Bukan Tampilan Fisik


Pernah melihat acara Indonesia Mencari Bakat? Di Inggris juga ada acara semacam itu. Salah satu peserta yang tampil waktu itu adalah seorang wanita gemuk, busananya sederhana, dan kelihatan tua sebab usianya memang 47 tahun. Ketika ia memasuki panggung, hampir semua orang yang hadir, termasuk tiga orang jurinya tidak ada yang respek. Pun saat ia memperkenalkan diri. Simon Cowell, salah seorang juri pada hari itu bahkan sempat meledeknya, sekaligus menyangsikan kemampuannya.

Namun ketika peserta wanita ini menyanyi, para juri dan penonton tercengang oleh kualitas suara dan bakat menyanyinya. Banyak penonton yang berdiri memberikan aplaus saat wanita ini mengakhiri lagunya. Seketika, pandangan sinis dan ledekan berubah menjadi tepuk tangan, respek, rasa salut, dan kekaguman. Wanita itu bernama Susan Boyle.

Kita juga sering kali menilai orang dari penampilan fisik semata. Begitu melihat orang, kita semudah itu memberikan penilaian dalam benak kita; hanya dari kesan pertama saat memandang tampilan fisik, bahkan sebelum berkomunikasi dengannya. Maka kelak, kita pun sering kali keliru sebab tampilan fisik itu memang kerap “menipu”. Dan itu kita ketahui setelah lama berinteraksi dengan orang yang telah kita “nilai” sejak awal bertatap muka.

Ada orang yang secara fisik kelihatan sebagai orang terhormat, mulia, memiliki kedudukan tinggi. Namun ternyata waktu membuktikan bahwa ketinggian status sosialnya hanya lipstik yang pada akhirnya tidak mampu menutupi kejahatan-kejahatannya. Ada pula sebaliknya, orang yang secara fisik ndeso, ternyata memiliki ilmu yang luas, kebijaksanaan yang tinggi, dan akhlak mulia. Banyak persangkaan kita yang meleset karena penilaian kita bertumpu pada aspek fisik semata. Seperti kalimat yang dipakai dalam sebuah iklan: disangka lemah padahal kuat, disangka nggak laki padahal jantan.

Fisik tidak boleh menjadi standar kemuliaan seseorang. Hingga Nabi pun mengajarkan kepada para sahabatnya melalui sebuah dialog studi kasus. Suatu saat Nabi SAW bertanya kepada para sahabatnya ketika lewat seorang laki-laki di hadapan mereka. “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para sahabat menjawab, “Menurut kami orang itu termasuk orang yang mulia. Jika meminang, patut diterima pinangannya; jika meminta tolong, patut diberi pertolongan; dan jika berucap, patut untuk kita dengarkan ucapannya.” Mendengar keterangan para sahabatnya itu Nabi SAW hanya diam. Beberapa saat kemudian lewatlah seorang laki-laki lain, dan beliau bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Para sahabat menjawab, “Demi Allah ya Rasulullah, dia termasuk orang yang fakir di kalangan kaum muslimin. Jika dia meminang maka patut untuk tidak diterima pinangannya; jika dia meminta pertolongan, patut tidak ditolong; dan jika berucap, patut untuk tidak didengar ucapannya.” Mendengar jawaban para sahabatnya itu Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kedua tadi sungguh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang sepenuh bumi seperti yang pertama tadi.”

Standar materi yang saat itu masih digunakan sahabat dalam menilai dua orang yang berlalu di hadapan mereka ternyata adalah standar yang tidak seharusnya dipakai lagi saat mereka Islam. Allah telah membuat standar yang sesungguhnya dalam menilai hamba-Nya sendiri; tentang siapa yang lebih mulia dibandingkan selainnya. Standar itu adalah taqwa.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Ibnu Katsir, saat menafsirkan ayat ini, menjelaskan: sesungguhnya kalian berbeda-beda dalam keutamaan di sisi Allah hanyalah dengan ketaqwaan, bukan karena keturunan dan kedudukan (duniawi).

Jadi, bukankah sudah tiba saatnya bagi kita untuk tidak menilai orang berdasar fisik atau materi semata; sekaligus menjadikan diri kita lebih memprioritaskan ketaqwaan melebihi penampilan fisik kita. [Muchlisin]
Powered by Blogger.