Risalah Umum dalam Kitab Allah (1)


Setelah selesai tema Hak-hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an, Hasan Al-Banna melanjutkan Haditsu Tsulatsa dengan tema Risalah Umum dalam Kitab Allah. Sebelumnya, Ceramah Hasan Al-Banna telah membahas beberapa tema, yaitu:
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
3. Manusia dalam Al-Qur'an
4. Wanita dalam Al-Qur'an
5. Alam Semesta dalam Al-Qur'an
6. Alam Metafisik dalam Al-Qur'an
Selamat membaca.
***

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan yang mulia, tema pembicaraan kita pada malam hari ini adalah risalah-risalah umum dalam kitab Allah SWT. Tema ini merupakan serial yang memiliki beberapa rangkaian. Saya memohon kepada Allah SWT. agar kiranya bisa melakukan pembicaraan dan kajian mengenainya. Karena dalam kajian-kajian ini saya berprinsip untuk tidak bertele-tele dalam pembahasan, hanya membahas permasalahan- permasalahan pokok, dan memberikan pengarahan-pengarahan mendasar saja kepada para Ikhwan guna memahami kitab Rabb kita. Demikianlah, saya berharap semoga saya diberi taufiq oleh Allah SWT untuk membatasi gambaran mendasar mengenai risalah-risalah umum dalam kitab-Nya.

Ikhwan sekalian, Al-Qur'anul Karim adalah kitab yang membawa risalah. Bahkan, ia adalah risalah itu sendiri. Allah SWT berfirman,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya orang- orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.
(QS. Shad: 29)

Jelas, Al-Qur'an telah memaparkan contoh-contoh mengenai risalah para rasul terdahulu, karena ia datang untuk membenarkannya dan mengakui banyak di antara hukum-hukumnya. Bahkan dalam masalah- masalah Islam yang prinsipil dan mendasar, ia sama dengan risalah- risalah para nabi sebelumnya. Allah SWT berfirman,

Dan Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Maidah: 48)

Di ayat lain Allah SWT berfirman,

Dia menurunkan Al-Kitab (Al- Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil; sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4)

Jadi, kitab Allah SWT membenarkan risalah-risalah yang turun sebelumnya. Tidak diragukan bahwa dikemukakannya risalah-risalah tersebut bertujuan untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat bagi manusia dan peringatan bagi mereka tentang prinsip-prinsip risalah mereka sendiri. Ikhwan sekalian, inilah salah satu faktor mengapa Al- Qur'anul Karim juga mengemukakan risalah-risalah terdahulu.

Dari sudut pandang lain, Ikhwan sekalian, kita bisa melihat bahwa misi-misi spiritual yang bersifat umum adalah misi yang menimbulkan pengaruh paling kuat pada kebangkitan bangsa-bangsa terdahulu. Tidak ada satu umat pun yang mengalami perubahan dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, dari satu keadaan ke keadaan lain, kecuali hal itu disebabkan oleh misi spiritual yang berhubungan dengan hati dan jiwa manusia yang mempengaruhi hati dan jiwa mereka. Jika demikian, sebenarnya jasmani, kekuatan, dan potensi yang dimiliki manusia tidak lain diarahkan untuk mewujudkan kekuatan-kekuatan spiritual yang mereka yakini. Hanya misi-misi spiritual inilah yang telah mengubah wajah sejarah dalam kehidupan berbagai macam bangsa, bukan perbaikian-perbaikan administratif, bukan teori-teori filsafat.

Hakikat-hakikat dan produk-produk ilmiah saja juga tidak mengubah kondisi bangsa-bangsa dan tidak menjadi sarana kebangkitannya, namun misi spirituallah sesungguhnya yang membawa suatu bangsa dari satu kondisi kepada kondisi yang lain, dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, dan dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain. Karena itu, risalah ketuhanan adalah misi kemanusiaan yang paling nyata dalam membangun kebangkitan bangsa-bangsa. Ikhwan tercinta. Dalam kehidupannya, manusia berjalan dengan diterangi oleh cahaya akal dan ruh. Cahaya ini sendiri sangat terbatas dan lemah, tidak mengetahui semua hakikat. Jika ia bisa mengetahui sebagian dari hakikat-hakikat itu, ia tetap tidak bisa mengetahui seluruh spesifikasinya. Selain itu ia sangat terbatas, dalam artian tidak bisa menilai secara benar hakikat segala sesuatu, khususnya bila sesuatu itu jauh dari dirinya. Karena itu, merupakan rahmat Allah SWT bahwa Dia membantu akal ini dengan wahyu, nabi, dan risalah. Secara silih berganti wahyu turun dan para rasul membawa pelita kepada umat manusia untuk mengantarkan mereka dari satu fase ke fase yang lain dengan bimbingan, petunjuk, dan taufiq yang terjaga dari kesalahan. Selain itu, risalah ketuhanan memiliki keistimewaannya dengan dua hal,

Pertama, ia mempunyai pengaruh lebih mendalam pada jiwa manusia dan lainnya.
Kedua, ia terjaga dari kesalahan, karena wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahaahli, bukan berasal dari karya akal manusia yang terbatas. Karena itu, ia merupakan rahmat dari Allah swt. kepada akal manusia.

Wahai Akhi, sekarang, setelah pengantar ini, kita melontarkan suatu pertanyaan, “Apakah risalah atau misi umum yang dibawa oleh Al-Qur'anul Karim itu?" Jika Anda ingin mengetahui risalah-risalah ini, maka Anda harus mengenal mereka yang telah mengembannya selama ini. Orang-orang yang mengemban risalah-risalah ini adalah para nabi dan rasul Allah SWT yang diutus kepada umat manusia. Dalam Al-Qur'anul Karim sering disebutkan 25 nama para rasul. Allah SWT telah berkisah tentang sebagian dari risalah ini dan menyimpan sebagian lainnya. Allah SWT berfirman,

Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.
(QS. Ghafir: 78)

Delapan belas rasul di antara mereka disebutkan oleh. Allah dalam surat Al-An'am, dalam firman-Nya berikut:

Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan ke- pada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang shalih.Dan Ismail, Alyasa', Yunus, dan Luth, masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (QS. Al-An'am: 83-86)

Dalam ayat lain, Al-Qur'anul Karim menyebutkan pula nama para nabi dan rasul lain seperti Hud, Shalih, Syu'aib, Dzulkifli, Idris, dan penutup para nabi, Muhammad SAW.

Ikhwan yang mulia, di antara kelebihan risalah rabbaniyah ini adalah, padanya terkandung unsur-unsur pilihan dari Allah SWT. Rasulullah adalah orang pilihan Allah SWT untuk mengemban risalah. Seorang rasul adalah pilihan dari sisi Allah, yang disumpah oleh Allah secara khusus, dibimbing dengan penglihatan-Nya, ditumbuhkan di bawah lindungan dan perhatian-Nya sejak sebelum dilahir-kan sampai ia diutus kepada seluruh umat manusia.

Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia.(QS. Al-Hajj: 75)

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. Al-An'am: 124)

Setelah itu, wahai Akhi, ia mendapat petunjuk, dan langkah- langkahnya dibimbing oleh Allah SWT. Untuk memahami hakikat risalah ini, Anda harus melihat empat persoalan pokok:
(1) karakter risalah, (2) kepribadian dan hakikat rasul, (3) sikap dan karakter kaum yang kepada mereka rasul tersebut diutus, (4) sarana yang digunakan oleh rasul ini untuk membela risalahnya.

Jika Anda melaksanakan hal ini, wahai Akhi, Anda akan bisa menghasilkan sebuah skema yang hampir mendekati kesempurnaan. Jika Anda menggunakan pandangan semacam ini dalam klasifikasi risa- lah yang disebutkan oleh Al-Qur'anul Karim, Anda akan mengetahui bahwa ada risalah-risalah yang dikemukakan oleh kitab Allah secara luas dan panjang lebar, tentang keempat aspek ini secara keseluruhan dengan banyak perincian, namun ada pula di antaranya yang disebutkan secara sepintas lalu saja. Dalam hal ini terlihat pula bahwa ada risalah- risalah abadi yang mempunyai pengaruh besar dan ada pula risalah- risalah yang pengaruhnya sudah berakhir, sehingga Al-Qur'an hanya menyebutkan beberapa aspek khusus mengenainya sebagai kenangan.

Di antara risalah-risalah yang besar, wahai Akhi, adalah risalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa
'alaihimus salam, dan risalah Sayidina Muhammad SAW yang merupakan risalah paling agung. Risalah-risalah besar ini telah dikemukakan oleh Al-Qur'an, terkadang dengan panjang lebar, di saat lain dengan singkat. Adapun risalah-risalah lain dikemukakan oleh Al-Qur'an dengan kadar yang berbeda-beda, ada yang secara ringkas dan ada yang secara luas, ada yang dijelaskan satu aspeknya saja, tetapi ada pula yang banyak aspeknya dijelaskan.

Disebutkannya risalah-risalah besar ini, dengan pembahasan yang jelas dan lengkap, mengandung hikmah: di antaranya bahwa risalah Sayidina Nuh as. adalah risalah pertama yang diikuti penempatan manusia setelah sebuah peristiwa alam yang besar; risalah Sayidina Ibrahim as. datang setelah kedatangan beberapa risalah lain pasca risalah Sayidina Nuh as. dan bahwa risalah ini menegaskan tauhid yang merupakan pokok lagi abadi dari pohon risalah yang memiliki cabang-cabang yang banyak. Kemudian datanglah risalah Sayidina Musa as. kepada sebuah bangsa pilihan yang Allah SWT telah mengetahui bahwa bangsa tersebut akan memainkan peran penting di alam ini dan peran tersebut mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan bangsa ini. Adapun risalah Sayidina Isa as. datang, sedangkan Allah SWT telah mengetahui bahwa risalah ini akan mempunyai pengaruh besar dalam pengkondisian bangsa-bangsa. Karena risalah penutup para nabi dan rasul, Sayidina Muhammad SAW, adalah risalah paling besar dan paling akhir, yang dikehendaki oleh Allah SWT agar menjadi penutup seluruh risalah, menjadi perpaduan dari keutamaan-keutamaannya dan dari kebaikan pengaruh-pengaruhnya; dan karena Al-Qur'anul Karim adalah kitab dari risalah abadi ini, maka wajar saja, wahai Akhi, jika ia dijelaskan dan diuraikan secara rinci, luas, dan memadai. Bersambung ke Risalah Umum dalam Kitab Allah (2) [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.