Setelah Usamah Ditembak


Oleh Zaim Uchrowi

Usai sudah drama panjang itu. Senin pagi lalu, Amerika Serikat mengumumkan bahwa pemimpin Alqaidah, Usamah bin Laden, telah tewas ditembak. Usamah disergap di sebuah rumah di kota kecil Abbottabad, hanya sekitar dua kilometer dari pangkalan militer Pakistan. Konon, jenazahnya diurus secara Islam, sebelum kemudian ditenggelamkan ke laut.

"Dalam Islam, jenazah harus dimakamkan kurang dari 24 jam. Kita kesulitan mencari negara yang mau jadi tempat penguburannya." Begitu alasan yang dikemukakan. Sebuah alasan yang manis. Amerika, sebagaimana bangsa manapun, tak ingin ada simbol perlawanan terhadap negaranya. Makam Usamah dapat menjadi simbol begitu. Amerika beruntung, kalangan Wahabi-dari mana Usamah berasal-tak menganggap penting makam.

Satu babak telah ditutup. Mungkin akan ada babak baru pascadrama Usamah. Tapi setidaknya, sekarang tengah jeda. Sebuah saat yang baik buat merenung kembali, apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa di balik ingar-bingar drama dunia berjudul "terorisme" itu hingga dapat terpentaskan selama lebih dari satu dasawarsa? Apa yang perlu kita pelajari buat dunia yang lebih baik mendatang?

Usamah, pada dasarnya, seorang yang baik. Orang yang mengenalnya, seperti anak Adnan Khasogi, menyebut itu. Wajahnya teduh. Tatapan matanya sejuk. Kata-katanya santun. Tentu saja taat beribadah. Hatinya lembut, sangat peduli, dan ringan tangan menolong orang lain. Itulah yang membawanya ke Afghanistan. Saat itu, Afghan tengah terbelah. Ada pemerintah yang ingin memodernisasi bangsanya di satu sisi. Ada oposisi yang merangkul kelompok-kelompok masyarakat tradisional di sisi lain.

Terdesak, Pemerintah Afghan meminta bantuan Uni Soviet, simbol komunisme saat itu. Oposisi memanfaatkannya untuk mengusung label 'Mujahidin'. CIA dan militer Pakistan berkepentingan dengan Afghan. Bahu-membahu mereka membujuk Usamah untuk berjihad melawan kafir komunis. Usamah menggelontorkan uangnya dan ikut perang. Anak-anak Afghan, para siswa madrasah di Pakistan, pun direkrut menjadi pasukan Taliban. Dengan dukungan Amerika dan Pakistan, Taliban-Mujahidin berhasil mengusir Soviet. Tapi, Taliban lalu menghancurkan Mujahidin untuk merebut kekuasaan.

Usamah pulang ke Saudi, kembali berbisnis. Tiba-tiba, Saddam menyerang Kuwait, George Bush memanfaatkannya. Saat itu ekonomi Amerika goyah akibat industri senjata terpuruk. Raja Kuwait ingin merebut kembali negaranya. Saudi butuh perlindungan agar tak diserang Saddam. Dibayar Kuwait dan Saudi, Bush pun menggempur Irak. Konon sekitar 70 persen uang Kuwait habis untuk itu. Juga hampir separuh Saudi. Negara kaya minyak yang masih dapat uang dari haji itu.

Usamah marah pada persekutuan Bush-Raja Fahd. Ia mulai bersuara keras; Saudi mengusirnya. Usamah lari ke Sudan, menghidupkan Alqaidah. Pengikutnya pun mengebom kapal perang Amerika di Yaman, juga Kedutaan Amerika di Nairobi. Terdesak di Sudan, Usamah lari ke Afghan bergabung Taliban-pemerintah antiperadaban yang mengatasnamakan Islam. Gembiralah Bush (Jr). Amerika perlu simbol musuh setelah komunis ambruk. Teroris adalah simbol musuh yang bagus. Usamah adalah nama besar yang layak dicap sebagai 'raja teroris', apalagi setelah peristiwa 11 September di New York, juga tragedi Bom Bali. Kebiadaban yang dilakukan orang-orang baik salah jalan pengagum Usamah.

Menjadi orang baik dan terus berjuang menegakkan kebenaran itu harus. Namun, niat baik harus dilaksanakan dengan cara yang benar-benar baik dan tidak salah, sesuai keadaan yang ada. Itu yang dicontohkan Nabi Muhammad. Bila jalan mewujudkan niat baik keliru, hasilnya akan sangat fatal: akan lahir tragedi yang mengorbankan banyak orang tidak berdosa. Lebih dari itu, juga akan terjebak menjadi bagian permainan orang-orang seperti Bush.

Itu yang terjadi pada Usamah. Seorang yang lahir dan besar dari iklim keagamaan yang tak paham peradaban. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, Jazirah Arab tak pernah lagi menjadi pusat peradaban. Wawasan keagamaannya menjadi sempit, tak seperti di masa Rasulullah SAW dan empat sahabat. Iklim keagamaan itulah yang melahirkan negara Islam kaya minyak yang suka terus memperkaya negara-negara lain yang sudah sangat kaya, namun tega membiarkan saudaranya sendiri di depan mata kelaparan hingga bertikai satu sama lain dan hancur luluh berantakan. Lihatlah keadaan Sudan, Eritrea, apalagi Somalia yang diabaikan para pemimpin Islam Arab.

Islam adalah agama peradaban seperti yang ditunjukkan Nabi. Semestinya pribadi seperti Usamah-juga Ustaz Abubakar Ba'asyir-tak kelewat polos untuk memahami peradaban. Pergulatan dunia adalah pergulatan peradaban. Pergulatan yang dijalani dengan cermat oleh Jepang, Korea, dan Cina, bukan oleh Jazirah Arab yang lebih sibuk menghitung-hitung uang. Polos soal peradaban akan dengan mudah dijebak orang-orang seperti Bush untuk menjadi bagian permainannya. Orang-orang baik akan dijebak menjadi teroris, yang tanpa sadar membuat lingkungan sendiri babak belur.

Drama Usamah sudah ditutup. Drama yang meninggalkan pelajaran agar semua lebih peduli soal peradaban. Mari ajarkan peradaban. Mari pertautkan agama dan peradaban sebagaimana mestinya. Itu yang dapat mempersempit ruang bagi orang-orang macam George Bush-yang selalu ada di setiap masa-untuk membuat drama baru yang mengacaukan kedamaian dunia. [Republika]
Powered by Blogger.