Semangat Jihad dan Inovasi


Islam adalah rahmatan lil 'alamin. 'Alamin, semesta alam, tidak terbatas pada jazirah Arab saja. Untuk mewujudkannya, dakwah Islam harus dikumandangkan dan disebar ke seluruh penjuru bumi. Di sini dakwah akan selalu berhadapan dengan penghalangnya; kekuatan politik dan militer. Karenanya, dakwah harus dikawal dengan kekuatan yang setara atau lebih besar untuk memastikan penghalangnya tidak sampai menghentikan laju dakwah. Kekuatan itu tidak lain adalah jihad.

Dari latar belakang ini Sayyid Qutb menjelaskan manhaj jihadnya dalam Fi Zhilalil Qur'an dan Ma'alim fi Ath-Thariq; bahwa jihad itu ofensif, bukan defensif.

Saat kekhilafahan Islam berada di bawah kepemimpinan Utsman bin Affan, mereka dihadapkan pada fakta bahwa jazirah Islam sudah futuh. Namun pekerjaan dakwah sekaligus jihad tidak boleh selesai. Karena wilayah dakwah bukan sekedar jazirah Arab, tapi 'alamin: alam semesta. Umat Islam dihadapkan pada keterbatasan saat itu: laut yang memisahkan mereka dengan wilayah dakwah baru yang hendak dituju.

Laut memang tetap terbentang. Namun ia tidak sanggup menghentikan semangat dakwah. Di sini, hamasah yang ada dalam ruhiyah bertemu dengan inovasi yang berbasis kecerdasan akal. Maka keduanya tidak dapat dibendung untuk melahirkan kapal perang; teknologi jihad maritim yang baru untuk saat itu. Hasilnya, mujahidin-mujahidin pemberani itu diantar ke medan jihadnya dan Islam mulai tersebar di berbagai dunia.

Semangat jihad dan kecerdasan. Yang satu melahirkan keberanian menjalankan misi dakwah, yang lain mendukung keberanian menemukan jalan paling efektif menyelesaikan misi itu.

Kisah Thariq bin Ziyad yang banyak diadopsi dalam buku-buku Barat, termasuk dikisahkan Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich, mungkin kita pahami sebagai kisah besar semangat jihad. Namun ia juga sebuah keputusan cerdas yang melipatgandakan keberanian. Saat tidak ada kemungkinan mundur, maka isy kariman au mut syahidan menjadi pilihan tunggal.

Ketika semangat jihad dan kecerdasan tidak bersatu, hilang salah satunya, maka dakwah Islam menjadi terhambat. Seperti kemajuan ilmu pengetahuan pada daulah Abbasiyah yang tidak diikuti dengan penjagaan semangat jihad. Cordoba dan El-Hambra dibakar. Buku-buku dimusnahkan. Terjadi putus "masa pengetahuan". Peradaban Islam seakan kembali mulai dari nol. Sementara Barat melanjutkan pengetahuan yang telah diserapnya dari buku-buku curian.

Yang lebih parah adalah saat semangat jihad dan kecerdasan hilang dua-duanya. Hasilnya adalah seperti apa yang dialami dunia Islam pada hari ini. Negeri-negeri muslim memiliki militer, namun mereka tidak memiliki keberanian berkata tidak pada hegemoni Barat sekaligus tidak memiliki teknologi perang yang setara untuk memantik keberanian itu.

Semoga, TNI, khususnya angakatan udara yang ber-hari jadi pada hari ini tidak seperti itu. Cukuplah kecelakaan beberapa pesawat TNI menjadi pelajaran yang takkan terulangi. TNI yang mayoritasnya muslim, semoga memiliki semangat jihad karena keislaman dan keimanannya. Bukan karena nasionalisme semata. Semangat jihad ini mungkin belum menemukan momentum terbaiknya saat ini. Namun esok hari, kita berharap, saat negeri ini menjadi Islami, TNI dengan semangat jihad dan inovasinya, siap bergerak membela negeri-negeri muslim mengusir kolonialisme yang masih membelenggu di sana. Atau, mempertahankan negeri ini jika musuh Islam keberatan dengan Islam yang ditegakkan.

Selamat hari TNI Angkatan Udara. [Muchlisin]
Powered by Blogger.