Berpacu dengan Fajar


“Lelaki-lelaki Palestina”, kata seorang dokter sepulang dari Gaza, “mereka memenuhi shaf-shaf Masjid saat shalat Subuh seramai kita saat shalat Maghrib.” Itu salah satu keunggulan muslim Gaza yang disaksikan langsung olehnya saat ditugaskan BSMI pada awal 2009 lalu.

Meskipun hampir tiap hari terdengar suara tembakan, mereka tidak takut jika darah tertumpah. Maka begitu mendengar adzan, kaki-kaki mereka segera melangkah. Meskipun malam-malam itu langit menyala oleh roket dan peluru, lelaki-lelaki Palestina telah bermunajat kepada Rabb-Nya sebelum fajar tiba. Maka saat fajar adalah saat mereka memasuki masjid-masjid untuk meraih pahala besar.

Mereka berpacu dengan fajar. Tak mau kalah olehnya. Sebagaimana seorang kekasih yang tak mau belaian jiwanya menunggu. Atau seorang ksatria yang tak rela kehilangan medan perangnya. Cahaya masjid pun berpadu dengan keindahan tilawah para imam dan gemuruhnya “amin” para jama’ah. Sesaat setelah fajar. Di kala para Yahudi masih terlelap namun jiwa-jiwa mereka terguncang kegelisahan. Seperti resonansi yang menggetarkan.

Maka tak heran jika Allah memberi muslim Gaza kemenangan. Kemenangan yang mengherankan. Sebab akhir 2008 itu adalah perang tidak seimbang. Jumlah tentara maupun senjata. Bahkan Israel meng-uji coba-kan dua senjata barunya di sana: bom fosfor dan gelautine. Toh, Gaza tetap bertahan dan meraih kemenangan. Di atas strategi militer dan keberanian Izzuddin Al-Qassam, pertolongan Allah banyak diturunkan. Muhammad Lili Nur Aulia mencatat setidaknya ada 21 karamah Allah di Gaza dalam bukunya: Dari Jalur Gaza Ayat-ayat Allah Berbicara. Mereka berpacu dengan fajar. Mereka menang. Lalu Allah memberikan pertolongan.

Bagaimana dengan kita? Tidak usahlah jika kau bandingkan dengan orang-orang umum muslim Indonesia. Masjid-masjid kita saat Subuh sepi. Itu pasti. Kecuali masjid-masjid tertentu yang “bisa dihitung dengan jari”.

Bandingkan saja mereka, para ikhwan Palestina itu, dengan kita yang mengaku aktifis dakwah. Tidak usah malu-malu. Lihatlah buku mutaba’ah. Itu yang paling mudah. Adakah diantara kita, atau kader-kader dakwah dalam grup kita, yang istiqamah menuliskan angka 35? Sulit mendapatkannya.

Lebih parah lagi jika absen shalat jama’ahnya paling sering di dua waktu: subuh dan isya’. Khawatirlah jika kita tergolong munafik karena itu adalah sebagian karakternya. “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik”, sabda Rasulullah, “adalah shalat isya’ dan subuh. Jika mereka mengetahui besarnya pahala yang terdapat di dalam shalat isya’ dan Subuh, maka sungguh mereka akan mendatanginya (ke masjid) walau harus berjalan merangkak. Sungguh aku berniat untuk memerintahkan shalat, lalu dikumandangkan iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk menggantikanku mengimami shalat, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju kaum yang tidak datang shalat lalu aku membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari – Muslim)

Ibnu Mas’ud memberikan kesaksiannya mempertegas hadits Nabi ini: “Sungguh kami tidak melihat ada orang yang absen shalat (berjamaah di masjid) kecuali orang munafik yang benar-benar telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sedang sakit. Adapun orang yang sedang sakit, maka ia akan berusaha berjalan walau dengan terseok sehingga ia bisa menunaikan shalat (di masjid).” Hal yang kurang lebih sama disaksikan dokter BSMI di Gaza. Mereka yang tidak berjamaah Subuh di Masjid adalah mereka yang tidak ikut berperang atau melawan Israel namun malah mengkhianati Palestina dengan menjadi kaki tangan Israel.

Pertolongan dan kemenangan dari Allah dianugerahkan kepada orang-orang yang menjaga shalat jama’ahnya. Jika muslim Gaza telah membuktikannya, itu hanyalah pengulangan dari berbagai generasi pendahulunya. Jika kita bertanya mengapa salafus shalih menjadi generasi pemenangan Islam bahkan khairu ummah? Diantaranya karena mereka menjaga shalat jama’ahnya. Dengarlah –lalu heran atau kagumlah- perkataan Said bin Musayyab yang ditulis Syaikh Ahmad Farid dalam kitab Min A’lam As-Salaf: “Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama’ah, karena aku selalu berada di shaf pertama selama 50 tahun itu”

50 tahun Said bin Musayyab berpacu dengan fajar dan menang. Dalam kondisi perang lelaki-lelaki Palestina berpacu dengan fajar dan menang. Kita? Semoga lebih baik dari sebelumnya. [Muchlisin]
Powered by Blogger.