$type=grid$count=3$$meta=0$snip=0$rm=0$show=home

Taaruf Ketujuh

Kenalan saya, Sayyid, seorang pendongeng, termasuk sedikit di antara dai yang mau berbicara buka-bukaan soal jumlah taaruf (perkenalan) d...

ilustrasi
Kenalan saya, Sayyid, seorang pendongeng, termasuk sedikit di antara dai yang mau berbicara buka-bukaan soal jumlah taaruf (perkenalan) dirinya sebelum mendapatkan seorang istri. Dengan enteng, lugas dan dibumbui canda, dia sebutkan angka belasan. Semuanya tak berhasil. Tak ada Muslimah yang berkenan menjadi pendamping hidupnya. Seingat saya, lebih banyak proposal Sayyid yang ditolak oleh para akhwat itu.

Sampailah pada taaruf kesekian belas, Sayyid berhasil mendapatkan istri. Dengan diuji soal harta menjelang pernikahan akhirnya dia—atas izin Allah—mendapatkan perempuan luar Jawa. Setiap berbicara pernikahan di ceramah-ceramahnya, Sayyid tak lupa menyinggung pengalaman pribadinya soal belum berhasilnya meminang di masa awal-awal. Tak ada yang ditutup-tutupi kecuali nama para akhwat yang pernah menolaknya, tentunya. Sayyid sepertinya ingin memberikan teladan soal kerja keras mendapatkan jodoh. Tidak cengeng hanya ditolak sekali atau maksimal tiga kali.

Menceritakan dengan enteng dan penuh humor menjadi jalan Sayyid mengkatarsis pengalaman pahit. Meski kini digarasikan ceria, saya tidak yakin setiap menghadapi jawaban penolakan itu Sayyid selalu berlapang dada. Pasti ada rasa sedih, kecewa dan kenangan untuk ditinggalkan setelah penolakan itu. Tetapi di sinilah letak keistimewaan Sayyid. Dia tidak menjadikan sesaknya dada setelah ditolak sebagai sebuah bab bernama roman kepiluan. Garis takdirnya selaku pendakwah mengharuskan dia tetap tegar, serapuh apa pun isi hatinya saat tertolak cintanya. Dan Sayyid melalui itu dengan manis. Jauh lebih manis dari kisah pedih Sayyid yang lain di jazirah Mesir yang dirujuknya: Sayyid Quthb.

Sayyid adalah contoh baik fenomena taaruf ketujuh. Ketujuh di sini tidak sama sekali merujuk taaruf sejumlah tujuh kali. Bukan itu maksudnya. Taaruf tujuh, dalam konteks ini, meminjam ilmu balaghah; bahwa kata “tujuh” dalam bahasa Arab sering kali dipakai untuk menunjukkan arti banyak. Banyak yang tak terhitung.

Dalam Al-Quran kata “tujuh”, misalnya, dipakai dalam penciptaan langit (lihat surat al-Mulk [67]: 3; ath-Thalaaq [65]: 12); ilmu Allah (Luqman [31]: 27). Sepengetahuan saya, para mufasir tidak mengartikan tujuh di sini dalam arti denotatif, namun menunjukkan arti banyak, sebanyak-banyaknya.

Nah, jelaslah bukan bahwa taaruf ketujuh bukan berarti taaruf ketujuh kalinya, melainkan taaruf sebanyak-banyaknya tetapi dengan niatan ikhlas. Tak tebersit untuk mempermainkan perempuan atau sekadar gengsi-gengsian. Demi gengsi dalam taaruf, adakah? Ada, menjadi kebanggaan ketika berbincang-bincang lantas ketika dirinya berkata, “Kalau saya sudah taaruf dengan ikhwan sebanyak lima belas dan semuanya saya tolak! Tak ada yang sekufu.” Atau kalimat lain, “Situ baru taaruf dua kali gagal. Saya nih sudah taaruf dua puluh lima kali dengan akhwat, dan semuanya saya tinggalkan lantaran tak ada yang selevel!”

Taaruf ketujuh adalah seperti Sayyid berikhtiar serius, bukan untuk bangga-banggaan. Kalaupun dia menolak, ada landasannya; tidak asal putus. Pun kalau dia mengobati hatinya saat gagal mendapatkan jodoh gara-gara jawaban si akhwat di luar perkiraan optimisnya, pasti dia tengah mengamalkan ilmu ikhlasnya.

Taaruf ketujuh merupakan sebuah pencarian tanpa henti tidak dalam kerangka takabur dan ujub. Merasa diri berada di level aktivis nomor wahid, jam terbang tak terhitung, anak kesayangan ustad senior, akses ke jamaah dakwah luas. Semua ini hanya modal, tetapi tidak untuk dikedepankan sebagai alat menekan calon pendamping. Semua yang dilakukan pelaku taaruf ketujuh ya wajar-wajar saja. Menjadi dirinya sendiri dengan pelbagai kekurangan tanpa harus diselubungi dengan modal-modal tadi.

Seperti Allah yang bekerja menciptakan langit dalam enam masa (lihat: as-Sajadah [32]: 4), begitu pun kita dalam berikhtiar menjemput jodoh. Bagi saya, Sayyid merupakan kisah heroisme tersendiri. Lebih berkesan ketimbang kisah seorang ikhwan langsung mendapatkan pendamping dalam sekali usahanya. Tak ada keringat dan perihnya kaki berjalan saat tertolak. Rekomendasi ustad senior menjadi penentu pengabulan si akhwat—rasa-rasanya taaruf sukses ini sejatinya bukan kisah teladan mengenai bab kegigihan dan keluar dari rasa putus asa.

Maka, ditolak lantaran pendapatan masih serabutan; diusir calon mertua lantaran gelar hanya lulusan SMP; ditekan baik-baik mundur oleh guru mengaji si akhwat lantaran jenjang kadernya masih pemula; disurati si akhwat agar menjadi ustad dulu baru melamarnya; semua ini bagian dari episode merangkai rumah tangga sesungguhnya. Tidak seru dan tidak ada hujan pahala bila kita tembak langsung sukses. Sama halnya dengan tidak ada barakahnya mereka yang sekadar terobsesi bertaaruf lantaran demi gengsi berbangga-bangga dalam menolaki calon pendamping.

Taaruf, sungguh, sebuah kerja-kerja cinta yang menarik. Ada harap, ada sedih, ada haru, dan ada pinta. Mentaarufi ketujuh sebuah ikhtiar dengan sepenuh hati, insya Allah, membuahkan hasil yang tidak serampangan. Karena taaruf ketujuh bukan sebuah permainan sia-sia. Ia justru aktivitas serius dalam menggapai ridha-Nya. Jadi, ditolak berkali-kali hingga lima puluh kali, tetap semangat. Bahkan seorang Abu Bakar dan Umar pun pernah mengalami penolakan jawaban dari Muslimah yang hendak dipinangnya. []

Name

Abdul Somad,1,Adab,4,Akhir Zaman,4,Al-Qur'an,18,Amalan,2,Analisa,1,Aqidah,16,Arifin Ilham,4,Bedah Buku,106,Canda,1,Dakwah Kampus,15,Dakwah Sekolah,1,Danil S,10,De_Palupi,1,Doa,63,Ekonomis-Bisnis,7,Fadhilah,23,Feature,277,Fiqih,68,Foto,48,Gresia Divi,26,Hadits,77,Hanan Attaki,2,Hasan Al-Banna,25,Headline,2,Heny Rizani,4,Hidayah,4,Hikmah,55,Ibadah,4,Indonesia,1,Inspirasi Redaksi,7,Islam,6,Kaifa Ihtada,46,Keluarga,105,Kembang Pelangi,30,Kesehatan,13,Khutbah Jum'at,55,Kisah Nabi,2,Kisah Nyata,84,KMPD,89,Kulwit,14,Mancanegara,1,Materi Tarbiyah,11,Mija Ahmadt,1,Motivasi,26,Mukjizat,4,Muslimah,43,Nasional,406,Nasyid,7,Oktarizal Rais,9,Opini,80,Parenting,11,Pemuda,2,Pernikahan,22,Petunjuk Nabi,7,Pirman,178,Press Release,19,Profil,16,Puisi,5,Ramadhan,87,Ramadhan 2017,1,Redaksi,6,Renungan,121,Renungan Harian,342,Retnozuraida,3,Rumah Tangga,8,Salim A Fillah,4,Salman al-Audah,1,Sirah,3,Sirah Sahabat,22,Siyasah Syar'iyyah,3,Strategi Dakwah,5,Surat Pembaca,1,Syiah,14,Tadabbur Al-Kahfi,1,Tasawuf,1,Taujih,44,Tazkiyah,5,Tazkiyatun Nafs,35,Tifatul Sembiring,25,Ukhtu Emil,31,Video,83,Wakaf,5,
ltr
item
Tarbawia: Taaruf Ketujuh
Taaruf Ketujuh
http://4.bp.blogspot.com/-YPRdyV-4Xxs/VBgyjRyNWwI/AAAAAAAAVsc/3O_Y7FSUh_M/s1600/Taaruf%2B-%2Bilustrasi.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-YPRdyV-4Xxs/VBgyjRyNWwI/AAAAAAAAVsc/3O_Y7FSUh_M/s72-c/Taaruf%2B-%2Bilustrasi.jpg
Tarbawia
https://www.tarbawia.com/2014/09/taaruf-ketujuh.html
https://www.tarbawia.com/
https://www.tarbawia.com/
https://www.tarbawia.com/2014/09/taaruf-ketujuh.html
true
4661011185558750656
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content