Kerisauan Seorang Salman


Salman Al-Farisi pernah menangis saat sakit di akhir usianya. Sa'ad yang saat itu menjenguk bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai saudaraku? Bukankah engkau pernah menemani Rasulullah? Bukankah engkau begini dan begitu?"

Salman menjawab, "Tidaklah aku menangis karena salah satu dari dua hal. Aku tidak menangis karena sakit. Dan tidak pula karena membenci akhirat. Tetapi Rasulullah pernah mengamanatkan sebuah amanat kepadaku hingga tidaklah aku melihat kecuali aku tidak melakukannya."

"Apakah yang beliau amanatkan kepadamu?" tanya Sa'ad dengan heran. Bagaimana mungkin Salman Al-Farisi yang demikian zuhud dan luar biasa tidak mampu menjalankan amanat itu. "Beliau mengamanatkan bahwa hendaklah seorang diantara kalian (menjadi) seperti perbekalan orang yang hendak pergi. Tidaklah diperlihatkan kepadaku kecuali aku telah melampaui batas" jawab Salman.

Itulah Salman. Sahabat yang berprestasi saat menjadi jundi dan pemberi qudwah saat menjadi qiyadah. Ia telah memimpin dengan cinta. Ia telah menyerahkan seluruh gajinya ke baitul mal. Ia tidak pernah memegang uang lebih dari 3 dirham setiap harinya. Hanya 1 dirham untuk makan, 1 dirham disedekahkan, dan 1 dirham untuk modal esok. Adakah yang lebih sederhana dari itu? Namun Salman tetap risau. Ia khawatir bahwa ia telah berlebih-lebihan.

Sikap ini tidak hanya dimiliki oleh Salman. Generasi sahabat adalah generasi zuhud dan wara' serupa itu. Tidak peduli apakah mereka tergolong miskin seperti para ahlu suffah ataukah kaya seperti Usman. Seperti Salman, Usman juga menangis di akhir hayatnya. "Ada sahabat Rasulullah SAW yang jauh lebih baik dariku, yaitu Mus’ab bin Umair, yang ketika wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun juga. Ia bahkan tidak punya cukup kain kafan untuk menutupi jasadnya, hingga jika kepalanya ditutup maka kakinya terbuka, jika kakinya ditutup maka kepalanya terbuka. Lalu apa artinya bahwa mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah ini sementara mereka tidak?? Tidakkah kekayaan ini malah akan mengantarkan aku ke neraka??" demikian kata-kata dalam isaknya.

Kehidupan kita hari ini jauh lebih mewah daripada jalan yang dipilih Salman. Kalaupun tidak sekaya Usman, kita pun lebih menikmati dunia darinya. Dan pastinya kita belum berinfaq sebanyak Usman atau sehebat Salman.

Lalu mengapa belum ada kerisauan seperti yang dirasakan Salman? Bukankah kita lebih dekat dengan sikap berlebih-lebihan? Bukankah kita jauh lebih mengabaikan amanat Rasulullah itu? Rupanya bukan hanya sikap zuhud dan wara' yang tidak bisa kita miliki, bahkan kita cenderung tidak tahu diri. Merasa aman-aman saja, dan tidak ada masalah. Inilah masalah terbesarnya.

Tanpa kesadaran itu kita akan lebih mudah tertipu. Lebih jauh terperosok dalam jurang dosa, lebih jauh terperangkap dalam belantara maksiat. Hingga sakaratul maut membelalakkan mata kita. Hingga alam barzakh menyentakkan jiwa kita. Saat dua malaikat telah hadir dengan segala pertanyannya...

Salman mengajarkan kepada kita, sebagaimana ia mengajarkannya kepada Sa'ad. Lanjutan dari dialog yang diriwayatkan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani tersebut menunjukkan bagaimana nasehat Salman: "Adapun kamu wahai Sa'ad, takutlah kamu kepada Allah terhadap keputusanmu ketika kamu memutuskan, atau pembagianmu ketika kamu membagikan, dan dalam keinginanmu ketika kamu menginginkan."

Di akhir hadits itu disebutkan bagaimana sikap Sa'ad selanjutnya. Ketika ia meninggal, ia hanya memiliki kekayaan 20 dirham.

Kita? Maukah mengambil pelajaran darinya? [Muchlisin]
Powered by Blogger.