Rabiul Akhir Kelabu


Rabiul akhir kali itu menjadi Rabiul Akhir yang kelabu. Bukan karena bulannya; sebab semua bulan adalah baik dalam pandangan Islam. Namun karena pada bulan ini kepemimpinan umat beralih kepada orang yang fasik.

Namanya Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik. Ia mulai menjabat khalifah pada Rabiul Akhir 125 H. Selain tercatat sebagai pemimpin yang kejam dan pelaku homoseks, ia juga pemabuk berat. Kecanduannya terhadap khamr bahkan membuatnya mencanangkan satu keinginan: minum khamr di atas Ka’bah.

Kefasikannya yang melampaui batas ini membuat makin banyak rakyat yang membencinya. Akumulasi dari kebencian meledak menjadi berbagai pemberontakan yang akhirnya berujung pada pembunuhan Al-Walid. Ia terbunuh setelah satu tahun masa pemerintahannya. Tepatnya pada Jumadil Akhir tahun 126 H.

Kefasikan dan kejahatan. Sebelum di akhirat nanti mendapatkan siksaan Allah, selalu ada ‘hukuman’ di dunia ini. Hukuman itu bisa berbentuk hilangnya kedamaian hidup, kesengsaraan pribadi, atau datangnya celaka.

Hilangnya kedamaian karena pada dasarnya segala kefasikan, kemaksiatan, dan kejahatan adalah hal yang bertentangan dengan fitrahnya. Mungkin karena kebiasaan fasik dan maksiat yang sudah mengakar kuat dalam hidup menjadikan seseorang “menikmati” segala hal destruktif yang ia lakukan. Namun suatu waktu, fitrahnya tidak terhalang untuk mengatakan bahwa hal itu keliru. Pada titik ini kegersangan ruhani benar-benar terasa. Kebingungan menguasai. Kebuntuan yang menyesakkan bisa mengantarkannya pada bunuh diri. Seperti yang dialami Kurt Cobain yang bunuh diri, juga pada tanggal ini; 5 April, 16 tahun yang lalu.

Kesengsaraan pribadi juga bentuk hukuman yang tak kalah pedihnya. Itulah yang dialami orang-orang yang tidak sanggup mengendalikan nafsunya, lalu ia yang dikuasi nafsu itu hanya menjadi seperti boneka bagi kebiasaan-kebiasaan buruknya. Kesengsaraan pribadi bisa berwujud hal serupa sebagaimana bentuk ‘dosa’-nya. Seperti banyak orang yang di masa mudanya durhaka kepada orang tua, di hari tuanya ia pun sengsara karena anak-anaknya tidak berbakti padanya. Atau seperti banyak orang yang pernah mengkhianati pernikahannya, ia pun dikhianati orang yang dicintainya. Sama halnya orang yang merugikan orang lain, ia akhirnya dizalimi orang lain pula.

Datangnya celaka saat masih hidup di dunia, menyerupai apa yang terjadi pada Al-Walid di atas. Maka, menjadi percumalah segala kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki. Karena kebencian orang-orang yang dizaliminya menggerakkan mereka untuk mengakhiri riwayatnya. Yang lebih buruk –sebelum yang terburuk di hari pembalasan- adalah catatan “abadi” sejarah yang selalu menceritakan keburukannya: untuk diwaspadai, agar tidak terulang kembali. [Muchlisin]
Powered by Blogger.