Hak-Hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an (2)


Berikut ini adalah lanjutan dari Ceramah Hasan Al-Banna yang diposting pekan lalu. Bagian 2 ini merupakan bagian akhir tema Hak-hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an. Sebelum tema ini, Ceramah Hasan Al-Banna telah membahas beberapa tema, yaitu:
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
3. Manusia dalam Al-Qur'an
4. Wanita dalam Al-Qur'an
5. Alam Semesta dalam Al-Qur'an
6. Alam Metafisik dalam Al-Qur'an
Selamat membaca.
***

Allah SWT juga berfirman berkenaan dengan anggapan bahwa Dia berputra.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ * مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ * إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa putra Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah?'" Isa menjawab, "Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (untuk mengatakannya), yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Allah berfirman, "Ini adalah hari yang memberi manfaat bagi orang-orang yang benar lantaran kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama- lamanya; Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar." Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 116-120)

Wahai Akhi, di sini Anda mendapati penegasan Allah bahwa Dia tidak berputra, melalui bentuk dialog antara Allah SWT dengan Isa bin Maryam di akhirat, ketika berbagai hakikat dibuktikan. Di sini juga terlihat bahwa keyakinan itu berubah-ubah sepeninggal para nabi mengikuti hawa nafsu manusia dan godaan kemunafikan. Al-Qur'an juga membantah orang-orang Yahudi yang mengatakan, "Sesungguhnya Uzair adalah putra Allah."

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putra Allah" dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putra Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknati mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah: 30)

Keyakinan tentang adanya dua atau tiga tuhan, sebenarnya merupakan keyakinan kaum penyembah berhala. Ini merupakan salah satu mukjizat Al-Qur'an pula, karena Nabi SAW tidak pernah belajar filsafat kuno tentang bangsa-bangsa paganis (penyembah berhala) yang mengatakan bahwa Allah SWT berputra. Al-Qur'anul Karim menolak keyakinan yang menetapkan segala macam makhluk sebagai tuhan, sekalipun mereka adalah pendeta dan tokoh agama.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (mereka juga mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Al-Qur'an juga menolak sama sekali adanya manfaat atau sifat-sifat ketuhanan apa pun yang dilekatkan pada berhala-berhala bangsa Arab, seperti pada Bahirah, Saibah, dan Washilah. Dahulu, semua ini adalah sebutan untuk hewan-hewan mereka yang dinadzarkan kepada Allah dengan cara-cara tertentu, sehingga akhirnya manusia menganggap bahwa di dalamnya terdapat berkah khusus. Itu semua merupakan bagian dari keyakinan-keyakinan yang bersumber dari paganisme lama. Ia menjadi penghalang mereka untuk mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, washilah, dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. Al-Maidah: 103)

Wahai Akhi, Islam datang untuk memberantas semua ini agar tidak menjadi sarana yang menjerumuskan umat manusia kepada kesyirikan.

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al-An'am: 136)

Wahai Akhi, ada pula keyakinan bahwa untuk bertaqarub kepada Allah seseorang perlu membunuh anak laki-laki atau mengubur anak perempuan hidup-hidup. Tentu Islam memberantasnya, karena manusia hanya bisa bertaqarub dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perbuatan-perbuatan baik (amal shalih).

وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. (QS. Al-An'am: 137)

Penguburan anak perempuan tidak semata-mata dengan alasan malu, tetapi sebagian bangsa Arab menjadikannya sebagai sarana untuk bertaqarub dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.. Keyakinan ini bersumber dari suku-suku Barbar. Hingga kini masih ada orang-orang yang menyajikan korban mengikuti tradisi-tradisi kaum paganis.

وَقَالُوا هَذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لَا يَطْعَمُهَا إِلَّا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لَا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan mereka mengatakan, "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki," menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka lantaran apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-An'am: 138)

Semua ini merupakan jenis-jenis paganisme yang dikaitkan dengan keyakinan tentang ketuhanan. Islam datang untuk memberantas dan memeranginya, serta untuk membersihkan hakikat ketuhanan dari noda- noda syirik yang dilekatkan kepadanya.

Kesimpulan
Wahai Akhi, kesimpulan yang dapat kita ambil dari pembahasan kita mengenai pengertian uluhiyah tersimpul dalam dua poin:

Pertama, Al-Qur'anul Karim menegaskan —dengan penegasan yang tidak memberi tempat untuk keragu-raguan— bahwa dzat Allah serta hakikat sifat-sifat-Nya itu merupakan perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal manusia.

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An'am: 103)

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا

Musa berkata, "Wahai Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu". Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A 'raf: 143)

Demikianlah, akal pikiran manusia tidak mampu mengetahui dzat Allah SWT secara sepenuhnya, karena itu ia dihalangi darinya. Adapun bahwa manusia akan melihat Allah SWT di hari kiamat adalah perkara yang tidak diperdebatkan lagi, tetapi bukan berarti semua mata ini —sampai hari kiamat sekalipun— mengetahui sepenuhnya hakikat Tuhan mereka. Kesimpulan praktisnya adalah bahwa kita, kaum muslimin, tidak dibenarkan menjadikan pemahaman-pemahaman mengenai hal ini sebagai perdebatan, pembahasan, dan perselisihan di antara kita, karena kita tidak akan memperoleh apa pun dengan melakukan itu.

Kedua, adalah persoalan hubungan kita dengan Allah, dan hubungan Allah dengan kita. Hubungan Dia dengan kita adalah, Dia merupakan sumber curahan karunia yang luas meliputi segala sesuatu. Dialah yang telah menjadikan kita ada, memberikan petunjuk kepada kita, memberikan rezeki kepada kita, menghidupkan dan mematikan, menghisab, dan Dia merupakan tempat kembali segala sesuatu. Hubungan kita semua kepada-Nya adalah hubungan ubudiyah (peribadatan).

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. Maryam: 93)

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ * وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

Dan mereka berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Barangsiapa di antara mereka mengatakan, "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zhalim. (QS. Al- Anbiya': 26-29)

Jadi, status seluruh makhluk di hadapan Allah adalah hamba dan yang mendekatkan mereka kepada-Nya adalah ketaatan, pelaksanaan perintah-Nya, serta kepatuhan kepada batas-batas dan syariah-syariah-Nya. Barangsiapa menaati-Nya, ia akan didekatkan kepada-Nya dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya, ia dijauhkan dari-Nya.

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal. "Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus ditunaikan oleh para hamba dan apakah hak hamba yang mesti ditunaikan oleh Allah?" Muadz menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Hak Allah yang harus ditunaikan para hamba adalah hendaklah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekurukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang mesti ditunaikan oleh Allah adalah jika mereka telah menunaikan hak Allah itu, Allah akan memasukkan mereka ke surga." Jadi, barangsiapa yang taat kepada Allah, ia beruntung dan barangsiapa yang membangkang kepada Allah, ia celaka.

Wahai Akhi, jika kita telah mengetahui hal itu, maka kita berkewajiban menghindari pembicaraan yang kebablasan tentang hakikat sifat yang digambarkan oleh Allah SWT tentang diri-Nya. Hendaklah kita menerima hal itu secara bulat dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan perbuatan yang diridhai-Nya. Sehingga, Dia menampakkan keakraban dan kedekatan-Nya kepada kita sebagaimana yang telah ditampakkan-Nya kepada siapa yang dicintai-Nya.

Ikhwan sekalian, jika Anda semua bisa mengingat-ingat hal itu, maka itu merupakan kunci kebaikan.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Bukhari - Muslim)

Ingatlah bahwa Allah senantiasa bersama Anda semua, di mana pun Anda berada. Dia mengawasi Anda dan bahwa apa saja yang Anda kerjakan dan apa saja yang terlintas dalam pikiran Anda, pasti diketahui-Nya.

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Al-Mu'min: 19)

Orang-orang yang telah mengenal Allah, tidak mengizinkan hati mereka untuk memikirkan apa pun selain-Nya.

إِذاَ نَظَرَتْ عَيْنَِيْ لِغَيْرِكَ مَرَّةً * عَدَدْتُ إِخْتِلاَسَ الطَّرْفِ مِنْ أَعْظَمِ الْوِزْرِ

Jika mataku melihat kepada selain-Mu sekali saja
Kuanggap lirikan mata itu sebagai dosa yang paling besar


Maka, berinteraksilah dengan Allah dengan kesadaran dan pengetahuan, sehingga Anda sekalian menjadi orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
Powered by Blogger.