Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi


Judul Buku : Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi
Penulis : Hadi Munawar
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Rabiul Awal 1431 H/Maret 2010
Tebal Buku : xxii + 170 halaman


Mihwar muassasi yang saat ini tengah dilalui dakwah bukanlah jalan bebas hambatan. Ada banyak problematika yang muncul pada orbit ini. Mulai dari problem fardi sampai problem jama'i. Seiring derasnya arus mobilitas dan padatnya aktifitas, proses tarbiyah mulai terganggu. Padahal tarbiyah adalah pondasi sekaligus ruh bagi dakwah ini.

Di sinilah perlunya upaya untuk menghidupkan suasana tarbiyah. Sebuah upaya mencurahkan segala aktifitas untuk menguatkan tarbiyah, sehingga problematika masa kini bisa diatasi dan dakwah bisa menyongsong mihwar berikutnya dengan kesiapan yang sempurna. Buku Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi hadir dalam rangka penguatan tarbiyah ini.

Posisi dan Penguatan Tarbiyah
Sebelum menguraikan upaya penghidupan suasana tarbawi, Hadi Munawar terlebih dulu menjelaskan posisi dan penguatan tarbiyah. Bahwa tarbiyah adalah kekuatan inti dakwah yang akan mencetak kader sebagai aset utama dakwah (rashidul harakah). Tarbiyah juga merupakan solusi dari problem umat. Sebagaimana Rasulullah menempuh jala tarbiyah untuk memperbaiki umat jahiliyah menjadi khairu ummah, tarbiyah pada zaman sekarang juga akan mampu menyatukan fikrah dan amal umat Islam sehingga terwujud izzul Islam wal muslimin.

Posisi tarbiyah yang sangat strategis ini telah terbukti mampu mengantarkan dakwah sampai pada mihwar muassasi. Tarbiyah juga menjadi antisipasi dari problem-problem yang timbul pada mihwar yang "diciptakannya" sendiri. Dengan demikian, penguatan tarbiyah akan menjamin keberlangsungan dakwah sekaligus perkembangannya pada arah yang benar. Penguatan ini tergantung pada efektifitas, dinamika, dan produktifitas halaqah, yang peran pentingnya dipegang oleh para murabbi sebagai pengelolanya.

Maka, penguatan tarbiyah berarti penguatan para murabbi dalam mengelola halaqahnya. Upaya menghidupkan suasana tarbawi adalah ketika para murabbi mampu memimpin dan mengarahkan halaqah dalam suasana tarbawi.

Suasana yang perlu ditumbuhkembangkan dan dijaga dalam proses tarbiyah itu meliputi empat hal:
1. Menghidupkan suasana ruhiyah dan ubudiyah (تنمية جو الروحي والتعبدي)
2. Menghidupkan suasana keilmuan dan pemikiran (تنمية جو العلمي والفكري)
3. Menghidupkan suasana pergerakan dan penstrukturan (تنمية جو الحركي والتنظيمي)
4. Menghidupkan suasana rukun-rukun halaqah (تنمية جو أركان الحلقة)

Menghidupkan Suasana Ruhiyah dan Ubudiyah
Suasana tarbawi pertama yang harus dihidupkan adalah suasana ruhiyah dan ubudiyah. Artinya, tarbiyah bertujuan agar mutarabbi memiliki hubungan yang erat dengan Allah SWT dalam bentuk penghambaan yang utuh dan sempurna. Dalam suasana ruhiyah ini, seluruh personil yang terlibat dalam tarbiyah terikat dengan dasar-dasar keimanan, rukun islam dan dasar-dasar syariah. Lalu kader tarbiyah menjaga keikhlasan dan berusaha untuk istiqamah agar komitmen padanya serta membuang semua perilaku yang dapat mengotori dan menyebabkan ringkihnya ruhiyah.

Kader tarbiyah terikat dengan dasar-dasar keimanan berarti mengetahui dengan pemahaman mendalam tentang hakikat keimanan kepada masalah-masalah yang ghaib, yang terangkum dalam 6 rukun iman.

Kader tarbiyah terikat dengan dasar-dasar rukun Islam berarti pelaksanaan rukun Islam dilakukan secara kontinyu, berupaya mendawamkannya sekaligus terikat dan komitmen dengan akhlak islami.

Kader tarbiyah terikat dengan dasar-dasar syariah berarti dalam kehidupannya, ia komitmen dengan sistem atau aturan Allah SWT yang berupa perundangan, peraturan, hukum, dan lain-lain yang termaktub dalam Al-Qur'an dan sunnah.

Menghidupkan Suasana Keilmuan dan Pemikiran
Suasana tarbawi kedua yang perlu ditumbuhkembangkan dalam tarbiyah adalah suasana keilmuan dan ilmiah. Setiap peserta tarbiyah didorong untuk meraih ilmu pengetahuan, melahirkan pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep yang kemudian diwujudkan dalam realita. Di dalamnya dibangun suasana ilmiah dan pemikiran yang aplikatif.

Secara garis besar, sifat keilmuan yang dikembangkan dalam tarbiyah meliputi beberapa aspek, di antaranya wawasan keilmuwan, teoritis, dan konsepsional. Aspek wawasan keilmuan mengarahkan kader tarbiyah untuk menguasai berbagai bidang ilmu keislaman dan ilmu umum (terutama yang menjadi spesialisasinya). Aspek teoritis mengarahkan kader dakwah melahirkan teori-teori baru yang bersifat aplikatif dalam menghadapi masalah keseharian. Bagaimana menjalin relasi, teori bertetangga, teori rumah tangga, dan lain-lain. Aspek konsepsional mengarahkan kader dakwah untuk mampu menguasai konsep Islam dan dengan mudah menjelaskan kepada orang lain sebagai seorang dai dan murabbi.

Menghidupkan Suasana Pergerakan dan Penstrukturan
Suasana tarbawi ketiga yang perlu ditumbuhkembangkan dalam tarbiyah adalah suasana pergerakan dan penstrukturan.

Suasana ini perlu dihidupkan berangkat dari paradigma bahwa tarbiyah memiliki karakter sebagai gerakan yang dinamis (ruhul harakiyyah), aktualisasi dari sebuah jihad yang besar (ruhuh jihadiyah), dan aktualisasi dari sistem yang mapan antara qiyadah dan jundiyah (ruhul jundiyah). Sehingga tarbiyah juga diarahkan untuk mampu mendinamisasi keterlibatan kader dalam gerakan beserta optimalisasi perannya, mampu menghidupkan semangat juang dan militansi kader dalam amal jamai, serta secara proporsional mampu memiliki loyalitas jamaah dan dengan tepat mengaplikasikan konsep Al-Qiyadah wal Jundiyah.

Menghidupkan Suasana Rukun-rukun Halaqah
Suasana tarbawi keempat yang perlu ditumbuhkembangkan dalam tarbiyah adalah suasana rukun-rukun halaqah.

Halaqah sebagai proses awal tarbiyah yang terdiri dari 3 unsur (murabbi, mutarabbi, dan proses tarbiyah) memiliki 3 rukun halaqah: ta'aruf, tafahum, takaful.ketiga rukun ini harus dihidupkan sedini mungkin sehingga halaqah menciptakan perasaan kolektif.

Ta'aruf (yang secara bahasa berarti saling mengenal) bukan sekedar mengenal nama. Namun juga mengenal secara mendalam berbagai aspek identitas dan kepribadian. Mulai nama, pekerjaan, alamat, kecenderungannya, kondisi sosial dan ekonominya, sampai jadwal kerja dan aktifitasnya.

Tafahum (saling memahami) berarti memiliki pengertian mendalam terhadap saudaranya. Dengan pemahaman itu ia dapat berbuat yang terbaik kepada diri dan saudaranya, serta mengambil keputusan tepat saat saudaranya dalam masalah atau meminta solusi dari persoalan yang dihadapinya.

Takaful (saling menanggung beban) diawali dengan saling mencintai, lalau tolong menolong dalam berbagai aktfitas yang membutuhkan kerja keras, saling membela, dan saling gotong royong dalam memikul beban sehingga sebagian kader membawa beban kader yang lain.

Kelebihan Buku Ini
Diantara kelebihan buku Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi ini adalah bahasanya yang mengalir sehingga mudah dipahami. Gaya bahasanya yang "khas tarbiyah" menjadikannya menyentuh hati pembaca. Apalagi pada setiap bahasan tidak hanya dijelaskan secara "konsep" tapi juga disertai contoh aplikatif, baik yang diambilkan dari keteladanan salafusshalih maupun harakah Islamiyah.

Pada bagian akhir, sebanyak 38 halaman, diberikan petunjuk praktis menyususn perencanaan program tarbiyah yang sangat membantu paa dai dalam mengaplikasikan konsep Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi ini. Dalam petunjuk ini juga ada instrumen berbentuk tabel yang memudahkan para murabbi mengukur pencapaian mutarabbinya dan kemudian menganalisa serta melakukan perbaikan terhadap aspek-aspek yang belum tercapai sepenuhnya.

Buku ini juga menjadi buku pengokoh tarbiyah yang baik karena ia masuk sebagai buku ketiga 100 Buku Pengokohan Tarbiyah, yang telah ditashih oleh tim 100 buku yang diketuai oleh Ustadz Cahyadi Takariawan.

Kekurangan Buku Ini
Tiada gading yang tak retak. Pepatah bijak ini tampaknya juga berlaku dalam dunia buku, termasuk untuk buku Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi ini.

Dari 32 hadits yang dicantumkan dalam buku ini, ada 3 hadits dhaif (menurut Al-Albani), yaitu:

1. Pada halaman 43

إنما أتقبل الصلاة ممن تواضع بها لعظمتي ولم يستطل على خلقي ولم يبت مصرا على معصيتي وقطع نهاره في ذكري ورحم المسكين وابن السبيل والأرملة ورحم المصاب

Hadits tersebut dhaif (Silsilah Dhaifah no. 950, Dhaif At-Targhib wa At-Tarhib no. 283)

2. Pada halaman 59

الخلق الحسن يذهب الخطايا كما يذهب الماء الجليد و الخلق السوء يفسد العمل كما يفسد الخل العسل

Al-Albani mengatakan hadits tersebut "dhaif jiddan" (Shahih wa Dhaif Al-Jami'u As-Shaghir no. 6690)

3. Pada halaman 105

لأن يمشي أحدكم مع أخيه في قضاء حاجته أفضل من أن يعتكف في مسجدي هذا شهرين

Al-Albani mengatakan hadits tersebut "dhaif jiddan" (Dhaif At-Targhib wa At-Tarhib no. 1573)

Perlu Dimiliki dan Dibaca Semua Kader Tarbiyah
Akhirnya, buku Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi ini perlu dimiliki dan dibaca oleh seluruh kader tarbiyah terutama para murabbi. Semoga, buku yang menjadi salah satu dari 100 Buku Pengokohan Tarbiyah ini membuat dakwah di bumi nusantara menjadi benar-benar hidup suasana tarbawinya. Amin. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK, MENGHIDUPKAN SUASANA TARBAWI DI MIHWAR MUASSASI BISA DI-DOWNLOAD DI DINI
Powered by Blogger.