Tarbiyah Meniscayakan Keseimbangan


Pagi ini adalah pagi yang berbeda. Sangat berbeda. Jika biasanya.kami menghirup udara yang kotor oleh polusi, pagi ini kami merasakan nikmatnya udara yang benar-benar bersih; tanpa pencemaran, tanpa asap kendaraan.

Jika biasanya mata kami lelah oleh berbagai obyek dengan berbagai gerak dan beragam warna, pagi ini kami merasakan mata ini beristirahat damai dalam hijaunya pepohonan, rerumputan dan beberapa bunga. Jika biasanya pandangan kami terbatasi oleh atap dan dinding, pagi ini tidak ada yang membatasi antara pandangan mata kami dengan birunya langit, selain burung-burung yang sesekali terbang atau arak-arakan awan… Ya, kami kini sedang di hutan. Mukhayam.

Mukhayam adalah istilah yang tidak asing bagi kader dakwah. Ia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan berbagai wasail tarbiyah yang lain. Karenanya, ia juga menjadi momen paling berkesan dan sulit untuk dilupakan.

Jika manusia terdiri atas tiga unsur –ruh, akal, dan jasad- maka tarbiyah yang paling ideal bagi manusia meniscayakan perhatian pada ketiganya. Tarbiyah meniscayakan keseimbangan. Sebagaimana Islam juga menaruh keseimbangan padanya. Bukankah tarbiyah memang bersumber dari Islam, maka dari mata air itu akan mengalir air yang sama.

Tentang ruh atau jiwa, lihatlah betapa Al-Qur’an memerintahkan sejak awal kenabian agar manusia membersihkan jiwanya. Bahwa manusia menjadi tidak berarti sama sekali kecuali dengan ruh yang suci. Manusia tidak lebih mulia dari makhluk lainnya kecuali jika memiliki hati yang bersih. Maka shalat malam, tilawah, dan berdzikir yang disebutkan dalam QS. Al-Muzammil merupakan bagian dari tarbiyah ruhiyah.

Tentang akal, bahkan sejak wahyu pertama telah mengandung perhatian besar pada aspek ini. Iqra’! Lalu lihatlah betapa banyak Al-Qur’an dalam ayat-ayat lainnya mengungkapkan ”afalaa ta’qiluun”, ”afalaa tatafakkaruun”, ”liqaumi yatafakkaruun”, li ulil albaab”, dan ”li ulin nuhaa”. Generasi sahabat selain memiliki jiwa yang bersih, mereka juga menjadi manusia-manusia pemikir yang luar biasa. Memaksimalkan potensi akalnya. Sejarah pun dipenuhi dengan maqalah-maqalah mereka. Sejarah juga dihiasi dengan berbagai karya mereka dalam banyak bidang; mulai dari pemimpin yang visoner dan bijaksana, diplomat ulung, pebisnis hebat, sampai ahli strategi perang. Yang disebut terakhir ini memiliki irisan yang besar dengan aspek ketiga, fisik. Sebab ahli strategi perang seperti Khalid bukan hanya merencanakan peperangan dari balik meja, namun sekaligus meminpin di medan tempur dengan hebatnya.

Lalu yang ketiga, fisik, juga demikian diperhatikan oleh Islam. Inilah mengapa Al-Qur’an mengisahkan pemimpin hebat bernama Jalut yang dipilih Allah karena memenuhi dua kriteria. Salah satunya adalah fisik yang kuat. Tentu ini bukan semata harus dimiliki pemimpin. Setiap orang, yang hakikatnya adalah pemimpin (kullukum raa’in), juga harus memperhatikan kekuatan fisiknya. Bukankah banyak ibadah dalam Islam yang membutuhkan fisik yang sehat. Mulai dari shalat sampai haji, semuanya perlu kekuatan fisik ini. Apalagi jika bicara amal puncak dalam Islam, jihad fi sabilillah, fisik menjadi syarat mutlak untuk bisa menunaikannya.

Jika tarbiyah ruhiyah kita di-up grade melalui mabit, halaqah, dan beberapa wasail tarbiyah yang lain. Lalu tarbiyah fikriyah kita di-up grade melalui tatsqif, daurah, dan wasail tarbiyah sejenis. Maka tarbiyah jasadiyah kita, selain dijaga dengan riyadhah rutin, ia juga di-up grade dengan mukhayam. Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk tetap menjaga keseimbangan yang menjadi keniscayaan dalam tarbiyah dan Islam itu sendiri. [Muchlisin]
Powered by Blogger.