. Ternyata putra Amr mencambukku, kemudian ia berkata, ‘Aku adalah anak orang terhormat’.”

Umar lalu menulis surat kepada Amr, menyuruhnya untuk datang bersama putranya.

Setelah mereka datang, Umar bertanya, “Di mana orang Mesir tadi? Ambillah cemeti dan cambukkan kepada putra Amr!” laki-laki itu pun mencambuknya, dan Umar berkata, “Cambuklah putra orang terhormat!” Orang Mesir itupun mencambuknya. Umar lalu berkata, “Letakkan di atas botak kepala Amr!” Laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, hanya putranya yang mencambukku dan aku telah membalasnya.” Umar lalu berkata kepada Amr, “Sejak kapan engkau memperbudak manusia, sedangkan mereka dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka?” Amr berkata “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak mengetahuinya dan ia tidak datang kepadaku.”

Meskipun tidak sama persis kasusnya, tetapi kedua cerita di atas sama-sama mengandalkan jabatan seseorang sebagai backing dalam melakukan pelanggaran. Bedanya, pada cerita kedua ada pemimpin yang adil dan berani; Umar bin Khattab.

Tentu masih banyak bentuk mengandalkan kerabat yang jadi pejabat selain kasus PNS tadi. Sementara pemimpin yang adil dan berani sangat susah dicari di zaman ini. Maka, pada siapun yang membaca renungan ini, berjanjilah untuk berusaha menjadi pemimpin yang adil dan berani seperti Umar. Kalau tidak, marilah kita berjanji untuk memilih pemimpin yang lebih mendekati karakter itu dan berusaha memenangkannya.
Powered by Blogger.