Khutbah Jum’at: Bagaimana Menghadapi Bencana


Meskipun bencana gempa di Sumatra Barat terjadi lebih dari satu pekan lalu, evakuasi korban masih berlangsung hingga hari ini. Rehabilitasi dan rekontruksi daerah gempa juga baru dimulai. Dan, yang mengkhawatirkan, ada kemungkinan gempa juga terjadi di wilayah lain, seperti Jawa Timur.

Karenanya, Khutbah Jum'at ini masih menghadirkan tema seputar Bencana. Jika sebelumnya mengambil tema Bila Bencana Melanda, kini khutbah Jum'at ini mengetengahkan tema Bagaimana Menghadapi Bencana.
***

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Shalawat dan salam atas junjungan dan suri teladan kita, Muhammad Rasulullah SAW. Beliaulah yang dengan gigih dan tanpa takut resiko, mendakwahi umatnya kepada jalan keselamatan. Beliaulah yang dengan penuh kasih sayang, mengajarkan Al-Qur'an dan hikmah kepada umatnya. Beliaulah yang tidak pernah surut langkahnya dalam menghadapi berbagai bahaya, asalkan petunjuk Allah SWT bisa diikuti oleh umat manusia. Maka, inilah akhirnya. Petunjuk Allah dalam Al-Qur'an dan petunjuk Rasulullah SAW dalam hadits bisa sampai kepada manusia zaman kita. Dan kepada keduanya kita mencari solusi atas segala problematika kita. Termasuk dalam menghadapi bencana.

Maka, marilah senantiasa kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan ketaqwaan itulah kita senantiasa dikasihi Allah SWT. Dengan taqwa itulah kita bisa menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah SWT. Dan dengan taqwa itulah kita mendapatkan janji mendapatkan solusi atas problematika yang dihadapi dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2، 3]
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Ikhwani wa akhwati fillah Rahimakumullah....
Belum lagi gempa di Padang, Sumatra Barat, selesai diatasi sudah muncul lagi berita kemungkinan Jawa Timur dan Bali akan dilanda gempa juga. Bencana memang datang bertubi-tubi melanda negeri ini. Tentu semua bencana ada hikmahnya. Tetapi, lebih dari itu kita juga memerlukan petunjuk Islam dalam menghadapi bencana. Dalam artian, bagaimana seharusnya kita bersikap sebelum terjadinya bencana saat kita mengetahuinya, dan bagaimana pula sikap kita ketika bencana benar-benar melanda, dan bagaimana pula sesudahnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Diantara hal-hal yang perlu dilakukan itu saat mengetahui akan adanya bencana yang datang adalah sebagai berikut:

1. Antisipasi Bencana dan Upaya Preventif
Kesalahan yang sering terulang di negeri ini adalah, saat diketahui akan datangnya sebuah bencana, kita bersikap biasa-biasa saja, acuh tak acuh, dan terkesan mengabaikan warning tersebut. Akibatnya, saat bencana terjadi, kerusakan parah pun tidak terhindarkan.

Situ Gintung, misalnya. Sebenarnya sudah ada indikasi kerusakan Situ tersebut. Mulai dari keretakan-keretakan yang bisa dideteksi, dan lain sebagainya. Tetapi, itu semua diabaikan sehingga terjadilah bencana jebolnya tanggul itu dan korban tewasnya mencapai 100 orang. Namun, hal yang sama tidak terjadi pada sebuah situ di Tangerang. Begitu ada warning kerusakan Situ tersebut, segera dilakukan rehabilitasi. Dan, alhamdulillah jebolnya tanggul bisa dihindarkan.

Mencegah gempa memang tidak bisa dilakukan seperti mencegah terjadinya tanggul jebol. Tetapi, jika diberitahukan secara masif kepada warga tentang akan terjadinya gempa dan dikampanyekan upaya penyelamatan diri, seperti tidak berada di dalam gedung, dan sebagainya, minimalisir korban bisa dilakukan. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Dan karenanya jika LIPI memprediksi akan terjadinya gempa di Jawa Timur, masyarakat kita pun perlu siaga dan pemerintah perlu mengoptimalkan early warning system atau sistem peringatan dini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ [الحشر/18]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr : 18)

Hari esok yang dimaksud ayat ini memang akhirat. Tetapi, kita juga bisa mengambil pelajaran dari ayat ini untuk melakukan management by anticipation sebagai lawan dari kebiasaan buruk kita selama ini, management by accident.

(BERSAMBUNG, maaf belum bisa menyelesaikan tulisan khutbah ini)
Powered by Blogger.