Kekayaan, Shadaqah, dan Doa yang Pasti Dikabulkan


Jika Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya kemudian dalam waktu singkat memperoleh kekayaan yang tak kalah jumlahnya untuk dishadaqahkan kembali, itu menyisakan pertanyaan bagaimana siklus yang demikian hebat bisa terjadi? Infaq, kembali kaya, infaq lagi, kembali kaya lagi, tetap berinfaq, begitu seterusnya.

Siklus itu tidak hanya dialami Abu Bakar. Banyak orang kaya yang hartanya seakan tak pernah berkurang meskipun selalu diinfakkan. Bahkan menjadi bertambah. Oleh sejarah, mereka diabadikan sebagai orang-orang kaya. Bukan karena selalu banyak uang, tetapi rentang kondisi "uang terbatas" hanya "masa transisi" yang amat singkat dibandingkan masa-masa kemelimpahan.

Bagaimana mereka dengan cepat memperoleh kekayaan kembali, bahkan melebihi apa yang mereka infakkan? Selain variabel keterampilan investasi dan bisnis, ada variabel lain yang sering terlupakan.

Suatu hari Sa'ad bin Abi Waqas menceritakan kelebihannya dalam hal kekayaan. Dibandingkan sebagian orang di sekitarnya, Sa'ad lebih kaya dari mereka. Kekayaan memang memberikan banyak keutamaan bagi seorang mukmin. Bukankah ia bisa berzakat, memerdekakan budak, dan sebagainya. Patutlah jika kekayaan dipandang secara proporsional dan menjadi kebanggaan karena menjadi ladang amal. Tetapi bagaimana sikap Sang Nabi ketika mendengar perkataan Sa'ad? "Kalian tidaklah diberi pertolongan dan rezeki", sabda Sang Nabi sebagaimana direkam Imam Bukhari, " melainkan karena orang-orang yang lemah diantara kalian"

Rasulullah mengingatkan hakikat besar. Variabel pengundang kekayaan yang seringkali terabaikan. Ya, Sa'ad bin Abi Waqas dan orang-orang lainnya bisa menjadi kaya atau lebih kaya karena kaum dhua'fa. Dengan doa mereka.

Orang-orang kaya menshadaqahkan sebagian hartanya kepada kaum dhuafa' secara langsung. Namun kaum dhuafa' "mengembalikan" harta kepada mereka dalam jumlah yang lebih besar melalui doa. "Ya Allah, sungguh dermawan hamba-Mu yang telah Engkau kirim kepadaku ini. Maka luaskanlah rizkinya" Doa kaum dhuafa yang ikhlas seperti ini akan membukakan pintu rizki. Tiba-tiba orang yang kaya mendapati dirinya begitu mudah mendapatkan kekayaan, bahkan dari jalan yang berbeda-beda. Karena doa dhuafa'.

“Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya", sabda Sang Nabi dalam riwayat yang berbeda, "melainkan malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata, ‘Amin....” Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahih-nya itu memperkuat alasan pasti dikabulkannya doa kaum dhuafa' pada orang yang bershadaqah padanya. Bukankah mereka biasa mendoakan tatkala si pemberi sudah pergi? Itu diamini malaikat!

Itu shadaqah kepada perseorangan. Sedangkan bagi Abu Bakar yang berinfak dengan seluruh hartanya pada Perang Tabuk, ia mendapatkan doa lebih banyak lagi. Bayangkan mereka yang semula tidak bisa turut berjihad karena tidak mendapatkan kendaraan dan perbekalan. Mereka begitu gembira setelah menyadari bisa berangkat jihad berkat infak Abu Bakar. "Ya Allah, jika orang seperti Abu Bakar Engkau karuniai rezeki yang lebih banyak, kekayaan yang lebih melimpah, tentulah agama ini semakin terbantu dengan jihad maaliyahnya", begitu kira-kira doa mereka, "maka tambahkan kekayaannya, berkahilah hartanya, luaskanlah rizkinya..."

"Memberi adalah rahasia bagi kebanyakan keluarga yang sangat kaya," kata Robert T. Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad, "itu sebabnya ada organisasi seperti Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Organisasi-organisasi itu dirancang untuk mengambil kekayaan mereka dan meningkatkannya, dan juga memberikannya untuk selama-lamanya."

Karena memberi adalah kebaikan universal, kita kini menemukannya dalam buku-buku tentang uang dan cara mendapatkan kekayaan, termasuk buku-buku Robert T. Kiyosaki itu. "Berikanlah dan kemudian Anda akan menerima." Katanya menyimpulkan.

Jika memberi, shadaqah, infaq, diyakini semua orang sukses sebagai penambah kekayaan, alih-alih menguranginya, beda mukmin dengan orang lain tetap ada: "Orang mukmin memberi karena Allah, bukan karena mengejar kekayaan yang lebih besar. Orang mukmin menyadari hartanya dari Allah, dan di jalan-Nya ia membelanjakan." [Muchlisin]
Powered by Blogger.