Man Yu'alliqul Jaras


Apakah Anda bekerja dalam tim atau beramal secara jama'i? Sudah banyak ide dan rencana dalam tim atau jama'ah itu tetapi tidak bisa terealisir dengan baik? Barangkali permasalahannya sama dengan "Man Yu'alliqul Jaras".

Saya mendapatkan kisah ini dari seorang Ustadz yang menjadi Ketua DSD. Kisah berjudul "ManYu'alliqul Jaras" ini cukup populer di pondok pesantren. Berawal dari seringnya tikus yang menjadi mangsa kucing, diadakanlah rapat atau suro antar tikus. "Kita telah mendapatkan data terbaru bahwa semakin banyak tikus yang tertangkap oleh kucing. Kita butuh solusi untuk keluar dari problematika klasik ini" kata pemimpin rapat (tentu saja seekor tikus) memulai pembahasan.

"Ini karena kita tidak bisa mendeteksi kedatangan kucing," kata salah seekor peserta rapat, "kucing bisa datang tiba-tiba, mengendap-endap lalu dengan cepat menyerang dan menyergap kawan-kawan kita."

"Betul. Mereka yang larinya kurang kencang kemudian menjadi korban. Adakalanya, meskipun biasa berlari cepat namun karena tidak siap dengan kedatangan kucing, tikus tetap tertangkap." Peserta lain menambahkan.

"Berarti kita memerlukan semacam detektor yang bisa memberikan tanda kepada kita jika ada kucing yang mendekat!" benang merah mulai terang.

"Kalau begitu kita harus memasang jaras (lonceng) di leher kucing itu. Begitu ia mendekat, kita akan langsung tahu dari bunyi loncengnya."

"Ide yang bagus." Kata pemimpin rapat.
"Setuju!" "Sepakat" "Mantab" berbagai komentar menyepakati ide itu. Beberapa saat mereka berbangga dengan ide itu. "Luar biasa!, kita akan segera mengakhiri problem ini" kata mereka.

Tapi tiba-tiba pemimpin rapat terpikir sebuah pertanyaan mendasar: "Man yu'alliqul jaras?" katanya mengejutkan peserta yang sedang saling berbisik membanggakan keputusan rapat hari itu. "Man yu'alliqul jaras? Siapa yang akan mengalungkan lonceng itu?" Ya. Siapa yang akan melaksanakan ide hebat ini? Semua terdiam. Tidak ada yang berani melaksanakan rencana itu.

Kadang-kadang kita juga begitu. Hidup dalam sebuah tim dengan berbagai dinamika dan problematika yang ada. Ada banyak ide, ada banyak rencana. Namun tidak semuanya bisa berjalan karena persoalan mendasar: "Man yu'alliqul jaras". Tidak ada yang berani mengalungkan loncengnya. Tidak ada yang bisa menjadi eksekutor ide-ide yang kita banggakan.

Ada tiga sebab mendasar mengapa "Man yu'alliqul jaras" tidak terjawab. Pertama, karena memang rencana yang bagus itu belum saatnya dilaksanakan saat ini. It's impossible. Memang ide itu luar biasa, tetapi tidak realistis (setidaknya untuk era sekarang).

Kedua, sebenarnya ide itu realistis. Tetapi SDM kita belum mampu melaksanakannya. Kita belum memiliki skill untuk itu. Maka yang kita perlukan adalah pengembangan SDM. Bagaimana caranya agar skill yang dibutuhkan segera kita kuasai. Misalnya pada sebuah lembaga dakwah kampus yang memiliki ide untuk melakukan rekrutmen besar-besaran melalui dakwah fardiyah, namun para kader dakwah belum memiliki skill melakukannya. Maka daurah dakwah fardiyah bisa menjadi jawabannya. Para kader dilatih agar benar-benar menguasi dakwah fardiyah. Jika tahap ini bisa dilakukan, maka rencana itu tinggal dieksekusi dan tidak ada lagi yang diam saat ada pertanyaan "man yu'alliqul jaras". Semua akan menjawab "kami siap!"

Ketiga, "man yu'alliqul jaras" tidak terjawab karena tidak ada yang mau melaksanakannya. Pada kasus ini seringkali digunakan kamuflase ketidakmampuan untuk menutupi ketidakmauan. Jika demikian halnya, sungguh ada yang tidak beres dalam tim semacam ini. Bisa jadi karena ide itu dari orang yang tidak disukai oleh mayoritas orang dalam tim. Boleh jadi karena ide itu lahir dari pemimpin yang terkesan "sok". Atau semua orang telah berambisi menjadi konseptor dan tidak ada yang bersedia menjadi eksekutornya. Dan sebagainya. Akar permasalahan lebih besar dari persoalan yang muncul berikutnya. Kemandegan hasil suro hanya salah satunya.

Jika demikian halnya, yang diperlukan adalah rekonstruksi pemahaman. Konsep amal jama'i dan al-qiyadah wal jundiyah perlu ditanamkan ulang. Dipahami dengan sempurna. Lalu diimplementasikan. Semoga tim atau jama'ah Anda tidak masuk kelompok ketiga ini. [Muchlisin]
Powered by Blogger.