Tak Kuasa Membendung Hidayah


Orang-orang kafir bisa saja membuat stigma negatif terhadap Islam melalui media yang mereka punya. Tapi orang-orang kafir itu tidak mungkin bisa memaksa hati manusia untuk memusuhi atau membenci Islam.

Musuh-musuh Islam bisa saja menyerang negeri-negeri muslim yang telah terluka serta meluluhlantakkan gedung dan bangunan di sana. Tapi mereka tak akan sanggup untuk menghalangi hidayah Allah kepada orang-orang yang dipilih-Nya.

Amerika dan Inggris bisa saja menghujani Afghanistan dan Irak dengan bom dan rudal-rudal mereka. Jumlah muslim berkurang karena syahid. Tetapi mereka tak bisa menahan laju jumlah muslim di negerinya yang setiap hari bertambah, setiap hari ada saja mualaf yang mengikrarkan syahadat, kemudian masjid-masjid pun menjadi lebih ramai dan semarak.

Di Amerika Serikat, makar pemerintahnya telah dibalas –mungkin sebagiannya- oleh Allah. Di saat mereka mengkampanyekan perang terhadap teroris sebagai ”bungkus” agenda perang terhadap Islam, warganya justru penasaran dengan yang namanya Islam. Bagaimana mungkin Muhammad yang oleh Michael H. Hart dinobatkan sebagai orang paling berpengaruh sedunia, justru agamanya mengajarkan teroris. Keingintahuan itu tidak terbendung. Namun mereka adalah kaum terpelajar dan terbiasa dengan tradisi ilmiah. Data akan lebih valid jika diambil dari sumber primer. Mereka pun mencari Al-Qur’an. Membeli Al-Qur’an. Membacanya, mengkajinya. Dan, subhaanallah, ketenangan fitrah bertemu dengan kepuasan akal. Buahnya adalah syahadat. Berbondong-bondong mereka masuk Islam.

Di Inggris juga begitu. Perkembangan Islam tergolong pesat. Pertumbuhannya mencapai 12.1% per tahun. Jumlah masjidnya saja meningkat dari 7 buah pada tahun 1961 menjadi 1.700 buah saat ini. Belum termasuk gereja yang sudah beralih fungsi menjadi masjid.

Benarlah hadits Nabi bahwa ketika Allah memberikan hidayah kepada hamba-Nya, maka tidak ada yang sanggup menghalanginya, tiada yang kuasa menyesatkannya.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ

Siapa yang diberi hidayah oleh Allah, tiada yang mampu menyesatkannya (HR. Abu Dawud, shahih menurut Al-Albani)

Bahkan orang-orang yang masuk Islam karena pencarian dan kesadaran internal mereka, biasanya lebih kuat dalam mempertahankan hidayah yang telah diperolehnya. Seperti Saad bin Abi Waqas saat menghadapi tantangan dari ibunya. “Hai Saad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya.” ancam ibunya agar keimanan Saad goyah.

Namun apa jawaban Sa'ad? “Jangan lakukan itu, Bu! Tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku biar bagaimanapun.”

Ibunya memaksa untuk mogok makan. Namun keteguhan Sa'ad jauh lebih kokoh dari pada ancaman ibunya. Maka sejarah pun mengabadikan kata-kata Sa'ad: “Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya.” Akhirnya si ibu menyerah dan mau makan.

Rao juga bisa menjadi contoh. Sebagai pemuda Hindu di India, yang dibesarkan dan dididik dengan ajaran Hindu sejak kecil. ia sangat membenci Islam. Ia biasa memutar musik keras-keras saat adzan berkumandang. Kebenciannya semakin menjadi saat ibu dan adiknya yang bekerja di perusahaan milik muslim bercerita kebaikan muslim itu dan memujinya. Rao bertekad membuktikan Islam salah dan kebaikan muslim hanya topeng. Ia buka Al-Qur'an, ia pelajari, tetapi justru ia mendapatkan hidayah.

Pertanyaannya selama ini terjawab oleh Al-Qur'an. Keraguan jiwanya sepanjang waktu telah terobati dengan Al-Qur'an. Hidayah masuk ke dalam jiwanya. Ia pun masuk Islam dan kemudian menjadi pemuda yang sangat aktif mendakwahkan Islam. Namanya menjadi Umar Rao.

Semoga perkembangan Islam dan fenomena hidayah yang tak kuasa dibendung ini menjadikan keislaman kita lebih kuat. Sekaligus semangat dakwah kita lebih menyala. Tugas kita hanya berdakwah, meyampaikan dan biarlah Allah yang memilih hamba-hamba terbaiknya.

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 272)

Satu yang pasti: saat hidayah itu datang, tak ada kekuatan apapun yang kuasa membendungnya. [Muchlisin]
Powered by Blogger.