As-Su'ar (Sisa Minuman) 2


Rubrik Fiqih hari ini adalah bagian terakhir dari As-Su'ar (Sisa Minuman) yang merupakan kelanjutan bahasan pekan lalu. Kali ini yang dibahas adalah sisa minuman bagal, keledai dan binatang buas, kemudian sisa minuman kucing, serta yang terakhir sisa minuman anjing dan babi. Selamat membaca.

3. Sisa Minuman Bagal, Keledai, Binatang Buas dan Burung Buas

Ia juga suci karena berdasarkan hadits Jabir r.a.:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ أَنَتَوَضَّأُ بِمَا أَفْضَلَتِ الْحُمُرُ؟ قَالَ : نَعَمْ وَبِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ

Nabi SAW pernah ditanya, "Bolehkah kita berwudhu dengan sisa minuman keledai?" Jawab Nabi SAW, "Boleh! Demikian pula dengan sisa minuman semua binatang buas." (HR. Daruquthni, Baihaqi, dan Syafi'i. Baihaqi berkata "hadits ini mempunyai sanad yang bila dihimpun sebagan dengan lainnya maka akan menjadi kuat)

Umar r.a. berkata :

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَسَارَ لَيْلاً فَمَرُّوا عَلَى رَجُلٍ جَالِسٍ عِنْدَ مَقْرَاةٍ لَهُ فَقَالَ عُمَرُ يَا صَاحِبَ الْمَقْرَاةِ أَوَلَغَتِ السِّبَاعُ اللَّيْلَةَ فِى مَقْرَاتِكَ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « يَا صَاحِبَ الْمَقْرَاةِ لاَ تُخْبِرْهُ هَذَا مُكَلَّفٌ لَهَا مَا حَمَلَتْ فِى بُطُونِهَا وَلَنَا مَا بَقِىَ شَرَابٌ وَطَهُورٌ

Dalam salah satu perjalanan, Nabi SAW berangkat pada waktu malam. Rombongan itu melewati seorang laki-laki yang sedang duduk dekat kolamnya. Umar pun bertanya padanya, "Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu pada malam ini?" Nabi SAW bersabda, "Hai pemilik kolam, jangan hiraukan pertanyaannya itu. Itu keterlaluan! Yang masuk ke perut binatang, maka itu adalah rezekinya, sedangkan yang tersisa, maka ia menjadi minuman kita dan suci lagi menyucikan." (HR. Daruquthni)

عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ فِى رَكْبٍ فِيهِمْ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ حَتَّى وَرَدُوا حَوْضًا فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لِصَاحِبِ الْحَوْضِ يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ هَلْ تَرِدُ حَوْضَكَ السِّبَاعُ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ لاَ تُخْبِرْنَا فَإِنَّا نَرِدُ عَلَى السِّبَاعِ وَتَرِدُ عَلَيْنَا

Dari Yahya bin Abdurrahman bin Haatib bahwa Umar pergi bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Amr bin Ash, hingga sampailah mereka di sebuah kolam. Amr bertanya, "hai pemilik kolam, apakah kolam ini pernah didatangi binatang buas untuk minum?" Umar berkata, "Tidak usah dijawab pertanyaan itu, karena kita boleh minum di tempat minumnya binatang buas. Sebaliknya, binatang pun juga boleh minum di tempat kita." (HR. Malik dalam Al-muwaththa')

4. Sisa Minuman Kucing


Sisa minuman kucing adalah suci berdasarkan hadits Kabsyah binti ka'ab yang tinggal bersama Abu Qatadah bahwa pada suatu ketika Abu Qatadah masuk ke dalam rumah. Kemudian Kabsyah menyediakan air minum untuknya. Tiba-tiba datang seekor kucing yang meminum air itu dan Abu Qatadah pun memiringkan mangkok hingga binatang itu dapat meminumnya.

Ketika Abu Qatadah melihat Kabsyah memperhatikan tindakannya, ia pun bertanya, "Apakah engkau tercengang wahai anak saudaraku?" "Benar," jawabnya. Abu Qatadah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Kucing itu tidak najis. Ia termasuk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu. (HR. Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, Daruquthni)

5. Sisa Minuman Anjing dan Babi


Air sisa minuman anjing dan babi adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai hukum najis sisa air minum anjing ialah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurarirah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda:

إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا

Bila anjing minum pada bejana salah seorang diantaramu, hendaklah tempat bekas minum itu dicuci sebanyak tujuh kali.

Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Membersihkan bejana salah seorang kamu bila dijilat anjing ialah dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali; dan cucian yang pertama kali mestilah dengan tanah.

Demikian pula sisa minuman babi, yaitu dihukumkan najis karena kotor, menjijikkan, dan berdasarkan nash-nash Al-Qur'an yang sudah jelas. [Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
Powered by Blogger.