Ketika Rindu Terobati


Pada mulanya Gibran datang ke kediaman Farris Effandi Karamy untuk menyambung silaturahim. Meneruskan persahabatan ayahnya yang telah tiada dengan lelaki kaya raya di Lebanon Utara itu. Namun takdir justru mengantarnya menemui cinta.

Selma Karamy, nama gadis itu. Putri semata wayang Farris Effandi. Kimia jiwa yang bergetar dalam diri dua anak Adam itu bersenyawa menjadi saling cinta. Secara fisik Selma digambarkan Gibran sebagai perempuan paling cantik di bawah matahari. Namun kecantikan sejatinya terletak pada kemuliaan jiwanya. Maka ketika Gibran kembali ke rumahnya, dadanya dipenuhi rindu. Ingin rasanya segera melintasi waktu dan menerobos teritori. Berjumpa labuhan jiwa lagi. Bertemu kekasih hati kembali.

Kerinduan mukmin pada Ramadhan setara dengan kerinduan Gibran pada Selma saat itu. Bahkan lebih besar lagi. Sebab Ramadhan adalah kekasih jiwa. Keindahannya melebihi kecantikan wanita tercantik di bumi, bahkan melampaui bidadari. Sebagaimana ia takkan tertandingi ketampanan pemuda manapun di bawah langit ini. Keindahan itu terpancar dari aura yang dibawanya. Jika orang yang dirindui akan disambut di depan istana atau di ujung jalan, Ramadhan telah disambut dua bulan sebelum ia datang: oleh Sang Nabi, sahabatnya, dan salafusshalih. Lihatlah doa mereka:

"Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan" (HR. Al-Baihaqi).

"Ya Allah berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan."
(HR. Ahmad).

Kemuliaan Ramadhan melebihi kemuliaan jiwa bagi kekasihnya. Jika kemuliaan sang kekasih hadir dalam subyektifitas seorang pecinta, kemuliaan Ramadhan adalah anugerah Sang Pencipta cinta. Kemuliaan adalah hakikat, bukan sudut pandang manusia yang hatinya telah terpikat. Maka adakah kekasih yang membawa hadiah ampunan bagi kekasihnya? Adakah kekasih yang menjadikan bau mulut kekasihnya melebihi harumnya misik terindah? Adakah kekasih yang satu hari bersamanya menjauhkan diri 70 tahun dari neraka? Adakah kekasih yang membawa kegembiraan bersamanya sekaligus kegembiraan saat bertemu Tuhan kita?

Pantaslah jika Ramadhan begitu dirindukan... Pantaslah jika Ramadhan menghiasi kalbu salafusshalih sepanjang tahun. Enam bulan setelah bersua dengannya adalah masa-masa pemanjatan doa agar perjumpaan itu tidak sia-sia. Lalu enam bulan berikutnya adalah kerinduan yang membuncah dalam munajat, siang dan malam. Agar usia dipanjangkan. Agar pertemuan indah dengan kekasih tercinta menjadi kenyataan.

Bulan Ramadhan ketika disebut
Kami teringat sebuah taman bunga
Yang semerbak wangi tempat persinggahan
kebaikan mengandung hikmah

(Justice Voice, Rindu Ramadhan)

Kerinduan Gibran pada Selma akhirnya terobati. Namun obat itu segera menjadi racun baginya. Ia berhasil menemui Selma, namun ia tidak siap menerima takdir pahit yang mengoyak jiwanya. Selma menikah dengan Mansour Bey Galib dalam keterpaksaan. Tirani sosial memisahkan keduanya. Menutup kerinduan dengan kepedihan. Mengubah cinta menjadi sayap-sayap patah, terjemahan yang tepat untuk judul asli Al-Ajnihah al-mutakassirah, di mana Kahlil Gibran menuturkan cerita ini.

Ini perbedaan lain kerinduan pada Ramadhan di atas kerinduan kepada kekasih bernama manusia. Jika kerinduan ala Gibran dan Selma bisa terobati atau justru berubah menjadi sayap-sayap patah, kerinduan kepada Ramadhan –sebagaimana kerinduan pada kebaikan- membuat sayap-sayap kita justru tak pernah patah.

Bisa jadi seorang mukmin tidak menutup kerinduannya dengan Ramadhan sebagaimana doa dan cita-citanya. Sebab malaikat maut lebih dulu datang kepadanya, misalnya. Namun kerinduan itu akan tetap terobati karena kerinduan sejatinya lillah, karena Allah. Maka sangat mudah bagi Allah untuk mempertemukan Ramadhan dan kekasihnya di alam barzakh atau akhirat nanti; dalam bentuk dan dengan cara yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

Hal yang sama berlaku bagi segala amal kebaikan. Niat yang dinilai bahkan sebelum amal dilakukan adalah buktinya. Namun yang sangat jelas, rindu yang pasti terobati ini diletakkan pula pada syahid fi sabilillah. “Barang siapa yang berdoa kepada Alloh dengan benar untuk mendapatkan mati syahid," sabda Rasulullah dalam shahih muslim, "maka Alloh akan menyampaikannya kedudukan para syuhada walau pun dia mati di atas tempat tidur”. Pedang Allah Khalid bin Walid, adalah salah satu pewaris hadits ini. Ia puluhan kali memimpin jihad, cita-citanya adalah syahid, namun akhir hayatnya terjadi di kediamannya.

Masih tersisa dua pekan untuk menanamkan kerinduan pada Ramadhan. Menata hati ini untuk menghapus noktah-noktah hitam yang menutupinya, hingga tak ada pembatas antara Ramadhan dan cinta kita. Percayalah, rindu ini pasti terobati. Percayalah, cinta ini membuat kita memiliki sayap-sayap yang tak pernah patah. [Muchlisin]
Powered by Blogger.