Kepada Allah, Su'udzan vs Husnudzan


Orang yang su'udzan mengatakan, "Ya Allah... mengapa selalu ada kebutuhan tak terduga setelah engkau memberikan rezeki padaku"

Orang yang husnudzan mengatakan, "Segala puji bagiMu ya Allah... setiap kali ada kebutuhan yang menghampiriku Engkau selalu memberi rezeki agar mampu memenuhi kebutuhan itu"

Orang yang su'udzan memandang lingkungan dan latar belakang sebagai nasib yang tak dapat diubah. Orang yang husnudzan memandang lingkungan sebagai tantangan yang harus diubah.

Orang yang su'udzan berfokus pada kesulitan dan kerugian pada setiap masalah. Orang yang husnudzan berfokus pada hikmah dari semua masalah.

Orang yang su'udzan mengatakan, "Ya Allah... sungguh tidak enak memiliki istri yang cerewet dan banyak bicara. Ubahlah ia atau gantilah dengan yang lebih baik"

Orang yang husnudzan mengatakan, "Ya Allah... terima kasih Engkau memberikan istri yang melatihku untuk bersabar. Jadikanlah aku termasuk golongan hamba-Mu yang bersabar"

Ketika doanya belum terkabul, orang yang su'udzan mulai berpikir buat apa banyak ibadah, orang yang husnudzan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Ketika terlambat karena kendaraan mogok, orang yang su'udzan menyalahkan mobilnya dan merasa Allah tidak berpihak padanya. Orang yang husnudzan meyakini Allah baru saja menyelamatkannya dari kecelakaan yang bisa saja terjadi jika Allah tak menghentikan kendaraannya.

Ketika hajat duniawinya tak terpenuhi, orang yang su'udzan beranggapan Allah tak sayang hamba-Nya. Orang yang husnudzan berpikir, "Allah akan memberi yang lebih baik agar aku tak semakin jauh dari-Nya".

***

Silahkan tambahkan kalimat berikutnya untuk saling meneguhkan hati kita agar senantiasa husnudzan kepada Allah. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
Powered by Blogger.