Semangkuk Cocktail Cinta


Judul Buku : Semangkuk Cocktail Cinta; Seni Berkomunikasi dengan Bahasa Cinta
Penulis : Rahayu Aningtyas
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010
Tebal Buku : xxvi + 158 halaman


Tahu cocktail? Tentu cocktail yang diambil sebagai judul dalam buku pengokohan tarbiyah ke-13 ini bukan cocktail ala Amerika yang mulai dikenal pada 1930-an. Minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain beraroma itu tentu saja haram sehingga bukan itu yang dimaksudkan oleh penulis.

Pada bab 6, kita akan mendapati judul bab yang sama dengan judul buku ini: Semangkuk Cocktail Cinta. "Cinta seperti sebuah mangkuk berisi cocktail," tulis Rahayu Aningtyas di halaman 149, "di dalamnya ada beraneka ragam buah, bahkan sirupnya bisa beraneka rasa." Ya, cinta diibaratkan seperti koktail buah; nikmat, beraneka rasa, dan tentu saja halal.

Maka pada bab pertama, Semangkuk Cocktail Cinta mulai mengajak pembacanya untuk memahami cinta yang benar. Cinta yang benar adalah cinta yang membangun, bukan merusak. Tiga diantara indikasi cinta merusak, dipotret melalui tiga kisah nyata. Kisah pertama adalah seorang mahasiswi yang telah menyadari bahwa pacaran tidak dibenarkan. Namun, ia sulit berpisah dari pacar yang telah memberi ciuman padanya. Nah.

Kisah kedua, teman penulis yang mengalami depresi dan menjadi kurang waras karena cinta. Maka berubahlah ia dari yang semula muslimah santun dengan aurat tertutup menjadi bermake-up tebal dan berkaca mata hitam. Sedangkan kisah ketiga, seorang ibu yang berkonsultasi kepada penulis tentang anak-anaknya. Ternyata si ibu ini tergolong obsesif. Cintanya kepada anak dan keinginan menjadikan mereka disiplin, menjadikannya menjalankan cara yang keras, sejalan dengan tempramennya. Yang terjadi kemudian bukan anak-anak berubah shalih, tetapi malah durhaka, hingga pernah meludahi dan menendang ibunya.

Cinta yang sulit berpisah, gila cinta, dan ibu obsesif merupakan tiga potret cinta merusak. Berkebalikan dengan jenis cinta ini, Semangkuk Cocktail Cinta menggambarkan cinta yang membangun dalam tiga kisah juga. Kisah pertama adalah keislaman Khalid bin Walid. Perhatian dan cinta Rasulullah kepadanya, yang disampaikan dalam surat Walid bin Walid, menjadikan Khalid mengakhiri kebimbangannya dan memutuskan masuk Islam paska perjanjian Hudaibiyah.

Ummu Salamah menempati kisah kedua potret cinta yang membangun. Setelah ditinggal suaminya syahid dalam perang melawan Bani As'ad, ia dinikahi Rasulullah. Namun sekuel cinta yang juga luar biasa adalah doa sang suami, Abu Salamah ketika ia meminta tidak menikah setelah wafatnya: "Tidak. Akulah yang akan meninggal lebih dulu dan kau kudoakan menikah lagi dengan orang yang lebih baik dariku". Sedangkan kisah ketiga adalah kecerdasan Ibnu Abbas saat berdialog dengan orang-orang khawarij yang menentang Ali bin Abu Thalib dengan alasan Ali bertahkim kepada manusia, tidak mengambil ghanimah dan tawanan saat perang dengan Aisyah dan Muawiyah, serta menanggalkan gelar Amirul Mukminin. Kecintaan Ibnu Abbas kepada Ali yang diwujudkan dalam dialog ini mampu memahamkan mayoritas orang-orang Khawarij itu.

Tiga kisah ini memang berbeda. Tetapi ketiganya diikat oleh satu kesamaan: kebesaran jiwa berpengaruh besar pada cara seseorang mewujudkan cinta. Kebesaran jiwa lahir dari pemahaman yang benar tentang Dzat Yang Maha Besar. Maka kepada-Nyalah cinta ditujukan. Dengan petunjuk-Nya cinta diarahkan. Mencintai cinta yang dibenarkan dengan cara yang dibenarkan pula oleh-Nya.

Secara garis besar Semangkuk Cocktail Cinta menunjukkan enam jalan menjadikan Allah sebagai tujuan cinta. Pertama, Beribadah hanya kepada Allah. Kedua, Mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Ketiga, Meninggalkan kemaksiatan. Keempat, Menunaikan Kewajiban dan Ibadah Sunah. Kelima, Bertaubat. Dan keenam, Berakhlak mulia.

Jangan Malu Mengekspresikan Cinta
Itu judul bab kedua. Jika cinta kepada Allah dilakukan dengan enam langkah di atas, cinta kepada manusia seyogyanya tidak membuat seseorang malu mengekekspresikannya. Asalkan cintanya benar, tidak ada masalah. Bahkan akan membuat cinta lebih merekah. "Ketika seseorang mencintai saudaranya," sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, "hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya."

Semangkuk Cocktail Cinta memberikan 10 cara mengekspresikan cinta. Pertama, ungkapkan kata-kata berkesan. Ini bentuk ekspresi secara verbal. "Aku mencintaimu karena Allah," bisa jadi pilihan ketika kita mencintai sesama ikhwah, sebagaimana dulu para sahabat Nabi mengatakan pada sesamanya. "Abi dan Umi sangat menyayangimu," adalah ungkapan berkesan bagi anak. Demikian pula memanggil istri dengan kata "sayang", adalah contoh lain dari cara pertama ini.

Kedua, tersenyum manis dan tulus. Sebab senyum adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja. Ia mendekatkan dua insan meskipun tanpa kata-kata. Ketiga, kurangi memberi kritikan. Seperti kita yang tak pernah mengkritik diri sendiri meskipun salah, begitu pula orang yang kita cintai menginginkan hal yang sama. Bukan berarti kita membiarkan orang yang kita cintai dalam kesalahan atau kekurangan. Cara yang direkomendasikan Semangkuk Cocktail Cinta adalah mengganti kritikan dengan nasihat dan saran.

Keempat, beri perhatian dan pujian secukupnya. Kelima, terapi sentuhan. Sebagaimana seorang bayi yang digendong ibunya merasakan kehangatan dan rasa aman, seorang anak yang dipeluk orang tuanya akan merasakan cinta, kasih sayang, dan dukungan. Bersalaman dan mencium pipi sesama ikhwah juga mengeratkan ikatan persaudaraan. Pada suami istri, tentu terapi sentuhan lebih dalam maknanya dari itu semua.

Keenam, mendoakan dan minta didoakan. Entah mendoakan tatkala bertatap muka maupun dalam keheningan malam dan kesendirian tanpa ada yang menyaksikan kecuali Dzat Yang Maha Mendengar Doa. Ketujuh, memberi hadiah. Kedelapan, memaafkan dan menyimpan aib. Kesembilan, meringankan beban. Dan kesepuluh, mengajak meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Harmoni Cinta Suami Istri, Anak dan Orang Tua, dan Peran Lainnya
Di bawah judul harmoni Status dan Peran dalam Relasi Cinta, bab 3 menjelaskan peran suami, istri, anak dan orangtua agar dapat dijalankan sebaik mungkin hingga keluarga menjadi semanis cocktail cinta. Dalam bab yang sama dibahas pula peran sebagai tetangga, profesional, dan dai. Sebab, umumnya kita tidak lepas dari peran-peran itu.

Menjadi pendidik istri, memberi nafkah lahir batin, dan memberi kesempatan istri mengembangkan potensi adalah peran seorang suami. Pada peran pertama, Semangkuk Cocktail Cinta mengetengahkan hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari Muslim : "nasihatilah para wanita itu baik-baik karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang teratas. Jika engkau berlaku keras di dalam meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Tetapi jika engkau biarkan, tentu akan tetap bengkok. Karena itu, berilah nasihat kepada para wanita." Subhaanallah!

Sedangkan tentang nafkah, dicantumkan hadits riwayat Abu Daud dari Muawiyah bin Haidah: "Wahai Rasulullah, apakah kewajiban seorang suami kepada istrinya?" beliau menjawab, "Engkau memberinya makan sebagimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, jangan memukul mukanya, jangan mencelanya, dan jangan meninggalkan dirinya kecuali di dalam rumah sendiri."

Selanjutnya, peran istri membawa tanggung jawab untuk taat kepada suami, bersyukur dan amanah terhadap pemberian suami, memenuhi ajakan suami, dan menjaga kehormatan diri.

Peran orang tua memiliki empat kewajiban kepada anaknya: memberi nama yang baik kepada anak, mendidik anak taat beribadah dan berakhlak mulia, memberikan lingkungan yang baik, serta memberi nafkah dari rezeki yang halal. Sebaliknya, peran anak menghajatkan untuk memberikan cinta kepada orang tua setidaknya dalam tiga hal: merawat orang tua dengan kasih sayang, memberi nafkah, dan menyambung silaturahim.

Sebagai tetangga, peran kita membawa pada kewajiban yang menjadi hak mereka: berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga, bersedekah atau memberi hadiah, serta membantu kesulitan tetangga. Sedangkan peran profesional melahirkan tanggungjawab kita pada profesi yang kita geluti: bekerja pada bidang kerja yang halal, disiplin dengan jam kerja, membaguskan pekerjaan, dan amanah dalam mengelola uang.

Terakhir, tetapi yang justru menjadi peran pertama sesuai kaidah nahnu du'at qabla kulli syai'in, adalah peran kita sebagai dai. Yakni menuntut ilmu dan menyampaikannya, berusaha menjadi teladan, berdakwah dengan santun, cepat tanggap tapi tidak reaktif, berdoa untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta mengajak masyarakat memperbaiki sistem hidupnya.

Mengatasi Konflik Peran
Tidak ada manusia dewasa ini yang memiliki satu peran saja. Sebagai dai, minimal kita akan memiliki 3 peran: dai, anak, dan tetangga. Ini bagi yang belum bekerja dan menikah. Bagi yang telah bekerja ditambah satu peran: peran profesi. Bagi yang sudah berkeluarga ditambah satu lagi: istri/suami. Dan bagi yang telah memiliki anak perannya ada lagi: sebagai orangtua. Belum lagi yang amanah dakwahnya banyak. Perannya bisa bertambah-tambah. Sebagai mas'ul organisasi A. Sebagai pengurus wajihah B, dan sebagainya.

Banyaknya peran itu bukannya tidak mungkin akan melahirkan konflik peran. Misalnya seorang ikhwah yang sangat militan dan terkenal sukses dalam perannya sebagai dai, tetapi ia kurang perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Atau orang sukses dalam menjalankan peran sebagai orang tua, dai, dan profesional, tetapi tidak saling mengenal dengan tetangganya.

Bab 4 Semangkuk Cocktail Cinta menyuguhkan lima modal untuk mampu mengatasi konflik peran itu. Pertama, kemampuan komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, konflik peran bisa diatasi. Sebab selain untuk menyampaikan pesan dan informasi, komunikasi juga berfungsi untuk mempererat jalinan relasi dan mengungkapkan isi hati. Pentingnya komunikasi sangat diperlukan, misalnya ketika ada dua atau lebih agenda bersama dalam peran berbeda. Dengan komunikasi yang baik pada pihak yang bersangkutan, kita bisa memahamkan mereka dan mengeliminir konflik peran. Demikian pula jika ada kepentingan yang seakan-akan bertolak belakang antar peran. Misal keluarga ingin A sementara peran dai mengharuskan B. Komunikasi yang baik bisa menjadi jalan keluar, yang bisa jadi A dan B bisa ditempuh dua-duanya karena pada hakikatnya tidak bertolak belakang.

Kedua, kemampuan intrapersonal. Yakni kemampuan untuk 'mengelola' diri sendiri, yang meliputi kemampuan refleksi diri, mawas diri, menghargai diri sendiri, belajar dari pengalaman dan memaknai cinta. Semangkuk Cocktail Cinta juga menuliskan anjuran Donald Trump dalam buku How to Get Rich untuk melakukan refleksi diri selama tiga jam per hari.

Dengan kemampuan intrapersonal yang baik, seseorang akan bisa mengevaluasi peran-perannya dengan jernih, mengenali kekurangannya dalam peran yang ada, dan menemukan jalan memperbaiki diri hingga setiap peran bisa dilakukan dengan optimal tanpa terjebak pada konflik peran.

Ketiga, kemampuan interpersonal. Yakni kemampuan membangun relasi dengan orang lain. Semua peran yang disebutkan dalam bab 3 Semangkuk Cocktail Cinta pasti menghajatkan relasi dengan orang lain. Kemampuan interpersonal yang baik membantu kita menjalankan segala peran dengan baik pula, tanpa konflik yang berarti dengan orang-orang yang terlibat dalam berbagai peran itu.

Keempat, kemampuan kontrol diri. Kemampuan ini sebenarnya merupakan bagian dari kemampuan intrapersonal, namun karena begitu pentingnya, Semangkuk Cocktail Cinta menempatkannya sebagai modal tersendiri. Dengan kemampuan ini, kita lebih mudah menghentikan segala aktifitas negatif yang tidak sejalan dengan peran kita, bahkan sebelum aktifitas negatif itu mulai dilakukan. Tanpa kontrol diri yang baik, bisa jadi kita mudah terdorong dalam perbuatan negatif yang merugikan salah satu atau beberapa peran kita.

Kelima, kemampuan mengelola waktu. Fakta bahwa satu hari terdiri dari 24 jam dan berbagai peran membutuhkan waktu kita, membawa kita pada kesadaran bahwa kewajiban lebih banyak daripada waktu. Diperlukan kiat-kiat mengelola waktu agar konflik peran bisa diatasi. Semangkuk Cocktail Cinta memberikan 7 kiat sebagai berikut:
1. Tidak menunda pekerjaan
2. Tidak berlebihan dalam bersosialisasi dan mengobrol
3. Menghadiri forum undangan tepat waktu
4. Membuat agenda kerja
5. Mengkhususkan waktu untuk ibadah, istirahat, bersama keluarga, dan majelis iman
6. Kemampuan mendelegasikan tugas
7. Kemampuan menjaga keikhlasan

Cocktail Cinta dari Allah
Setiap kita tentu tidak hanya menginginkan cocktail cinta dari suami/istri, anak, orang tua, atau sahabat dan sesama ikhwah. Jauh lebih daripada itu, cinta yang kita inginkan adalah cinta Allah SWT. Bab 5 Semangkuk Cocktail Cinta membawa kita menelusuri cinta Allah. Tentu dengan harapan agar kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyongsong cinta-Nya.

10 cara Allah SWT mencintai hamba-Nya adalah sebagai berikut:
1. Allah menyatakan rasa cinta-Nya, baik dalamAl-Qur'an maupun hadits, hingga jelaslah siapa yang berhak mendapatkan cinta-Nya
2. Cinta-Nya melebihi cinta ibu
3. Memberi kenikmatan surga dan memperlihatkan Wajah-Nya
4. Allah mengampuni dosa
5. Allah memberi petunjuk
6. Allah memberi rezeki
7. Allah memberi rasa cinta diantara manusia
8. Allah mengabulkan doa
9. Allah menutup aib hamba-Nya
10. Allah memberi cinta khusus kepada wali-Nya

Akhirnya, semoga dengan kehadiran buku Semangkuk Cocktail Cinta ini kita bisa menggapai cinta Allah dan cinta sesama manusia, khususnya dalam lingkaran peran kita. Hingga terciptalah pelangi indah kehidupan memayungi nikmatnya beraneka rasa cinta lalu berujung pada surga dan nikmat abadi memandang wajah-Nya. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK SEMANGKUK COCKTAIL CINTA BISA DIDOWNLOAD DI SINI
Powered by Blogger.