Berkahnya Dakwah


“Dari Sby lagi?” Tanya seorang akhwat sepekan lalu ketika melihat suaminya datang dengan membawa bungkusan yang khas. Begitu melihat bungkusan itu, akhwat itu langsung menebak: pasti bungkusan dari Sby lag. “Ya, aku memang dari Sby. Ada yang perlu kubeli. Seharusnya Al-Bidayah wan Nihayah edisi lengkap, tapi stoknya habis. Dapatnya Qashashul Anbiya'.” Sang suami menjelaskan.

“Apa tidak capek? Bukannya tadi pagi kurang enak badan?”
“Ya. Tadi pagi memang capek. Bahkan sampai menjelang khutbah. Namun begitu aku naik mimbar dan kulihat mayoritas jama'ah shalat Jum'at itu adalah para pemuda yang wajahnya memancarkan harapan masa depan Islam, seketika itu semangatku telah menghilangkan rasa capek itu.” cerita sang suami dengan wajah berseri-seri.

Begitulah dakwah! Ia memiliki keutamaan yang begitu banyak dan luar biasa. Satu diantaranya, dakwah pada hakikatnya adalah motivasi dan perbaikan diri bagi dainya sendiri. Ya, bagi dainya sebelum bagi mad'unya. Ini akan membawa kesadaran baru bahwa dakwah sebenarnya adalah kebutuhan kita. Bukan dakwah yang membutuhkan kita.

Saat dakwah yang diserukan para dai hanya ditujukan kepada orang lain, dan bukan untuk dirinya, sesungguhnya Allah telah mengancam dai yang semacam ini dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sungguh besar kemurkaan Allah kepadamu jika engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf : 2-3)

Penjelasan inilah yang melatari mengapa di dalam khutbah Jum'at sering kita dengar khatib menyampaikan nasihat taqwa: usikum wa nafsi bitaqwallah, aku menasehati kalian dan diriku sendiri agar bertaqwa kepada Allah.

Namun dakwah juga tidak harus menunggu dai menjadi sempurna. Karena dakwah adalah juga perbaikan diri, maka pada saat ia mendakwahkan Islam kepada orang lain sesungguhnya ia mentaujih dirinya sendiri untuk mengikuti dakwah itu dan istiqamah menjalankannya. Imam Hasan Al-Basri menjelaskan “Hai manusia, aku menasihati kalian, kendati aku bukan orang paling baik dan shalih di antara kalian. Buktinya, aku seringkali mendzalimi diriku, tidak bisa mengendalikannya, dan tidak membawanya untuk taat kepada Tuhannya. Namun, jika orang mukmin tidak menasehati saudaranya, kecuali setelah mampu mengendalikan diri, tentu tidak ada orang yang memberi nasehat kepada orang lain, da’i menjadi langka, tidak ada orang yang mengajak orang lain kepada Allah, menganjurkan mereka taat pada-Nya, dan melarang mereka melakukan kemaksiatan. Pertemuan sesama orang yang punya hati nurani dan nasehat sebagian orang mukmin kepada sebagian yang lain menghidupkan hati orang-orang yang bertaqwa, mengingatkan mereka dari lalai, dan melindungi dari lupa.”

Bentuk lain berkah dakwah bagi dai adalah motivasi itu; menyemangati. Karenanya kita dapatkan banyak dai yang selalu antusias, bersemangat, dan mampu melawan penyakit yang dideritanya. Apalagi sekedar rasa lelah. Saat ia mengajak orang lain untuk berjuang, saat ia memotivasi orang lain untuk beramal, pada saat yang sama ia memompakan semangat itu dalam dirinya. Jika kini ada temuan baru bahwa manusia -yang terdiri dari banyak air dalam tubuhnya- juga memiliki karakter seperti air yang mudah dipengaruhi oleh pesan yang diterimanya, itu mungkin penjelasan ilmiahnya. Atau dalam psikologi, barang kali dakwah yang disampaikannya telah menjadi hypnoteraphy baginya, sebelum ia berpengaruh bagi orang lain.

Kita pun menjadi tidak heran jika membaca kisah suami yang datang dari Sby di atas. Apalagi Sby, singkatan dari Surabaya yang banyak dipakai di daerah kami, tidak terlalu jauh dari tempat ikhwan tadi. Hanya sekitar 1 jam perjalanan.

Maka berikutnya adalah komitmen kita untuk tetap mengumandangkan dakwah ini sebagaimana perkataan Hasan Al-Basri: Tiada hari tanpa berdakwah![Muchlisin]
Powered by Blogger.