Air Mata Tak Mematahkan Semangat Juang


Tiga komandan pasukan Islam satu per satu memang jatuh bersimbah darah. Pemimpin-pemimpin di medan perang itu memang telah merengkuh syuhada. Bahkan air mata Rasulullah dan sahabat di Madinah turut menghantar kepergian mereka. Pasukan Islam yang masih tersisa bukannya tak memendam duka. Mereka juga ada yang menitikkan air mata. Tapi perang Muktah belum selesai.

Episode baru dan sejarah kepahlawanan bahkan baru akan dimulai. Melihat pemimpin mereka syahid, pasukan Islam tidak menjadi ciut nyali, apalagi berniat lari. Ini yang tidak dimiliki pasukan lain di muka bumi ini. Ini juga yang ditakuti oleh para ahli strategi militer, termasuk Sun Tzu. Jika pasukan perang berangkat untuk mencari kematian, maka menghadapi mereka adalah dilema. Menang atau kalah sama saja; merugikan secara militer bagi lawannya.

Urgensi kepemimpinan yang telah dipahami pasukan Islam membuat mereka bertindak cepat mengambil keputusan. Harus ada pemimpin baru. Siapa yang layak? Orang yang terbaik! Kullu marhalatin rijaaluha, kullu ghazwatin rijaaluha. Orang itu tidak lain adalah Khalid bin Walid. Pada saat yang sama, di Madinah, Rasulullah bersabda setelah memberitahukan kabar duka kepada sahabat di sana: "Lalu panji Islam dibawa oleh salah satu pedang dari pedang-pedang Allah." Syaifullah. Sejak itu Khalid bin Walid digelari Syaifullah.

Gelar syaifullah bukan semata karena Khalid memimpin pasukan. Begitu Abdullah bin Rawahah syahid, bendera Islam diambil oleh Tsabit bin Arqam lalu diangkat tinggi-tinggi agar kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesitnya, Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera kepadanya. “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.
“Aku tidak pantas memegangnya, Andalah yang lebih berhak, karena Anda lebih tua dan telah menyertai Perang Badar,” jawab Khalid.
“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang dari pada aku, dan demi Allah, aku tidak akan mengambil panji perang ini kecuali untuk aku serahkan kepadamu.”

Akhirnya Khalid menerima. Ia bertarung dengan semangat membaja, keberanian yang luar biasa dan kekuatan yang tak terkira. Ia memainkan pedangnya menebas satu per satu pasukan Romawi yang menghampirinya. Hingga pedangnya patah. Pedang boleh patah, namun semangat juang tak pernah padam. Khalid mengambil pedang yang lain dan meneruskan pertempuran. Hingga pedangnya patah lagi. Mengambil pedang yang lain lagi dan bertarung kembali. Khalid sendiri menceritakan kenangan itu kelak: "Pada perang Muktah, pedangku patah sembilan kali. Hingga yang tersisa tinggal pedang lebar model Yaman."

Khalid bukan hanya kuat. Tapi seorang panglima yang sangat cerdas. Dan peperangan memang tidak hanya mengandalkan kekuatan, melainkan juga kecerdasan; strategi perang. Strategi perang bahkan lebih utama dari kekuatan.

Menghadapi 100.000 orang saat itu memang mustahil untuk menang. Meneruskan peperangan adalah pilihan yang tidak tepat. Akan lebih banyak pasukan Islam yang tumbang. Namun jika pasukan Islam mundur, Romawi justru akan mengejar dan lebih bersemangat menghabisi mereka.

Tapi Khalid punya cara lain. Strategi perang yang bahkan tidak pernah ditulis oleh Sun Tzu. Menyelamatkan pasukan yang tersisa dari 3.000 jumlah semula, namun juga membuat takut Romawi untuk tidak mengejar mereka. Apalagi berpikir untuk menyerang Islam lagi. Khalid dengan cepat mengkomunikasikan strateginya kepada pasukan. Pasukan yang semula di sayap kiri diubah ke sayap kanan. Yang semula di sayap kanan berpindah ke sayap kiri. Pasukan yang di depan pindah ke belakang. Begitu pun sebaliknya. Kini mereka siap berperang.

Pasukan Romawi terkaget-kaget dengan wajah-wajah baru yang dilihatnya. Otak mereka segera memberikan sinyal: telah datang pasukan bantuan! Pada tahap ini saja semangat Romawi telah kalah. Apalagi sepanjang siang pasukan Islam bertempur habis-habisan. Pasukan Romawi semakin ciut nyali. Setelah tahap kedua berhasil dilakukan dengan baik, Khalid menjalankan langkah terakhir. Pasukan Islam ditarik mundur, dengan cara ksatria dan mengundang tanda tanya. Jenderal-jenderal Romawi terbawa pada alur logika perang yang dibentuk Khalid. Hanya ada satu hal dibenak mereka: Jika pasukan Romawi mengejar, berarti masuk dalam jebakan. Akhirnya, mereka pun pulang.

Orang-orang di Madinah yang tidak mengerti strategi perang mencela sikap pasukan Muktah. Dianggap lari dari medan perang; pengecut. Namun Rasulullah justru membenarkan Khalid. Dan dampak strategis dari strategi Khalid ini berefek panjang. Selama bertahun-tahun Romawi tidak pernah berani menyerang Islam.

Semangat, keberanian, kekuatan dan kecerdasan. Semua dimiliki Khalid. Dan begitulah mestinya kader dakwah. Pasukan Muktah memang kehilangan, mereka juga berduka telah kehilangan tiga pemimpinnya. Namun semangat juang tidak boleh patah.

Maka bagi kita yang berkali-kali berduka kehilangan orang-orang terbaik dalam dakwah ini karena panggilan-Nya. Itu tak boleh mematahkan semangat kita. Kita yang hari ini mungkin telah berkali-kali "terluka" dan "kecewa" atas belum tercapainya "target" dan "kemenangan" tak boleh berhenti atau putus asa. Apalagi jika yang menjadi alasan kita adalah masalah-masalah pribadi. Rasanya tidak pantas sama sekali meredupkan semangat dan militansi.

Bolehlah sebagian rijal dakwah pergi memenuhi panggilan-Nya, namun harus selalu ada rijal-rijal baru hasil tarbiyah nukhbawiyah. Bolehlah "pedang-pedang" kita patah, namun semangat tak boleh goyah. [Muchlisin]
Powered by Blogger.