Keluarga Dakwah Keluarga Cinta


Telah lama suami istri itu hidup berdua. Dalam cinta. Saling setia, saling menguatkan dalam perjuangan. Allah belum jua mengaruniai mereka putra. Maka, berdua mereka berdakwah. Berdua mereka hijrah.

Sesampainya di Mesir, raja yang semula memiliki niat buruk pada akhirnya justru memberikan budak wanita, yang kemudian menjadi orang ketiga dalam hidup mereka. Dengan latar usia yang telah mencapai 80-an tahun, sang suami diminta Sarah menikahi wanita itu. jadilah Hajar istri kedua Ibrahim.

Tak lama berselang, di saat usia Ibrahim menginjak 85 tahun, lahirlah Ismail dari rahim Hajar. 15 tahun berikutnya, lahirlah Ishaq dari rahim Sarah. Dari keduanya lahirlah para nabi. Bahkan seluruh nabi yang diutus setelah zaman Ibrahim adalah keturunannya. Yang terbesar tentu saja khatamul anbiya’ wal mursalin: Rasulullah Muhammad SAW. bersamaan dengan itu Allah juga menjanjikan 12 pemimpin besar dari keturunan Ismail. “Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz”, tegas Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya’, “sisanya adalah khalifah dari Bani Abbas.”

Keluarga Ibrahim adalah keluarga dakwah dan keluarga cinta. Betapa hebatnya keluarga ini hingga setiap shalat umat Islam menyebut nama mereka. Dalam tasyahud akhir kaum muslimin di seluruh dunia berdoa agar Allah melimpahkan shalawat dan barakah kepada keluarga Muhammad Rasulullah sebagaimana Allah melimpahkan keduanya kepada keluarga Ibrahim ini.

Keluarga dakwah yang ideal ini bukan hanya karena dipimpin seorang suami yang notabene adalah seorang nabi. Istri-istri dan anak-anaknya juga teladan dalam dakwah.

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorangpun dan tak ada sesuatupun di sini?” Hajar memelas ketika sadar Ibrahim meninggalkannya berdua dengan Ismail yang masih bayi di pegunungan Faran.

Ibrahim tidak menoleh. Sebagai suami yang penuh cinta sebenarnya ia tak tega. Namun ia harus kuat. Digerakkannya kakinya untuk terus melangkah. Berkali-kali Hajar mengulang kalimatnya, Ibrahim tetap tak menoleh.

“Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Hajar akhirnya sadar dengan pertanyaan kunci ini. “Ya”, jawab Ibrahim. “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.” Jika memang itu perintah Allah, memang tak perlu lagi bertanya mengapa. Logika keimanan Hajar sudah tahu apa yang harus dilakukannya; sami’na wa atha’na.

Dari ayah yang teguh dalam mengemban dakwah dan ibu yang memiliki keimanan sempurna ini, Ismail menjadi teladan putra keluarga dakwah. Maka ketika sang ayah mengajaknya bermusyawarah tentang mimpi menyembelihnya, ia dengan mantab menjawab sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an dalam QS. Ash-Shafat ayat 103: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Sempurna! Ibrahim, Sarah, Hajar, dan putra-putra mereka menjadi contoh ayah, ibu, dan anak yang hidup dalam cinta dan dakwah.

Ketika keimanan menjadi landasan utama, lalu mengejawantah dalam amal nyata, Allah tidak membiarkan hamba-Nya berada dalam kesulitan. Ujian diangkat, pertolongan dilimpahkan. Jadilah usaha keras Hajar berlarian tujuh kali Shafa – Marwa mencari air untuk putranya berakhir dengan memancarnya zam-zam. Jadilah kesediaan Ismail mengorbankan dirinya berakhir dengan rahmat Allah yang menggantinya dengan domba. Lalu jadilah keluarga ini teladan sepanjang masa.

Ibadah haji yang kini puluhan jutaan kaum muslimin tengah berada di tanah suci untuk menunaikannya, dan ibadah qurban yang nanti ratusan juta kaum muslimin melakukannya membawa pesan kepada kita untuk meneladani keluarga Ibrahim; keluarga dakwah, keluarga cinta. [Muchlisin]
Powered by Blogger.