Alam Semesta dalam Al-Qur'an (2)


Bagian pertama Alam Semesta dalam Al-Qur'an sudah diposting 2 pekan lalu di BERSAMA DAKWAH. Kini Ceramah Hasan Al-Banna melanjutkan pembahasannya: Alam Semesta dalam Al-Qur'an (2) yang merupakan bagian akhir tema ini. Sebelum itu, Ceramah Hasan Al-Banna telah mengangkat tema Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan, Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an, Manusia dalam Al-Qur'an, dan Wanita dalam Al-Qur'an. Selamat membaca.
***

AL-QUR'AN DAN HAKIKAT-HAKIKAT ILMIAH
Ikhwan sekalian, meskipun Al-Qur'anul Karim diturunkan bukan sebagai sebuah buku ilmiah yang menjelaskan berbagai hakikat alam, sebagaimana yang diuraikan oleh buku-buku khusus untuk itu, namun ia juga mengemukakan hukum-hukum ilmiah yang dapat mengantarkan ketakjuban manusia ketika itu, apalagi ketika ia mendengar penjelasan itu dari seorang Nabi berkebangsaan Arab yang buta huruf. Bagaimana mungkin ada kitab ajaib seperti ini di zaman kebodohan dan kegelapan?

Al-Qur'an menjelaskannya kepada manusia sebagai cahaya, dengan gaya bahasa yang merakyat dan halus sehingga bisa dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh orang awam. Ini merupakan keunikan yang tidak terdapat pada kitab sebelumnya dan tidak terdapat pula dalam kitab-kitab yang ada setelahnya.

Ketika membahas tentang alam semesta, Al-Qur'an mengemukakan awal penciptaannya, beberapa fenomena alam, dan keadaan akhirnya. Al-Qur'an menyinggung permulaan penciptaan langit dan bumi, fenomena matahari dan bulan, dan akhir dari alam semesta ini. Keterangan Al-Qur'an tentang berbagai masalah ini tidak ada yang bertentangan dengan hakikat-hakikat ilmiah yang telah banyak diketahui oleh akal manusia, yang telah disingkap oleh para ahli ilmu alam melalui berbagai eksperimen mereka dengan menggunakan sarana-sarana modern yang tidak berhubungan sama sekali dengan wahyu. Contoh lain adalah firman Allah SWT:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah. (QS. Adz-Diariyat: 49)

Dan firman-Nya yang lain,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati." (QS. Fushilat: 11)

Ini sesuai dengan teori positif-negatif, di mana segala sesuatu terdiri dari keduanya. Karena itu, dalam segala hal harus ada yang positif dan ada pula yang negatif. Proses pembentukan seluruh makhluk berdiri di atas teori ini. Demikianlah, kita melihat Al-Qur'an telah menjelaskan asas seluruh alam semesta. Allah SWT berfirman,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu, keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya? (QS. Al-Anbiya: 30)

Wahai Akhi, ini tidak bertentangan dengan teori ilmiah yang mengatakan bahwa langit dan bumi berasal dari satu bahan baku. Al-Qur'an hanya mengemukakan kaidah-kaidah umum yang bisa diterima akal dalam setiap perkembangannya. Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (QS. Al-Anbiya: 30)

Ini merupakan fakta ilmiah yang tidak ada seorang pun yang membantahnya. Allah berfirman mengenai awal penciptaan manusia,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ * ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ * ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Mukminun: 12-14)

Pembicaraan ini sudah memasuki bidang ilmu kedokteran, yang telah disaksikan oleh para ilmuwan dan tidak mungkin untuk ditentang oleh seorang pun.

Ada beberapa fenomena alam yang ditegaskan dan dikemukakan oleh Al-Qur'an. Contohnya adalah proses terjadinya hujan yang bermula dari uap yang terbentuk karena panas matahari, kemudian digiring oleh angin. Ini tidak bertentangan dengan keterangan Al-Qur'anul Karim.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidakkah kalian melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah oleh kalian hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nur: 43)

Contoh lain adalah firman Allah,

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

Dan gunung-gunung sebagai pasak? (QS.An-Naba: 7)

وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang bersama kalian, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 15)

Karena sesungguhnya, gunung-gunung adalah pasak-pasak bumi yang menjaga agar bumi tidak bergerak sehingga airnya tumpah ke daratan.

AKHIR ALAM SEMESTA
Ikhwan tercinta, Al-Qur'anul Karim berbicara tentang akhir kehidupan di alam semesta,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. (QS. Ibrahim: 48)

Al-Qur'an juga mengatakan,

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ * لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ * خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ * إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا * وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا * فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

Apabila terjadi hari kiamat. Terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan. (Kejadian itu) menghinakan (satu golongan) dan meninggikan (golongan lain). Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan. (QS. Al-Waqi'ah: 1-6)

Al-Qur'an juga mengatakan,

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ * وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ * وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ * وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ * وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ * وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ * وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ

Apabila matahari digulung. Apabila bintang-bintang berjatuhan. Apabila gunung-gunung dihancurkan. Apabila unta-unta bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan). Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Apabila lautan dipanaskan. Apa- bila ruh-ruh dipertemukan.... (QS. At-Takwir: 1-7)

Wahai Akhi, ini berarti bahwa akhir kehidupan di alam semesta ini akan terjadi dengan suatu peristiwa yang mahadahsyat. Hari kiamat itu.

لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً

Tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba. (QS. Al-A'raf: 187)

Ia akan datang pada waktu yang dikehendaki dan ditetapkan oleh-Nya. Ketika itu benda-benda alam berbaur satu sama lain. Dan ternyata, ilmu pengetahuan juga mengatakan demikian. Ikhwan sekalian, semua ini berarti bahwa berita tentang alam semesta dalam AI-Qur'anul Karim tidak bertentangan dengan informasi ilmu pengetahuan dalam menyatakan suatu hakikat. Bahkan tidak hanya itu, Al-Qur'an tidak menghendaki akal manusia berhenti sampai di sini, tetapi memerintahkannya agar menjelajahi alam semesta ini.

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ

Katakanlah, "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana penciptaan (manusia) dari permulaannya." (QS. Al-Ankabut: 20)

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit. (QS. Al-Isra': 85)

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah, "Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)

KESIMPULAN
Kesimpulannya, Ikhwan sekalian yang tercinta, hendaklah kita mengetahui bahwa kitab Allah menganjurkan kepada kita untuk memperhatikan alam semesta. Perhatian ini merupakan salah satu prinsip keimanan. Ada sebuah riwayat yang kuat dari Ibnu Umar ra. bahwa ia berkata, "Saya pernah berkata kepada 'Aisyah ra., 'Beritahulah aku tentang hal yang paling menakjubkan dari keadaan Rasulullah SAW yang pernah engkau lihat!' Ia pun menangis lama sekali. Kemudian berkata, 'Semua keadaannya mengagumkan. Suatu malam beliau mendatangiku dan masuk ke dalam selimutku, sehingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku. Lantas beliau bersabda, 'Aisyah, apakah kamu mengizinkanku pada malam ini untuk beribadah kepada Tuhanku?' Saya menjawab, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka berada di dekatmu dan menyukai keinginanmu. Namun aku mengizinkanmu.' Beliau berdiri menuju sebuah geriba air yang ada di dalam rumah. Beliau berwudhu tanpa terlalu banyak menyiramkan air. Beliau berdiri melaksanakan shalat, lantas membaca Al-Qur'an. Beliau pun menangis, sehingga air mata membasahi pinggangnya. Kemudian beliau duduk membaca tahmid dan kembali menangis. Tak lama kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan kembali menangis, sehingga saya melihat air mata beliau membasahi tanah. Kemudian Bilal datang kepada beliau untuk memberitahukan bahwa waktu subuh telah tiba. Bilal melihat beliau sedang menangis, lalu bertanya, Wahai Rasulullah, mengapakah engkau menangis, sedangkan Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, Wahai Bilal, tidakkah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?' Kemudian beliau bersabda, 'Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan pada malam ini Allah telah menurunkan kepadaku,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah: 164)'

Kemudian beliau bersabda, 'Celakalah siapa saja yang telah membacanya, namun tidak memikirkannya.'"

Wahai Akhi, kita diperintahkan untuk, pertama, merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang disebutkan dalam kitab Allah SWT. Kedua, kita tidak berusaha memaksa Al-Qur'an mengikuti penafsiran-penafsiran ilmiah atau memaksanya agar tidak bertentangan dengan kesimpulan penelitian-penelitian ini. Kita harus mengetahui bahwa Al-Qur'an tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah yang sudah pasti. Ketiga, ilmu yang berhasil diketahui oleh para ilmuwan hanyalah sedikit dari sekian banyak ilmu. Di hadapan mereka masih terbentang fase-fase perkembangan ilmu pengetahuan yang luas sekali sebelum mereka mengetahui sebagian dari hakikat-hakikat ilmiah itu, bukan keseluruhannya. Karena itu, tidak dibenarkan bila kita menolak keterangan Al-Qur'an berdasarkan sebagian ilmu pengetahuan yang telah mereka ketahui. Keempat, Al-Qur'an memiliki perbedaan dibanding kitab-kitab sebelumnya, yang ia menjadikan perhatian kepada alam semesta sebagai salah satu dari sumber-sumber keimanan. Al-Qur'an memberikan kebebasan yang luas untuk melakukan penelitian, kajian, perhatian, dan observasi. Ini saja yang saya sampaikan. Saya memohon ampunan kepada Allah, untuk diri saya dan untuk Anda sekalian. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.