Mengenang Masa Bujang


Nasyid-nasyid itu tidak hilang. Masih tersimpan cukup rapi dalam memori PC tua. Hingga tibalah kemarin siang, saat jemari ini memindahkannya ke mp3 player dan memutarnya. Mengalunlah suara merdu The Zikr, Suara Persaudaraan, dan munsyid-munsyid sezaman... membawa kenangan beberapa tahun silam, masa-masa bujang.

Awal menjadi mahasiswa juga awal bergabung dengan dakwah. Di LDK, saya menemukan mereka. Sahabat-sahabat terbaik sekaligus jalan mulia ini. Bersama-sama, kami melalui hari. Di kampus, ataupun di kontrakan. Menjalani hidup yang seakan tanpa beban. Bebas ke mana saja. Kapan saja.

Kadang kami berangkat ke kampus sebelum Subuh. Setelah shalat berjamaah kami berdiskusi atau menyimak pengajian, lalu lari-lari. Siangnya asyik bergelut dengan komputer atau menyiapkan kegiatan. Sepenuh hari Ahad dihabiskan di kampus dengan dominasi suasana ruhiyah dan harakiyah.

Terkadang kami juga begadang sampai larut malam. Hingga mendekati fajar. Belum ada percetakan digital seperti sekarang. Maka tak jarang kami menghabiskan lebih dari separuh malam untuk menggoreskan kuas bersama-sama. Sebelum terbit surya, kami telah memasang baliho itu. Lalu dengan puas memandanginya. Sekali-kali berfoto di depannya.

Masa itu, masa bujangan. Waktu sepenuhnya menjadi milik kami. Tanpa terikat oleh orang tua yang tinggal di lain kota. Tanpa terikat oleh keluarga; istri dan buah hati.

Di masa itu kami juga tidak bergelut dengan "aktifitas siyasi." Aktifitas-aktifitas kami terbatas pada amal tarbawi, amal tsaqafi, dan amal khidami. Maka nasyid-nasyid di waktu itu adalah nasyid acapella, sebagian diiringi rebana; lembut, menyentuh ruhiyah, bernuansa tazkiyah.

Dalam keterbatasan kantong mahasiswa seperti kami, amat terasa getar-getar jiwa ditemani syahdunya The Zikr:
Tuhan... leraikanlah dunia
Yang mendiam di dalam hatiku
Kerana di situ tidak kumampu
Menghimpun dua cinta...


Mengingat saat-saat seperti itu, bergelayut dua renungan dalam jiwa. Pertama, kerinduan kembali masa-masa bernuansa ruhiyah seperti saat itu. Senada nasyid-nasyid acapella, betapa sejuknya aktifitas tarbawi, tsaqafi dan khidami. Sebenarnya di mihwar muasasi suasana itu tidak hilang. Tapi entahlah, kadang aktifitas siyasi membuat jiwa merasa "kering".

Kedua, barulah kini terasa betapa berharganya masa itu. Masa-masa bujang. Masa ketika segala waktu bisa dijadwalkan seorang diri.

Mengingat masa-masa itu, barulah kini tersadar... mengapa masa itu tidak dimanfaatkan lebih baik lagi. Membaca... mencari ilmu... mendalami agama. Mungkin bukan hanya saya, Anda juga merasakannya. Bahkan ulama sekaliber Ibnu Jauzi pun mengakui, "Salah satu hal menakjubkan yang kusesalkan pada diriku dan seluruh manusia adalah melupakan umur yang dimiliki. Padahal umur manusia di dunia sangat pendek."

Setelah manusia menikah, diamanahi putra, maka kesibukannya akan meningkat. Waktu luangnya semakin sempit. Di saat seperti itu, kesempatan mendalami agama makin menipis. Tidak seperti ketika masa bujang. "Bertafaqquhlah kalian", nasihat Umar bin Khatab sebagaimana direkam Imam Bukhari, "sebelum kalian menjadi pemimpin." Dalam Tajul Arus, Murtadha Az-Zubadi menjelaskan nasihat itu. "masud dari perkataan Umar tersebut adalah," katanya, "pelajarilah ilmu fiqih sebelum kalian menikah, sebab di waktu kalian telah menikah, tak lagi kalian miliki waktu untuk menuntut ilmu itu."

Itulah mengapa sebagian ulama menganjurkan pemuda penuntut ilmu untuk menunda dulu pernikahannya. Khatib Al Baghdadi, misalnya. Beliau menasehatkan, "Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk tidak menikah dulu agar ia tidak disibukkan oleh urusan rumah tangga atau mencari penghidupan."

"Aku menyarankan", nasihat Ibnu Jauzi dalam Shaidul Khatir, "orang yang baru mulai mencari ilmu tidak menikah terlebih dahulu."

Alasan ini pula yang memperkuat azam sejumlah ulama untuk tidak menikah hingga usia tua. Bahkan, ada ulama-ulama yang akhirnya membujang seumur hidup. Ada Imam Ath-Thabari, Imam An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Syaikh al-Badawi, sampai Sayyid Quthb.

Tentu saja renungan ini tidak dimaksudkan agar kita menyesal dengan pilihan kita telah menikah di usia muda. Sebab itu juga memiliki keutamaan yang luar biasa. Bukankah dengan menikah seorang muslim mendapatkan separuh agamanya? "Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya", sabda Nabi yang diriwayatkan Baihaqi dan Hakim, "Maka bertaqwalah pada separuh yang lain."

Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi –salah satu ulama yang membujang- membuat bab khusus tentang menafkahi keluarga. Sejumlah hadits dikemukakan di sana. Sebagiannya menjelaskan bahwa nafkah kepada istri dan keluarga lebih utama daripada infaq kepada orang lain. Dan hadits lain menjelaskan bahwa nafkah kepada istri dan anak dicatat Allah sebagai shadaqah. Bukankah ini adalah fadhilah yang hanya bisa didapatkan dengan menikah?

Sekali lagi, renungan ini bukan untuk membuat yang menikah menyesal. Sama sekali bukan. Namun, agar para pemuda, pada bujang, memanfaatkan sebaik-baiknya masa bujangnya untuk ber-tafaquh fid din. Selagi belum ada istri yang menahannya untuk pergi. Selagi belum ada buah hati yang harus ditimang dan disayang. Sebelum ada tuntutan bekerja lebih keras untuk menambah nafkah.

Lalu bagaimana dengan yang telah menikah? Tentu saja ia tidak lepas dari tuntutan yang sama. Memanfaatkan waktu yang ada untuk ibadah, meningkatkan kafaah, dan menyiapkan bekal untuk akhirat. Jangan sampai di waktu senja datang penyesalan yang lebih besar.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr : 1-3).

Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
Powered by Blogger.