Ingin Anak Cerdas? Jangan Telat Menikah dan Cari Wanita Cerdas!


Bagi anda para pria yang saat ini masih menikmati masa lajang, nampaknya jangan terlalu larut dalam kesendirian yang berkepanjangan. Bagi mereka yang saat ini masih memegang teguh prinsip “tua-tua kelapa, makin tua makin banyak santannya”, sebaiknya juga harus berpikir kembali tentang pendapat mereka tersebut. Apapun alasan anda, bila anda kini telah berusia di atas 30 tahun dan ideal untuk berkeluarga, dianjurkan untuk segera menikah.

Tahukah anda, pertimbangan yang paling urgensi untuk segera menikah adalah bahwa anak yang terlahir dari ayah yang berusia tua akan memiliki kemampuan berpikir (ber-IQ) rendah. Apalagi jika anda menginginkan keturunan berotak brilian, disarankan untuk menikah antara usia 20-30 tahun. Anjuran “jangan telat nikah” seringkali hanya ditujukan kepada kaum wanita. Padahal, jam biologis ternyata tidak mengenal gender.

Dalam sebuah penelitian di Negeri Paman Sam yang diketuai oleh John McGrath MD PhD, dari Queensland Brain Institute of the University of Queensland di Brisbane, Australia, dilaporkan bahwa bayi dan anak-anak yang terlahir dari ayah yang sudah berumur tua memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir lebih rendah. Hal ini merupakan yang pertamakalinya. Dalam penelitian tersebut diketahui dampak dari pria-pria yang telat menjadi ayah hingga usia 40 atau lebih. Menurut McGrath, “sekarang kami memiliki lebih banyak bukti bahwasanya faktor usia ayah berperan penting. Artinya, makin tua ayah, makin jelek pula hasil tes kecerdasan sang anak.”

McGrath bersama timnya mengumpulkan data 33.000 anak di Amerika Serikat yang lahir antara tahun 1959-1965 dari ayah berusia 15-65 tahun. Dalam penelitian tersebut dilakukan analisis terhadap hasil tes kognitif yang dilakukan anak-anak tersebut saat berusia 8 bulan, 4 tahun, dan 7 tahun. Tes tersebut meliputi evaluasi kemampuan anak untuk berpikir dan menganalisis, konsentrasi, belajar, berbicara, membaca, aritmatika, mengingat, serta kemampuan motorik seperti koordinasi tangan dan mata. Hasilnya adalah bahwa makin tua usia sang ayah, makin rendah pula skor kecerdasan anaknya. Sebagai contoh, anak yang terlahir dari ayah berusia 20 tahun memiliki skor tes IQ rata-rata 106,8 poin. Sementara anak yang terlahir dari ayah usia 50 tahun rata-rata skornya lebih rendah, yaitu 100,7.

Keterkaitan antara faktor usia ayah dan IQ yang rendah, menurut Mc-Grath, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah mutasi. Sperma diproduksi di dalam tubuh pria seumur hidup. Makin tua umur seorang pria, spermanya akan semakin mudah mengalami mutasi, yaitu salah mengartikan kode DNA. Akibatnya, perkembangan otak bayi dan anak akan terganggu. Hormon terpenting pria, yakni testosteron, mulai menurun pada usia 30, sehingga pria dianjurkan memiliki anak sebelum usia 30.

Menurut seorang psikiater Mary Cannon MD, dari the Royal College of Surgeons di Dublin, Irlandia, “telat menjadi ayah juga akan berdampak signifikan, baik terhadap kondisi fisik maupun psikologis anak”. Ia mengingatkan beberapa faktor risiko dari telat menjadi ayah. Mulai penurunan skor IQ anak sebanyak 3-6 poin, hingga risiko penyakit mental serius seperti skizofrenia dan autis.

Kecerdasan anak ternyata juga dipengaruhi oleh faktor genetik seorang Ibu. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel, pengaruh tersebut sangat besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu. Ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks.

Kromosom yang berasal dari ibu sebanyak 23 disebut kromosom XX. 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY. Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot. Kemudian zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.

Genetika yang diturunkan dari kedua orang tua, berupa asupan gizi dan rangsangan dari luar. Kebutuhan gizi anak yang tercukupi serta interaksi orang tua dan anak akan mempengaruhi perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetik, asupan gizi dan rangsangan dari luar. Kesimpulannya, walaupun orang tua mempunyai genetik yang baik, namun anak tidak diberi makanan yang dengan gizi yang baik dan tanpa dirangsang motorik halusnya, kecerdasan seorang anak takkan muncul dengan sempurna.

Oleh karena itu, bila anda menginginkan keturunan yang smart, bersegeralah untuk menikah. Carilah isteri seorang wanita yang cerdas yang kelak menjadi ibu bagi putera puteri anda. Karena kedua faktor tersebut sangat menentukan kecerdasan berpikir (IQ) seorang anak.

************


“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati itu air mani yang ditempatkan dengan kokoh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang. Kemudian tulang belulang itu kami bungkus dengan daging”. (QS Al Mu’minun 23 : 12 – 14).

“Kemudian Ia menyempurnakan penciptaan-Nya dan Ia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”. (QS As Sajadah 32 : 9).
[Ella Zulaeha, Kompasiana]
Powered by Blogger.