Alam Metafisik dalam Al-Qur'an (2)


Alam Metafisik dalam Al-Qur'an (2) merupakan ceramah Hasan Al-Banna melanjutkan Alam Metafisik dalam Al-Qur'an (1) yang diposting pekan lalu. Sebelum ini telah di dimuat 5 tema cermaah Hasan Al-Banna yang lain, yaitu :
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
3. Manusia dalam Al-Qur'an
4. Wanita dalam Al-Qur'an
5. Alam Semesta dalam Al-Qur'an
Selamat membaca.
***

Al-Qur'an juga berbicara tentang jin, bahkan ada satu surat Al-Qur'an yang khusus membicarakan mereka, yakni surat Jin:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3) وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا (4) وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (5) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6) وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا (7) وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآَنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا (9) وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا (10) وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا (11)

Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan.' (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. Dan bahwasanya orang yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta ter- hadap Allah. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kalian (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mende- ngarkan (berita-berita). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka meng- hendaki kebaikan bagi mereka. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang shalih dan di antara kami ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin: 1-11)

Wahai Akhi, dari ayat-ayat ini Anda mengetahui bahwa jin telah mengatakan tentang diri mereka sendiri bahwa mereka pernah mencuri-curi berita, tetapi kemudian mereka dihalangi dari perbuatan itu; di antara mereka ada yang shalih dan di antara mereka ada pula yang jahat. Mereka juga mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk melakukan suatu perbuatan daripada kemampuan manusia.

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

Ifrit yang cerdik dari golongan jin berkata, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu, sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya." (QS. An-Naml: 39)

Anda juga tahu, wahai Akhi, di kalangan jin terdapat satu golongan setan, yang melakukan godaan terhadap manusia serta menghiasi perbuatan-perbuatan jahat dan maksiat yang membinasakan supaya tampak indah dalam pandangan manusia, sehingga mereka terjerumus ke dalamnya. Adapun hubungan mereka dengan iblis adalah: iblis merupakan pembesar mereka. Al-Qur'an juga menceritakan bahwa bangsa jin mengenal tentang kitab-kitab lama yang diturunkan oleh Allah dan mereka membanding-bandingkan antara kitab-kitab samawi tersebut dengan teliti. Jika Anda memperhatikan kitab Allah SWT wahai Akhi, Anda pasti juga menemukan bahwa ia berbicara tentang Al-MalaulA'la.

مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَى إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang Al-mala'ul A'la ketika mereka berbantah-bantahan. (QS. Shad: 69)

Di antara keadaan Al-Malaul A'la adalah sebagai berikut:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6) وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى (7) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (11) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (12) وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17)

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas dan menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedangkan ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kalian (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di dekat Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. (QS. An-Najm: 1-17)

Anda tahu, wahai Akhi, bahwa di antara alam-alam tersebut terdapat Al-Malaul A'la, yakni Sidratul Muntaha, Arsy, Kursiy, Lauhul Mahfuzh, Baitul Makmur, dan benda-benda lain yang hanya diketahui oleh Allah SWT semata. Kebiasaan Al-Qur'an yang bisa Anda ketahui dan Anda rasakan, wahai Akhi, ketika berbicara tentang alam metafisika ini, ia senantiasa membicarakannya dengan ungkapan yang sangat singkat. Ia tidak memaparkan hakikat-hakikat dari keadaan alam ini, tetapi hanya mengemukakan beberapa kekhususannya. Contohnya, ia tidak menyebutkan bagaimana Allah menciptakan para malaikat dan tidak menyebutkan dari apakah asal usul ruh, tidak pula tentang struktur Al-Mala'ul A'la ini.

Dari sini, wahai Akhi, kita bisa mengambil dua pelajaran. Yang pertama, kita berkewajiban untuk menggunakan adab-adab yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan berhenti sebatas keterangan yang diberikannya. Jika kita hendak melakukan pembahasan mengenai masalah-masalah ini, maka kita tidak boleh melakukan berbagai dugaan dan kita juga tidak boleh membiarkan akal berkelana bebas mengenainya.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (QS. Al- Isra': 36)

Adapun pelajaran kedua, wahai Akhi, adalah sebuah hakikat yang kita ketahui melalui pertanyaan-pertanyaan ini: Mengapa Al-Qur'anul Karim tidak membicarakan alam metafisik ini secara luas dan terperinci? Jawaban pertanyaan ini adalah: Al-Qur'an datang untuk memberikan manfaat, sedangkan kita tidak akan memperoleh manfaat dari keterangan semacam ini. Kita, manusia ini, wahai Akhi, diajak berbicara sesuai dengan bahasa kita dan sesuai dengan kadar pengetahuan dan pemahaman kita. Sedangkan bahasa kita wahai Akhi, hanyalah meliputi apa yang ada, baik secara empiris maupun secara nonempiris, di lingkungan orang-orang yang berbicara dengannya.

Ambillah misal, wahai Akhi, seseorang yang dilahirkan dalam keadaan buta. Kemudian ia ditanya tentang hakikat berbagai benda. Betul bahwa Anda telah memberitahukan berbagai benda itu kepadanya. Tetapi, mana bisa ia memahami penjelasanmu itu? Anda, wahai Akhi, tidak mungkin bisa memahamkannya, karena bahasa adalah penggambaran tentang makna-makna dan benda-benda yang ada di lingkungan pemakainya. Sebagaimana yang telah saya katakan, ini adalah alam metafisika, alam yang tidak terlihat. Artinya, ia adalah alam yang tidak bisa dideteksi dengan indra kita, sehingga mana mungkin bahasa kita bisa menggambarkannya? Tetapi karena kita mempunyai hubungan dan keterkaitan dengan alam ini, maka Al-Qur'anul Karim memberikan isyarat tentang adanya hubungan ini. Orang-orang yang mendapatkan sedikit pengetahuan tentang alam ini, mereka mengetahui sebagian dari aspek-aspeknya dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Para malaikat pernah berkunjung kepada Sayidina Imran bin Hushain ketika beliau sakit. Beliau pernah mengatakan, "Para malaikat mengunjungiku dan menjabat tanganku." Adapun orang-orang yang hidup dalam batas-batas dunianya sendiri, mereka tidak akan bisa mengetahui sedikit pun dari keadaannya. Ia tidak mempunyai tanda-tanda pada diri mereka, tidak juga akal mereka. Kita tidak boleh banyak membicarakan aspek-aspek ini karena kita tidak akan sampai kepada sesuatu apa pun selain perdebatan.

Wahai Akhi, Al-Qur'an telah mengemukakan perkara-perkara khusus yang berkenaan dengan alam metafisika ini. Lantas, bagaimana sikap ilmu pengetahuan yang bersifat materi terhadapnya? Yang terjadi, telah datang beberapa masa kebangkitan umat manusia dalam kurun-kurun yang telah lalu, namun mereka mengingkari sama sekali adanya alam metafisika itu. Mereka tidak percaya kepada ruh, malaikat, jin, dan Al-Malaul A'la.

Mereka menggambarkan kehidupan itu seperti alat mekanik, mereka menggambarkan makan ibarat bahan bakar, darah ibarat uap. Mereka mengatakan, yang terjadi hanyalah rahim yang melahirkan dan bumi yang menelan, dan kita tidak dibinasakan oleh apa pun selain masa.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata, 'Kehidupan kita hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.' (QS. Al-Jaatsiyah: 24)

Perdebatan mengenai ini banyak terjadi di Eropa pada abad ke-I8, pada awal-awal terjadinya revolusi industri yang dibarengi dengan berkembangnya berbagai pemikiran materialisme. Tetapi aliran pemikiran ini berangsur melemah, karena pandangan-pandangannya banyak yang batil, dan karenanya tidak dapat dipertahankan. Mereka segera berpikir dan menyadari bahwa mereka berada di hadapan fenomena-fenomena baru yang sama sekali bukan merupakan fenomena- fenomena materi. Salah satu dari buah penelitian yang mereka peroleh adalah kesadaran. Mereka mulai berbicara tentang fenomena-fenomena nonmateri. Di Universitas Birmingham, pada bulan Juli tahun 1927, mata kuliah tentang psikologi ditetapkan sebagai mata kuliah dasar di perguruan tinggi tersebut. Mereka mulai mengatakan, "Benar, dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu dunia fisik dan dunia metafisik. Kita memang telah berhasil meraih banyak kemajuan di lingkungan alam fisik dan kita telah berhasil memanfaatkan banyak potensinya, dan di hadapan kita masih terbuka banyak pekerjaan yang berat. Namun kita mengakui bahwa ada dunia lain yang tidak terlihat dan kita mengakui bahwa kita baru mencapai bagian awalnya, baru melangkahkan beberapa langkah untuk memahaminya."

Tetapi wahai Akhi, jangan membayangkan bahwa mereka akan segera mengetahui segala-galanya. Mereka akan segera memahami firman Allah SWT,

سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar adanya. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. Fushilat: 53)

Jadi, kitab kita yang mulia ini, wahai Akhi, telah memberikan kelapangan kepada kita sehingga kita tidak perlu berpayah-payah karena dugaan, keraguan, dan kesesatan berpikir. Ia memberitahu kita pokok-pokok pengetahuan yang memadai tentang alam metafisika itu. Ia memberitahu kita tentang apa yang bermanfaat bagi diri kita dan mendiamkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kita. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.