Ternyata Dia Ikhwah


Ini pengalaman seorang pemilik counter pulsa pada pekan ini. Sesudah magrib, ada seorang pemuda yang datang untuk mengisi pulsa. Karena tidak ada voucher seperti yang ia inginkan, pemuda ini mengiyakan ketika pemilik counter menawarkan pulsa eletrik.

”Kok belum masuk ya Pak?” tanya pemuda ini pada pemilik counter setelah menunggu beberapa menit.
”Tunggu sebentar lagi, Mas.”
Benar. Kurang dari 5 menit kemudian HP pemuda tadi bergetar. Sebuah pesan masuk. ”Pulsa Anda bertambah Rp. 50.000” demikian isi SMS tersebut.

Malam harinya, pukul 23.00, pemilik counter dikejutkan oleh SMS baru. Ternyata pulsanya berkurang lagi. ”Berarti dobel tadi waktu aku melayani isi pulsa.” Bisa dibayangkan bagaimana perubahan raut wajah pemilik counter ini. Counternya kecil, sederhana. Keuntungan dari pulsa tidak seberapa jika harus dibandingkan dengan kerugiannya Rp. 50.000. ”Besuk pagi kutelepon pemuda itu.” begitu rencananya sebelum tidur.

Esoknya, ia telpon nomor pemuda yang dimaksud. ”Mas, ini dari counter X, Mas kemarin yang isi pulsa di counter saya ya?”
”Iya”
”Itu pulsanya kedobelan Mas”
”Oo... saya belum ngecek Pa. Coba saya cek pulsa dulu ya.”

Karena sibuk, pemilik counter tidak tahu bahwa pemuda tadi telah menelepon balik. Ia tahunya setelah membuka HP dan ada panggilan tak terjawab. Dari pemuda tadi. Ia pun menelepon langsung.
”Bagaimana Mas?”
”Iya, Pak. Pulsanya dobel. Terus bagaimana saya mengembalikannya, cara mentransfernya, atau saya ke counter Bapak nanti ya?” pemuda tadi berjanji datang.

Sekitar pukul 11 pemuda tadi benar-benar ke counter. Ia membawa Hpnya. ”Ini Pak. Bagaimana cara mentransfer kembali pulsanya Pak?”
”Tidak bisa ditransfer Mas.”
”Terus bagaimana Pak?”
”Ya, Mas bayar kapan-kapan saja nggak papa. Itu kesalahan saya”
”Tidak Pak. Saya bayar sekarang saja kalau begitu.”
”Alhamdulillah... untung pemuda itu jujur dan mau membayar” pemilik counter bersyukur dalam hati saat pemuda tadi sudah pergi. Ia perhatikan pemuda tadi, ternyata ia masuk ker rumah peduli. ”Oo.. ternyata dia aktifis dakwah. Ikhwah” Pemilik counter pun menjadi semakin percaya pada dakwah.

Kader dakwah adalah media utama dakwah (I’lam asasi). Ketika kader dakwah melakukan kebaikan-kebaikan dalam rangka memenuhi perintah Allah, tanpa diminta pun ia sudah memberikan pencitraan yang baik bagi dakwah. Saat kader dakwah berlaku jujur sebagai implementasi Islam yang ia yakini, tanpa dipublikasikan pun, itu sudah menjadi catatan positif masyarakat yang mengetahuinya. Ketika kader dakwah beramal, pada waktu yang sama sesungguhnya ia menebar aroma harum Islam di medan di mana ia berada.

Masyarakat juga tidak buta. Banyak dari mereka yang memiliki nurani bersih. Mereka adalah para penilai yang hebat. Saat mereka melihat kebaikan seseorang, ia segera mengaitkannya dengan institusi atau atribut yang dipakai orang itu. Maka kebaikan kader dakwah akan menjadi tabungan citra positif dalam benak masyarakat. Sementara kesalahan dan kejelekan kader dakwah menjadi semacam kredit yang mengurangi citra itu, menggerusnya, bahkan bisa mengubahnya menjadi stigma negatif. Jika demikian yang terjadi, sungguh masa depan dakwah akan suram.

Apa yang dilakukan pemuda tadi, yang ternyata adalah ikhwah, sebenarnya bukan hal yang aneh dalam komunitas dakwah. Tapi bagi orang umum seperti pemilik counter di atas, hal itu adalah sesuatu yang langka. Jarang orang jujur saat ini, dalam perspektifnya. Maka begitu tahu ia adalah ikhwah, kepercayaannya semakin besar pada dakwah. Kita, sudahkah berupaya selalu melakukan ibadah dan amal shalih? Jika itu kita lakukan tanpa menghiraukan orang lain, sesungguhnya kita telah menanam citra yang positif bagi dakwah. [Muchlisin]
Powered by Blogger.