Tiada Persahabatan Hakiki Melebihi Ukhuwah Imaniyah


Hari ini, 128 tahun yang lalu. Mereka bertiga masih asyik menikmati sarapan, dalam keakbaran. Profesi yang mereka jalani sampai hari itu memang mensaratkan kekompakan tim yang tinggi. Dan seperti itulah tampaknya hubungan mereka; dalam pandangan mata.

Tiga orang itu adalah Jesse Woodson James (Jesse James), Robert Newton Ford (Robert Ford), dan Charley Ford. Mereka tergabung dalam Geng James-Younger, geng perampok terkenal di Amerika Serikat saat itu. Jesse James yang menjadi ketua geng, usianya baru 34 tahun. Namun ia menjadi orang yang paling dicari oleh pemerintah setempat, sampai-sampai disediakan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkapnya, hidup atau mati.

Selesai sarapan, mereka bersiap merampok lagi. Karena udara yang panas, setelah menyiapkan kuda James melucuti mantelnya serta meninggalkan senjatanya. Ia beralasan agar tidak menimbulkan kecurigaan pada operasi kali ini. Namun, tanpa disadari James, Robert Ford sudah menembak kepala belakangnya. 3 April 1882 dicatat sejarah sebagai hari kematian penjahat terkenal Jesse James, justru ditembak oleh kawannya sendiri yang tergiur hadiah. Pengkhianatan mengakhiri persahabatan mereka.

Persahabatan, persaudaraan, ikatan pertemanan, atau hubungan apapun sebenarnya adalah ikatan yang rapuh; selama tidak didasari keimanan. Secara lahiriah memang kadang terlihat keakraban, terkesan persatuan dan kerukunan, namun pada hakikatnya ikatan seperti itu sangat lemah. Hati mereka berpecah belah. Persis seperti kabar langit: “Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah…” (QS. Al-Hasyr : 14)

Sayyid Qutb saat menjelaskan ayat ini dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengungkap sebab keterpecahan mereka: “Hal ini terjadi ketika perbedaan kepentingan dan pertentangan ambisi terjadi, sehingga berbenturan tujuan dan arah perjuangan”

Maka, tanpa iman, terjadilah pengkhianatan mengakhiri persahabatan seperti yang dilakukan Robert Ford pada Jesse James. Tanpa iman, berakhirlah hubungan persahabatan yang lama terjalin karena wanita, seperti yang terjadi pada Farris Rahal dan Nabih Malik yang dikisahkan Kahlil Gibran dalam “Racun Bermadu”. Tanpa iman, berakhirlah hubungan suami istri karena perselingkuhan. Bahkan tanpa iman, ikatan keluarga tidak lagi penting karena berebut warisan.

Sebaliknya, ikatan terkuat adalah ikatan keimanan. Ikatan aqidah. Inilah ikatan yang akan tetap kokoh; apapun rintangan yang berupaya mematahkannya. Inilah ikatan yang tidak akan terputus karena masalah-masalah materi. Inilah ikatan yang hakiki, sekaligus abadi. Karena ikatan ini akan terus tersambung di kahirat nanti.

Seperti ikatan yang dikukuhkan Rasulullah saat tiba di Madinah. Ukhuwan imaniyah antara muhajirin dan Ansar. Persaudaraan Abdurrahman bin Auf dan Said bin Rabi’ pun mengabadi dalam lembar sejarah, dan dikisahkan hingga kini. Hanya karena iman, Said bin Rabi’ merelakan separuh hartanya dan seorang istrinya untuk Abdurrahman. Namun karena iman juga Abdurrahman menolak itu dan hanya minta satu hal: tunjukkan di mana pasar Madinah!

Ikatan darah bahkan tidak sanggup dibandingkan dengan ikatan keimanan ini. Karenanya Allah mengingatkan hakikat kekerabatan dalam agama-Nya ketika Nuh berharap anaknya juga diselamatkan dari banjir besar kala itu: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu” (QS. Hud : 46)

Maka, marilah kita periksa satu per satu hubungan yang telah kita bangun saat ini. Ikatan yang kita berafiliasi saat ini. Jika bukan ikatan iman, jika bukan ukhuwah imaniyah: ubah, jika tidak bisa, hati-hatilah! [Muchlisin]
Powered by Blogger.