Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik


Judul Buku : Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik
Penulis : Dina Y. Sulaeman
Penerbit : Pustaka IIMaN, Depok
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Juli 2011
Tebal Buku : 241 halaman

Anda yang telah membaca buku Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Qur'an, atau telah mengetahui cerita tentang Husein Tabataba'i mungkin tidak asing dengan siapa yang dimaksud sebagai "doktor cilik" dalam judul buku ini. Namun, karena tidak semua pembaca mengenalnya dengan baik, perlu kiranya dibahas terlebih dulu siapa dia. Dan seperti itulah buku "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini.

Siapakah Doktor Cilik Itu?
2 bab awal pada buku ini membahas tentang doktor cilik yang tak lain adalah Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i. Bab pertama diberi judul Mukjizat Abad 20 Doktor Honoris Causa 7 Tahun. Sedangkan bab kedua diberi judul Anak Kecil yang Berbicara dengan Al-Qur'an.

Husein Tabataba'i dilahirkan pada 16 Februari 1991 di kota Qom, sekitar 135 kilometer dari Teheran, ibu kota Iran. Kedua orangtuanya menikah pada usia 17 tahun dan keduanya berkomitmen menghafalkan Al-Qur'an. Enam tahun setelah berkeluarga keduanya hafal Al-Qur'an 30 juz sesuai dengan cita-citanya. Dan cita-cita seperti itu juga ingin diwujudkannya pada anak mereka, sejak usia dini.

Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein Tabataba'i sudah hafal juz 30. lalu setelah itu juz 29. Kemudian juz pertama, kedua, dan seterusnya. Pada proses menghafalkan itulah, ayah Husein Tabataba'i, Sayyid Mahdi Tabataba'i, menemukan bahwa metode konvensional itu sangat terbatas. Ia pun mengembangkan metodenya sendiri, yaitu dengan menggunakan isyarat tangan untuk masing-masing kata dalam Al-Qur'an. Dengan metode ini Husein Tabataba'i menjadi lebih mudah menghafalkan Al-Qur'an dan memahami terjemahnya dalam bahasa Persi sekaligus.

Pada Februari 1998, Husein Tabataba'i di usianya yang baru 7 tahun menerima gelar doktor (honoris causa) dari Hijaz Colledge Islamic University di Inggris setelah Husein Tabataba'i lulus ujian doktoral di sana dengan nilai 93 dalam bidang Science of The Retention of Holy Quran. Husein Tabataba'i bukan hanya hafal Al-Qur'an tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Persi, sekaligus memahami makna atau tafsirnya. Salah satu kemampuan istimewa Husein Tabataba'i adalah bisa tahu persis terusan lengkap penggalan ayat, letak ayat itu di surat apa, juz berapa, halaman ke berapa; seperti search engine.

Rahasia Sukses Husein Tabataba'i
Lalu apa rahasia sukses Husein Tabataba'i dalam menghafalkan dan memahami Al-Qur'an secanggih itu? Kita bisa menemukannya pada bab pertama buku ini baik melalui ayah dan ibu Husein Tabataba'i maupun pemaparan langsung penulis.

Husein Tabataba'i hidup di tengah lantunan Al-Qur'an. Ayah dan ibunya hafal Al-Qur'an 6 tahun setelah menikah. Yang tak kalah penting, selama masa kehamilan, ibu Husein Tabataba'i selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih dan pintar.

Saat mengandung dan menyusui Husein Tabataba'i, sang ibunda teratur membacakan Al-Qur'an untuknya. Sehari minimal 1 juz. Ketika Husein Tabataba'i telah lahir, sang ibunda selalu berwudlu sebelum menyusuinya. Bersamaan dengan menyusui, ibunda Husein Tabataba'i tidak melewatkan kesempatan itu untuk memperdengarkan Al-Qur'an untuknya. Jadi, sang ibunda bertilawah sambil menyusui putranya itu. Tentu saja ini mudah karena ia telah hafal Al-Qur'an.

Sejak kecil, ayah dan ibunda Husein Tabataba'i telah menjauhkannya dari musik dan lagu yang tidak islami, campur baur perempuan dan lelaki, serta hal lain yang tak sejalan dengan aturan syar'i.

Metode pembelajaran yang dikembangkan ayah sekaligus guru Husein Tabataba'i menjadi kunci utamanya; efektif untuk anak, sesuai tahap perkembangannya. Metode menghafal Husein Tabataba'i itu bertumpu pada : melalui bermain, menggunakan isyarat tangan, dikaitkan dengan percakapan keseharian, menyenangkan dan langsung diaplikasikan.

Para Penerus Doktor Cilik
Menyusul sukses Husein Tabataba'i, sang ayah tidak berhenti. Ia mengembangkan sistem pembelajaran menghafal Al-Qur'an itu melalui lembaga pendidikan miliknya; Jami'atul Qur'an. Di sana ia mendidik Husein-Husein yang lain hingga jadilah mereka para penerus Husein Tabataba'i.

Sistem pembelajaran itu terbukti efektif dengan keberhasilan anak-anak Iran menghafalkan dan memahami Al-Qur'an dengan cepat. Pada bab tiga, penulis lain yaitu Ismail Amin (buku "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini memang ditulis oleh tiga orang; Dina Y. Sulaeman, Otong Sulaeman, dan Ismail Amin) mengengahkan hasil wawancara dengan empat orang. Selain Husein Tabataba'i, tiga yang lainnya adalah penerusnya; "doktor-doktor cilik" generasi berikutnya.

Ali Amini
Ali Amini lahir pada 27 Juli 2003 di kota kecil Marageh, provinsi Azerbaijan Timur, Iran Barat. Sang ibunda, Zahra (28), biasa membacakan Al-Qur'an untuknya saat ia masih dalam kandungan. Dalam usia yang masih kanak-kanak itu, Ali Amini telah mulai menguasai tafsir dan asbabun nuzul ayat yang dihafalnya. Pada usia tiga tahun, profil Ali Amini sudah masuk surat kabar karena ia mengharapkan Imam Mahdi segera muncul. Dalam sehari, Ali Amini mampu menghafal satu sampai satu setengah hafalan, dengan muraja'ah 6-7 jam sehari.

Sayyid Muhammad Husein Huseini
Berbeda dengan Husein Tabataba'i yang kedua orangtuanya hafidz, orang tua Husein Huseini bukan penghafal Al-Qur'an. Namun mereka memiliki kesamaan: sama-sama cinta Al-Qur'an dan rajin membacanya.

Lebih muda 4 tahun dari Husein Tabataba'i, Husein Huseini lahir 8 Oktober 1995di kota Qom. Ia kini telah hafal 30 juz, paham tafsir, dan juga memiliki kemampuan 'search engine'.

Demi mendukung Husein Huseini mampu menghafalkan Al-Qur'an dan memahaminya dengan baik, sang ibunda, Sadiqah Ma'maari rela meninggalkan profesinya sebagai dokter dan menutup tempat praktiknya. Semata-mata agar ia bisa menemani putranya lebih intens dan "memastikannya" menjadi penghafal Al-Qur'an. Husein Huseini adalah salah satu murid ayah Husein Tabataba'i, Sayyid Mahdi Tabataba'i.

Mujataba Karshenash
Mujataba Karshenash lahir pada 28 Juli 1996, di kota kecil Darab di Provinsi Fars. Saat diwawancarai penulis buku ini, Mujataba Karshenash telah hafal 30 juz. Ia juga telah memiliki kemampuan "search engine" layaknya Husein Tabataba'i, namun belum begitu menguasai tafsir karena ia belum memulai tingkatan itu.

Demi anaknya hafal Al-Qur'an dan bisa seperti Husein Tabataba'i, keluarga Mujataba Karshenash hijrah ke Qom yang berjarak 444 mil dari kota mereka. Di Qom, Mujataba Karshenash disekolahkan di Jamiatul Qur'an milik ayah Husein Tabataba'i. Ibunya juga rela melepas kerja demi anak yang disayanginya itu.

Jami'atul Qur'an di Iran dan Rumah Qur'ani di Indonesia
Pada bab keempat, buku "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini mengetengahkan profil Jami'atul Qur'an dan metodenya dalam mengajarkan anak-anak menghafal Al-Qur'an. Bab ini juga disertai contoh-contoh isyarat tangan untuk sejumlah kata dalam Al-Qur'an berikut dengan foto peragaannya. Sedangkan bab terakhir, bab 5, mengetengahkan penerapan metode ala Jamiatul Qur'an di Indonesia yang dalam hal ini adalah Rumah Qur'ani. Tiga langkah metode Rumah Qur'ani meliputi permainan yang sesuai makna ayat, dongeng/cerita yang merupakan kesimpulan permainan, serta penggunaan isyarat tangan ala Jami'atul Qur'an yang telah disesuaikan dengan budaya dan bahasa Indonesia.

Bonus DVD Husein Tabataba'i
Hal menarik dari buku ini selain wawancara langsung penulis dengan para "doktor cilik" adalah bonus DVD Husein Tabataba'i. DVD berdurasi hampir satu jam itu berisi wawancara dengan Husein Tabataba'i sepulang umrah, acara Husein Tabataba'i di Makkah bersama warga Isran, serta acara Husein Tabataba'i di Makkah bersama para ulama Lebanon. Bagi Anda para orangtua yang memerlukan inspirasi mendidik anak menjadi generasi Qur'ani sekaligus mengetahui metode "doktor cilik", buku "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini pantas Anda miliki. [Muchlisin]

Mau buku Anda direview di blog ini? Kirimkan ke alamat kami dengan terlebih dahulu menghubungi email bersamadakwah[at]yahoo.com
Powered by Blogger.