Risalah Nuh Alaihis Salam


Wahai Akhi, sekarang saya akan menyampaikan pandangan mengenai risalah besar yang pertama, yaitu risalah Sayidina Nuh as. agar kita mengetahui bahwa ia merupakan risalah pertama yang mengajarkan perhadan kepada alam, melarang penyembahan berhala, dan mengajarkan pengesaan Allah SWT.

Nuh as. datang mengajak kaumnya agar meninggalkan berhala mereka dan menganjurkan mereka untuk menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan cara menggunakan penglihatan dan hati mereka untuk memperhatikan alam ciptaan Allah yang agung. Risalah beliau as. berlandaskan kepada tauhid murni dan kesungguhan dalam menghadapkan perhatian kepada Allah SWT. Wahai Akhi, Al-Qur'anul Karim telah menyebutkan beberapa karakter secara lebih terinci yang merupakan kekhasan risalah Nuh as.

Di antaranya adalah bahwa beliau menyampaikan risalah ini dengan jelas, berbicara dengan terbuka, bersikap keras terhadap para penentangnya, serta tekun dalam menjalankan dakwahnya, sehingga mampu konsisten berdakwah selama 950 tahun untuk menyampaikan risalah-Nya, walaupun kesulitan dan penderitaan mendera lantaran kaum yang diseru adalah orang-orang yang kasar, berhati keras, meremehkan, dan tidak beriman kecuali sedikit sekali di antaranya.

Adapun sarana-sarana yang digunakan oleh Nuh as. dalam menyampaikan risalahnya adalah hujah, logika, dan dialog secara mantap, jelas, dan lugas. Sehingga ketika harapannya terhadap mereka telah habis dan mereka sudah tidak berpengharapan kepadanya pula, beliau berlepas diri dari mereka dan berdoa untuk kebinasaan mereka. Beliau memohon pertolongan Allah dan Allah menyelamatkan beliau beserta orang-orang beriman yang bersamanya. jika kita mengupas sedikit di antara aspek-aspek risalah beliau ini, wahai Akhi, kita mendapati bahwa Allah SWT. berfirman dalam surat Hud,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ * أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ * فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata untuk kalian, agar kalian semua tidak beribadah kepada selain Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa adzab (pada) hari yang sangat menyedihkan.' Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami ddak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami, yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihatmu memiliki suatu kele- bihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu termasuk orang-orang yang dusta.'
(QS. Hud: 25-27)

Setelah terjadi tanya jawab, dialog, dan perdebatan antara Nuh dan kaumnya,

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang ban tahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' (QS. Hud: 32)

Lantas Allah SWT menghibur beliau setelah usaha keras beliau ini, sebab tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh jiwa seorang da'i yang mendakwahkan kebaikan selain jika Allah mewujudkan kebaikan ini melalui usaha yang dilakukannya. Maka Allah pun berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آَمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sekali- kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)

Kemudian Allah menjelaskan jalan keselamatan kepada beliau. Allah memerintahkannya agar membuat kapal,

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu membicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zhalim itu; se- sungguhnya mereka akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)

Nuh as. mulai melaksanakan perintah Tuhannya, membuat kapal, sedangkan kaumnya mengejek dirinya dan pekerjaannya itu.

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, 'Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) dapat mengejek sebagaimana kalian mengejek (kami).' (QS. Hud: 38)

Ketika saat kebinasaan mereka tiba, Allah SWT berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آَمَنَ وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ * وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ * وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ *

Dan dapur (bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman, 'Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu kete- tapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.' Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit di antaranya. Dan Nuh berkata, "Naiklah kalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.' Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh ter- pencil, 'Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.' (QS. Hud: 40-42)

Al-Qur'anul Karim menceritakan kisah ini, dan di antara keanehannya adalah bahwa kekerasan hati kaum tersebut sedemikian besar, bahkan putra dan istri Nuh as. sendiri berada di pihak orang-orang kafir. Inilah anaknya yang mengatakan,

سَآَوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!' Nuh berkata, 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 43)

Sedangkan keadaan istrinya adalah sebagaimana keadaan istri Luth.

كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Berada di bawah pengawasan dua orang hamba shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).' (QS. At-Tahrim: 10)

Adalah merupakan suratan nasib bagi putra Nuh bahwa ia tidak ikut bersama ayahnya, dan dengan alasan hubungan di antara keduanya, Nuh memohon kepada Tuhannya mengenai nasib anaknya itu.

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.' (QS. Hud: 45)

Permohonan Nuh as. ini hanyalah untuk mendapatkan kejelasan hikmah dijadikannya sang putra membangkang terhadapnya, maka Tuhannya berfirman mengemukakan alasan yang memisahkan antara keduanya:

إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. (QS. Hud: 46)

Di sini kita bisa mendapati bahwa hubungan penganut satu agama bukanlah hubungan garis keturunan melainkan hubungan aqidah dan ideologi.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu sungguh bersaudara. (QS. Al-Hujurat: 10)

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempertautkan had kalian sehingga, berkat nikmat-Nya, kalian menjadi orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah saw. juga pernah bersabda,
Bagi kami, Salman adalah keluarga.

Nabi menganggapnya sama seperd orang Arab, Quraisy, dan keturunan Hasyim, bahkan termasuk dalam keluarga nabi, padahal ia seorang laki-laki non-Arab. Selain itu, wahai Akhi, Anda membaca pula ayat Allah SWT.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar- benar celaka ia. (QS. Al-Masad: 1)

Padahal Abu Lahab adalah paman Nabi SAW, tetapi kekafiran telah memisahkan hubungan garis keturunan antara beliau dengan pamannya. Penutup dari kisah mengenai risalah ini adalah sebagai berikut:

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Difirmankan, 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang muk- min) dari orang-orang yang bersamamu.' (QS. Hud: 48)

Maka Nuh as. turun dari kapal dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan yang dikaruniakan Allah kepadanya dan kepada orang-orang beriman di antara kaumnya. Wahai Akhi, di surat Nuh ini, kita bisa menemukan sedikit perincian dari kisah Nuh as.. Di sana dijelaskan bahwa kaum Nabi Nuh menyebut nama-nama berhala mereka sebagai kebanggaan, sedangkan Nuh as. mengarahkan mereka agar kembali memperhatikan alam beserta berbagai keajaiban dan pelajaran yang ada di dalamnya. Ikhwan sekalian, risalah Nuh as. adalah risalah aqidah yang tegak di atas landasan tauhid murni, di atas landasan pembersihan jiwa manu- sia dari kesyirikan dan kezhaliman. Salah satu bukti kebebalan kaum Nabi Nuh adalah bahwa tidak ada yang beriman di antara mereka kecuali sedikit saja. Maka Allah SWT memberikan balasan kepadanya.

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Difirmankan, 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang muk- min) dari orang-orang yang bersamamu.' (QS. Hud: 48)

Sampai di sini kajian yang saya sampaikan. Saya memohon ampunan kepada Allah untuk diri saya sendiri dan untuk Anda semua. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, serta segenap keluarganya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.