Menjawab dengan Aksi


Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kata-kata. Tidak semua wacana harus dibalas dengan bahasa verbal. Sering kali, tuduhan akan berhenti dengan sendirinya ketika dihadirkan fakta. Wacana menjadi kandas tak tersisa ketika ada aksi yang tampak demikian nyata.

Kekuatan kebenaran, yang menginstitusi dalam bentuk organ kebaikan –apakah itu jama’ah minal muslimin terlebih lagi ketika ada jama’atul muslimin- sering kali berhadapan dengan tuduhan yang direkayasa sedemikian rupa. Atau secara kebetulan ia mengalami sebuah peristiwa yang kemudian dipoles oleh musuh-musuhnya menjadi opini yang melemahkan. Dari opini itu bisa timbul dua hal. Pertama, secara internal institusi kebaikan akan benar-benar melemah, tidak solid, dan rapuh karena ia berpikir bahwa opini yang dikembangkan musuh-musuhnya itu adalah fakta. Kedua, opini itu menguatkan institusi kebatilan untuk melancarkan serangan berikutnya kepada intitusi kebaikan. Kalau perlu, menghancurkannya.

Begitu mendengar Rasulullah SAW wafat, segera terbangun opini bahwa pemerintahan Madinah melemah. Banyak orang yang kemudian menolak membayar zakat, bahkan murtad. Benih-benih pembangkangan bermunculan, sampai pada taraf konsolidasi untuk melepaskan diri dari jama’atul muslimin. Bahkan kalau perlu menyerang Madinah. Asumsi mereka,kekhilafahan Islam saat itu melemah drastis.

Wacana yang sama juga mulai berhembus ke luar. Imperium Romawi menyusun rencana untuk sesegera mungkin menggempur Islam ke jantung pemerintahannya; Madinah. Asumsinya sama: begitu ditinggalkan oleh Muhammad, pastilah Islam langsung melemah.

Abu Bakar membaca kedua pemikiran ini. Sesuatu yang amat berbahaya jika dibiarkan menjadi liar, lalu benar-benar melemahkan kaum muslimin dan menguatkan musuh-musuh Islam yang selama ini menanti celah untuk menyerang. Abu Bakar tidak ingin ada serangan beruntun. Serangan opini yang merusak, lalu serangan internal jazirah Arab yang menggerogoti kekuatan, dilanjutkan gempuran Romawi yang menghancurkan.

Lalu apa yang dilakukan Abu Bakar? Abu Bakar tidak berkoar-koar “kaum muslimin tidak lemah. Kaum muslimin tetap kuat.” Tidak. Abu Bakar menjawabnya dengan aksi.

Maka Abu Bakar menegaskan tekadnya kepada Umar. Bahwa ia akan memerangi orang-orang murtad, orang-orang yang tak mau lagi membayar zakat. Umar semula tidak mendukung dan mengusulkan langkah yang lebih halus. Namun Abu Bakar yang biasanya lembut kali ini menjadi sekokoh baja. “Apakah engkau yang begitu garang di masa jahiliyah, justru menjadi penakut di masa Islam, wahai Umar?!”, Demikian kata-kata Abu Bakar menegur Umar, sebagaimana diabadikan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’.

Maka gejolak dalam negeri pun selesai. Orang-orang kembali pada Islam, kembali membayar zakat, kembali mentaati khalifah. Bersamaan itu Allah memberikan hidayah hingga mereka menyadari betapa Islam bukan hanya kuat tapi juga benar. Satu-satunya jalan yang diridhai Allah Azza wa Jalla.

Lalu bagaimana dengan ancaman eksternal; Romawi? Abu Bakar bersikap serupa. Tegas. Menjawabnya dengan aksi. Misi Usamah untuk berperang melawan Romawi tetap dijalankan meskipun Rasulullah yang mengutus pasukan itu telah tiada. Abu Bakar bahkan menegaskan, takkan mungkin menarik pasukan yang telah dikirim Rasulullah.

Secara singkat, Khalid Muhammad Khalid menyimpulkan hasil misi Usamah ini. Ia menuliskan dalam Rijaal Haula Rasul, tepatnya ketika mengisahkan riwayat hidup Usamah bin Zaid begini: “Kaisar Romawi Heraklius mendengar berita wafatnya Rasulullah, dan pada waktu yang sama ia mendengar berangkatnya pasukan Islam menuju perbatasan Syam di bawah komando Usamah bin Zaid. Ada perasaan gentar di hatinya. Ternyata wafatnya Rasulullah tidak mempengaruhi tekad dan kekuatan kaum muslimin. Pihak Romawi merasa ciut dan tidak berani lagi meneruskan rencana mereka menggempur pusat pemerintahan Islam di jazirah Arab.”

Musuh-musuh kebenaran, barangkali berpikir sebagaimana strategi ke-19 Robert Greene. “Ketika Anda merasa tekad mereka melemah”, tulis Greene dalam The 33 Strategies of War, “hancurkan daya kemauan mereka dengan mengencangkan simpulnya.”

Saat ini, barangkali tengah terjadi hal serupa. Meskipun masih berupa jama’ah minal muslimin, harakah Islam senantiasa menjadi sasaran; diamati, dilihat celahnya, dibangun opini dan berbagai rekayasa untuk melemahkannya. Terlebih, ketika ada tuduhan atau fitnah yang diarahkan kepadanya.

Tekadang, media mengambil peran untuk membesar-besarkan tuduhan dan opini. Bukan hal yang aneh jika kita mengetahui siapa di balik media dan kepentingan apa yang melatarinya. Maka diarahkanlah sedemikian rupa sehingga terbentuk opini berikutnya; harakah Islam yang solid kini melemah, pecah, tidak lagi kokoh sebagaimana dulu adanya. Tentu saja, bukan sikap yang bijak jika harakah Islam menjawabnya dengan kata-kata: “Kami tetap bersatu. Kami tidak lemah. Kami tetap kokoh.” Lagi pula, itu bukan langkah efektif untuk menjawab tuduhan dan menegasikan opini.

Seperti langkah Abu Bakar, jawabannya adalah aksi. Tentu saja aksi itu beragam. Namun tidak peduli betapa banyaknya pilihan yang bisa dilakukan, aksi itu juga harus mampu menunjukkan bahwa harakah Islam tetap kuat, solid, dan kokoh. Maka selanjutnya, rencana musuh Islam akan dibatalkan, rencana kaum munafik akan kembali ditelan. Dan biarlah tuduhan terjawab tanpa kata-kata, opini menguap ditelan fakta.

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, namun Allah mengetahuinya…” (QS. Al-Anfal : 60)

Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]
Powered by Blogger.