Risalah Musa alaihis salam


Kini kita akan membaca Risalah Musa 'alaihis salam yang merupakan bagian dari tema Risalah Umum dalam Kitab Allah. Sebelumnya, Ceramah Hasan Al-Banna telah membahas beberapa tema, yaitu:
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
3. Manusia dalam Al-Qur'an
4. Wanita dalam Al-Qur'an
5. Alam Semesta dalam Al-Qur'an
6. Alam Metafisik dalam Al-Qur'an
Selamat membaca.
***

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat: 13)

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwah- nya hingga hari kiamat. Amma ba'du.

Kita membuka acara kita dengan pembukaan yang paling baik. Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah yang diberkahi: Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Rasulullah saw. bersabda,

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari kitab Allah secara bersama-sama, kecuali mereka akan diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan disebut oleh Allah di hadapan para malaikat yang ada di sisinya. Barangsiapa lambat dalam beramal, nasabnya tidak dapat menyempurnakannya.

Wahai Akhi, sedap kaum yang berkumpul di tempat mulia, membaca dan mempelajari kitab Allah bersama-sama, niscaya rahmat Allah SWT meliputi mereka, ketenangan dari sisi Allah turun kepada mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.

Ikhwan sekalian, saya ingin memberitahu Anda tentang perasaan yang saya rasakan dan tentang apa yang seharusnya dilakukan, karena tujuan kajian ini bukan sekedar untuk mendapatkan informasi ilmiah atau ruhiyah semata. Ikhwan sekalian, dari pertemuan ini saya tidak bermaksud mengemukakan banyak hakikat ilmiah kepada Anda semua agar bisa Anda mengerti dan tidak bermaksud mempengaruhi jiwa Anda semua, karena pada akhirnya pengaruh itu pasti muncul pada siapa saja yang mendengarkan dan merenungkan kitab Allah SWT.

Saya tidak bermaksud mewujudkan kedua hal ini semata, tetapi saya bermaksud mendapatkan manfaat nyata yaitu agar perjumpaan kita dalam kajian ini bisa kita jadikan sebagai sarana untuk saling mengenal, menjalin hubungan, agar sebagian kita akrab dengan sebagian lain dan sebagian kita berbahagia berjumpa dengan sebagian lain, sehingga jiwa kita saling akrab, hati kita saling bertaut, pikiran kita saling mengasah, dan agar dalam kajian dan pertemuan ini kita bisa terus-menerus mengkaji banyak atau sedikit dari aspek-aspek ilmiah yang berkaitan dengan diri kita. Ikhwan tercinta, dengan pertemuan ini saya ingin membuka kesempatan untuk saling memahami dan mengenal, maka hendaklah Anda semua berusaha mewujudkannya.

Percayalah kepada saya, bahwa saya merindukan kajian ini, sekalipun kadang-kadang saya tidak mempunyai hasrat untuk berbicara, tetapi mungkin saat berlangsungnya acara kajian ini adalah saat jiwa ini bersih. Barangkali jiwa ini bisa berpaling dan mengendur, tetapi percayalah kepada saya, Ikhwan sekalian, bahwa saya merindukan saat ini, di hari ini, dengan kerinduan yang luar biasa. Saya menunggu-nunggu saatnya tiba. Bertanya dan saling memahami adalah perbuatan yang pahalanya lebih besar di sisi Allah daripada belajar. Nabi kita SAW pernah bersabda,

Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kailan tidak akan beriman sehingga saling mencintai.

Seorang mukmin adalah orang yang berhati nurani, berperasaan, dan hidup. Hatinya kaya raya. Wahai Akhi, seorang mukmin adalah seorang yang lemah lembut dan ramah di mana pun ia berada. Ke manakah curahan hati orang-orang beriman ini diarahkan?

Allah SWT telah menjadikan sasaran dari curahan hati ini untuk pertama kali menuju dzat-Nya, kemudian kepada Rasul-Nya, lalu kepada kebaikan, dan kemudian kepada orang-orang beriman. Inilah tempat-tempat yang harus dijadikan sasaran curahan hati seorang mukmin. Kita harus senantiasa mengupayakan tegaknya cinta kepada Allah swt. dan cinta kepada rasul-Nya, mengupayakan kebaikan, serta mencari kawan, saudara, dan orang yang dicintai karena Allah.

Saya kembali ingin menegaskan, Ikhwan sekalian, bahwa kajian kita tentang kitab Allah swt. dimaksudkan agar hati seorang mukmin berorientasi kepadanya, agar terjadi hubungan sejati antara hati yang satu dengan hati yang lain, dan antara hati orang-orang yang beriman. Wahai Akhi, ketika hati berhasil mengetahui rahasia-rahasia kitab Allah yang sebelumnya tidak pernah disingkapnya dan berhasil men- capai ilmu yang bermanfaat, yang jauh dari sikap berlebihan orang- orang sufi atau perdebatan para ahli debat, maka ketika itu, wahai Akhi, Allah mengaruniakan kepada Anda pemahaman yang paling mendalam, tasawuf yang paling bersih, serta tauhid yang paling luhur dan tinggi. Tujuan pertemuan kita ini bukan untuk menyerap ilmu semata, tetapi juga untuk mengikatkan hati kita kepada kitab Allah. Yakinlah bahwa Nabi kita saw. mendidik generasi yang sempurna ini tidak dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan, tetapi dengan membersihkan hati dan menerangi jiwa mereka, sehingga mereka menjalin hubungan dengan Al-Mala'ulA'la dan Allah memberikan hikmah kepada mereka.

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan barangsiapa dikaruniai hikmah, maka sungguh ia telah diberi banyak kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 269)

Ikhwan sekalian, Nabi SAW tidak mempunyai kurikulum selain Al-Qur'an, tidak mempunyai lembaga pendidikan selain masjid. Murid-murid beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para sahabat beliau yang lain, yang setara dengan mereka. Apakah Anda pernah melihat lembaga pendidikan yang lebih bersih dan lebih baik daripada madrasah beliau ini, yang di dalamnya para siswa duduk di atas ham- paran kerikil; universitas mereka beratapkan pelepah kurma di mana hujan yang turun bisa membasahi tubuh mereka; kurikulum mereka adalah Al-Qur'an dan mereka senantiasa menunggu datangnya dari langit? Dari lembaga pendidikan ini, Ikhwan sekalian, telah diluluskan guru-guru paling sempurna yang pernah dikenal oleh dunia, dalam segala bidang keutamaan manusiawi. Penggemblengan dan pendidikan ini hanya dilaksanakan berdasarkan kitab Allah SWT. yang tidak dapat disentuh oleh kebatilan, baik dari muka maupun dari belakangnya. Ikhwan sekalian, alangkah perlunya kita kepada sebuah universitas semacam universitas beliau ini, mimbar sebagaimana mimbar Rasulullah SAW, yang di dalamnya rahmat turun, ayat-ayat dibacakan, cahaya Rabbul 'Alamin dipancarkan. Dari situ dilahirkan para guru, bahkan mahaguru. Betapa perlunya kita menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dengan Al-Qur'anul Karim. Betapa perlunya kita memahami metode yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah saw. ini. Saya senang mengulang pernyataan ini, agar ddak dipahami bahwa kita bermaksud mengadakan perdebatan. Yang menjadi tujuan kita adalah agar kita mengerti bagaimana kita mengarahkan pandangan tentang kitab Allah swt. Demikianlah Ikhwan sekalian, dan marilah kita bahas Risalah Musa as., sebagai tema kajian kita.

Ikhwan sekalian, pembicaraan kita pada malam ini adalah tentang Risalah Sayidina Musa —semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau dan kepada nabi kita—. Jika kita ingin mengupas panjang lebar pembahasan tentang masalah ini, tentu akan menghabis- kan waktu lebih dari tiga tahun, tetapi kita ingin mempersingkat kajian tersebut pada malam ini saja insya Allah. Risalah Sayidina Musa as. telah dikemukakan oleh Al-Qur'anul Karim dalam dua puluh surat, bahkan lebih dari itu, yaitu dalam Al-Baqarah, An-Nisa', Al-Ma'idah, Al-A'raf, Yunus, Hud, Al-Isra', Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Mukminun, Al-Furqan, Asy-Syu'ara', An-Naml, Al-Qashash, Ghafir, Az-Zukhruf, Al-Qamar, Adz-Dzariyat, An-Nazi'at. Wahai Akhi, setiap surat ini berbicara tentang kisah Musa as. Pembicaraan tentang kisah Musa menggunakan berbagai jenis gaya balaghah, ada yang panjang lebar, ada yang ringkas, ada pula yang sedang. Di surat Al-Baqarah mulai dari firman Allah SWT.,

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian; dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk), (QS. Al-Baqarah: 40)

hingga firman Allah SWT:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba- lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkan kalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 148)

Semua berjumlah seratus delapan ayat. Dua puluh tujuh ayat di antaranya berbicara tentang kisah Musa as.

Demikian pula, tiga perempat surat Thaha, mulai dari firman Allah SWT.,

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى * إِذْ رَأَى نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آَنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آَتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya, 'Tinggallah kalian (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadaku atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu, (QS. Thaha: 9-10)

sampai pada firman-Nya,

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آَتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Qur'an). (QS. Thaha: 99)

Dalam surat Al-Qashash dari awal surat hingga firman-Nya,

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَكِنْ رَحْمَةً

Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beri tahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu. (QS. Al-Qashash: 46)

Dalam surat Ad-Dukhan firman Allah menyatakan,

وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Firaun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, (QS. Ad-Dukhan: 17)

sampai firman-Nya,

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَى عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa. (QS. Ad-Dukhan: 32)

Dalam surat Al-Qamar, kitab Allah mengisyaratkan kisah ini dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ جَاءَ آَلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ * كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

Dan sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir'aun ancaman-ancaman. Mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kami kesemuanya, lalu Kami adzab mereka sebagai adzab dari Yang Maha- perkasa lagi Mahakuasa. (QS. Al-Qamar: 41-42)

Dalam surat-surat lain, kisah ini disebutkan tidak terlalu panjang tetapi juga tidak terlalu ringkas. Di surat Hud ada sekitar seperempat surat, dalam surat Az-Zukhruf ada sekitar seperempat pula, dan demikian seterusnya. Ikhwan sekalian, tujuan pemaparan kisah dengan metode semacam ini ada dua:
Pertama, menunjukkan kemukjizatan dengan menampilkan senibalaghah (sastra). Dalam setiap kali pemaparan, ia menunjukkan tipe balaghah yang sempurna. Ia menyebutkan situasi, memaparkan kisah, kemudian mengemukakan kesimpulan berdasarkan kisah-kisah itu. Dari sini wahai Akhi, Anda tahu bahwa Al-Qur'an mempunyai perhatian yang besar terhadap aspek kisah. Ini merupakan isyarat untuk memikat perhatian umat Islam sebelum ia menjelaskan kepada mereka pengaruh kisah-kisah tersebut dari aspek sejarah, pengajaran, dan pendidikan. Tidak ada gaya yang lebih kuat dan lebih mantap dalam menanamkan informasi, khususnya pada tahap-tahap awal, selain kisah.

Kedua, dengan metode itu, wahai Akhi, juga terkandung penga- badian masa lalu dan pengambilan manfaat darinya. Karena itulah para pendahulu kita, kaum salaf, memperhatikan masalah ini. Telah diriwayatkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash ra. berkata, "Sungguh, kami menceritakan kisah-kisah peperangan Rasulullah saw. kepada anak-anak kami, sebagaimana kami mengajari mereka untuk menghafalkan Al-Our'an."

Ikhwan sekalian, jika Anda membaca sejarah lama kita, niscaya Anda mendapatinya didasarkan kepada riwayat. Ini mengandung isyarat mengenai besarnya perhatian terhadap kisah. Dan meskipun begitu besar perhatian ini, namun umat Islam di zaman sekarang —yang mereka sebut sebagai zaman kebangkitan— melupakan dan mengabaikan sejarah ini, lantas menerima sejarah bangsa lain dalam gambaran sebagaimana yang disampaikan kepadanya, bukan dalam gambaran yang sesuai dengan kebenaran sejarah itu sendiri.

Ikhwan sekalian, ada seorang akh yang bertanya kepada saya tentang kurikulum pengajaran agama di sekolah-sekolah. Saya katakan kepadanya, "Semua kurikulum pengajaran agama di sekolah-sekolah itu salah, yang benar hendaklah kita bercerita kepada para murid tentang sejarah hidup Nabi SAW. Kita ceritakan kepada mereka riwayat hidup beliau di Makkah, di Madinah, bagaimana beliau mengajar, beribadah, berakhlak, dan berperang. Kita ceritakan kepada mereka kisah tentara gajah, kemudian kita suruh mereka menghafal surat Fil; kita ceritakan kepada mereka kisah wafatnya kedua orang tua beliau, kemudian kita suruh mereka menghafal surat Adh-Dhuha, dan demikianlah seterusnya."

Orang-orang Jerman menganggap kisah sebagai fondasi pendidikan dalam sistem pengajaran mereka. Dalam kisah tersebut seorang murid bisa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik itu Geografi, Sejarah, maupun Geologi. Andaikata kaum muslimin mau mengguna- kan sistem dan cara semacam ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab Allah SWT., mereka mau menjadikan kisah sebagai landasan dalam kurikulum pendidikan agama dan sejarah; andaikan mereka menjadikannya sebagai kurikulum pendidikan bagi umat, tentu mereka memperoleh sukses dan meraih kemajuan melebihi umat-umat lain.

Barangkali ada orang yang mengatakan, "Mengapa sebagian besar kisah yang dikemukakan oleh Al-Qur'an adalah kisah Bani Israil? Mengapa kisah Bani Israil menghabiskan porsi paling besar dalam Al- Qur'anul Karim?" Sebenarnya, wahai Akhi, hal ini disebabkan oleh faktor:

Pertama, kemuliaan ras bangsa ini dan curahan spiritualisme yang kuat yang tertanam dalam dirinya, sebab ras ini telah diturunkan dari asal-usul yang mulia. Oleh sebab itu, ia mewarisi dinamika yang menak- jubkan, sekalipun ia telah berbuat buruk terhadap dirinya sendiri dan bangsa lain dengan mengarahkan dinamika ini kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Ras bangsa ini diturunkan dari Yakub as., putra Ishaq bin Ibrahim. Ia mewarisi spiritualisme dari seorang tokoh besar, yang secara beruntun juga mewarisinya dari tokoh besar yang lain. Rasulullah saw. pernah bersabda,

"Orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia adalah Yusuf, putra Ya 'kub, putra lshaq, putra Ibrahim."

Empat kakek mereka, masing-masing adalah seorang rasul. Allah SWT. berfirman,

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, ingadah nikmat Allah atas kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan dijadikan-Nya kalian orang-orang yang merdeka, dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain. (QS. Al-Maidah: 20)

Allah juga berfirman mengenai kelebihan yang diberikan-Nya kepada mereka di atas bangsa-bangsa lain pada zaman mereka.

وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan Aku telah melebihkan kalian di atas segala umat. (QS. Al-Baqarah: 122)

Kedua, ras bangsa ini mengalami dinamika yang tidak pernah terjadi pada ras bangsa lain. Sebagaimana bersumber dari tindakan menyucikan diri, dinamika ini juga bersumber dari perasaan bangga terhadap diri, dan tindakan melupakan makna kemanusiaan secara umum yang disebutkan dalam firman Allah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan meniadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hufurat: 13)

Ketiga, mereka mewarisi kitab samawi paling tua yang sedikit di- kenal oleh manusia, yaitu Taurat. Mereka juga merupakan bangsa yang paling dekat dengan bangsa Arab di masa itu.

Terakhir, mereka berkembang dari keadaan sebagai bangsa Badui yang berpindah-pindah, kemudian membentuk suatu bangsa, kemudian ditindas oleh musuh, kemudian membebaskan diri, kemudian berkuasa, dan kemudian mereka berubah lagi. Jadi mereka merupakan contoh yang baik untuk menampilkan fase-fase perkembangan ini. Wahai Akhi, ketika Anda membaca Al-Qur'an, Anda menemukan hakikat ini secara jelas di dalamnya. Risalah Musa as. berlaku di Mesir. Dan saya ingin mengemukakan hubungan antara risalah beliau dengan umat ini, agar kita bisa menyingkap beberapa rahasia kitab Allah ini setiap kali kita membacanya.

Bangsa Israil banyak terdapat di Mesir, sekalipun tanah air asal mereka adalah Palestina. Orang pertama yang mengakui eksistensi mereka adalah Yusuf as.,

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

Pergilah kalian dengan membawa baju gamis- ku ini, lalu letakkan dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluarga kalian semuanya kepadaku, (QS. Yusuf: 93)

hingga firman Allah SWT.,

ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ

Dan ia berkata, 'Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.' (QS. Yusuf: 99)

Yusuf as. memberikan tanah di wilayah Mesir Timur kepada mereka. Sebelumnya wilayah tersebut merupakan gurun pasir. Beliau menyerahkan tanah tersebut kepada mereka, karena mereka dahulu datang dari daerah Badui dan beliau tidak ingin membaurkan mereka dengan bangsa Mesir yang lain yang pada masa itu masih menganut paham paganisme, sedangkan Yakub dan anak turunnya menganut paham tauhid murni. Beliau tidak menginginkan timbulnya alasan untuk ter- jadinya konflik agama antara mereka dan orang-orang Mesir pribumi. Allah SWT. berfirman mengisahkan hal itu,

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'kub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya),

hingga

ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 37-40)

Beliau mengakui bahwa aqidah beliau dan aqidah bapak-bapaknya adalah
hanifiah (lurus dan fleksibel) yang tidak menerima ke syirikan dan tidak satu debu kotoran syirik pun yang menempel padanya. Beliau ingin memisahkan antara para penganut tauhid dan para penganut paham paganisme. Sampai di sini dulu perjumpaan kita pada malam ini. Saya cukupkan di sini ceramah saya. Saya memohon ampunan kepada Allah untuk diri saya dan untuk Anda semua. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.