Melejit Dalam Diam


Bahwasanya Nabi SAW beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah Azza wa jalla mewafatkannya, kemudian para istri beliau beri'tikaf setelah itu. (Muttafaq alaih dari Aisyah)


Kini kita tengah berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Waktu khusus yang sangat tepat untuk i'tikaf. Sebagaimana Rasulullah membiasakan menghabiskan sepertiga akhir Ramadhan ini dengan i'tikaf, beruntunglah umatnya yang bisa mengikuti sunnah itu.

Jika i'tikaf berarti berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, maka ada banyak varian ibadah yang bisa dilakukan mukmin di saat itu. Shalat, dzikir, tilawah, dan taklim adalah sekian diantara aktifitas yang biasa dilakukan.

Ada lagi aktifitas yang tak kalah pentingnya untuk dilakukan selama i'tikaf. Anis Matta dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan menyebutnya: perenungan. Ia nama lain untuk istilah tradisi penghentian atau majlis iman yang disebut dalam Menikmati Demokrasi. Ketiga nama ini mengarah pada aktifitas merenung, menghayati, dan melakukan muhasabah. Secara fisik memang pelakunya diam. Namun dalam diam, ia menggunakan mata hatinya untuk berdialog: tentang hidupnya, sudahkah sejalan dan menuju kehendak Ilahiah? Jika dipanggil Allah saat ini, siapkah berpindah dari dunianya menuju keabadian akhirat? Lalu apakah Allah akan meridhainya dan menempatkannya di surga atau memurkainya dan melemparkannya ke neraka?

Secara fisik seorang muslim dalam kondisi demikian terlihat diam. Namun nurani membawanya berjalan menyusuri kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan akibat-akibat yang menjadi konsekuensinya di masa depan. Menetesnya air mata hanyalah sebuah indikasi, betapa ia telah sadar akan kesalahannya atau bahkan begitu rindu untuk berjumpa dengan-Nya. Indikator keefektifan perenungan ini justru adalah munculnya kesadaran untuk melakukan perbaikan paska i'tikaf. Ia akan melejit dengan berbagai langkah yang telah difokuskan untuk mencapai kesempurnaan.

Seperti seorang penebang pohon yang dikisahkan Stephen R. Covey dalam The Seven Habits. Orang itu begitu sibuk menggergaji. Makin lama ia makin lamban. "Asahlah gergajimu dulu" saran orang bijak yang melihatnya. "Aku terlalu sibuk menggergaji", begitu jawabnya. I'tikaf akan menjadi pengasahan gergaji ketika perenungan ada di dalamnya. Kita menemukan penyebab tumpulnya hati kita, lalu kita menajamkannya sejak saat itu. Kita lebih dekat kepada Allah, sekaligus mulai mengerti dinding-dinding tebal yang selama ini menjadi penghalang; lalu kita lebih mudah merobohkannya.

Maka tidak berlebihan jika Anis Matta mengatakan: "Perenungan sebenarnya merupakan tradisi yang menjadi pintu pembuka terhadap begitu banyak kebaikan yang tersimpan di dasar laut diri kita." Lalu, "jika kita menguasai tradisi ini", lanjutnya, "kita akan bertemu dengan sumber keajaiban di dalam diri kita." [Muchlisin]
Powered by Blogger.