Guru Menentukan Masa Depan Anak Anda


Dalam film The Karate Kid yang baru diputar 2 hari ini di Indonesia, ditunjukkan bagaimana seorang guru menentukan masa depan muridnya. Cheng (Zhenwei Wang) dan teman-temannya yang menjadi murid Master Li (Rongguang Yu) sering membuat onar sepulang sekolah, mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, pendendam, dan tak kenal ampun. Sejalan dengan doktrin Master Li yang menjadi slogan mereka setiap latihan: “Tak kenal rasa takut, tak kenal rasa sakit, tak kenal ampun!”

Berbeda dengan Cheng, di bawah bimbingan Mr Han (Jackie Chan), Dre Parker (Jaden Smith) tumbuh menjadi seorang yang penuh kasih, cinta damai, dan memakai kekuatan untuk alasan yang benar. Sejak awal Mr Han memang mengajarkan bahwa hal pertama yang harus dikuasai adalah attitude. Sekolah formal kita memasukkannya sebagai aspek afektif. Mr Han juga mengajari bahwa the real kung fu bukan untuk melukai orang lain. Cinta damai diinternalisasikan dalam diri Dre dengan slogannya: “Pertarungan yang baik adalah menghindari pertarungan.”

Apa yang terjadi pada Cheng dan Dre juga bisa terjadi pada anak-anak kita. Guru sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Guru akan menentukan masa depan mereka. Melalui pengajarannya. Melalui keteladanannya. Melalui interaksi murid dengan mereka. Semuanya akan membekas dan membentuk karakter anak-anak kita. Terlebih ketika anak-anak masih dalam usia dini. Sebuah masa yang dikenal dengan istilah golden age karena begitu pentingnya untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan formal anak-anak kita tentu saja tidak sama dengan pendidikan kung fu Cheng dan Dre. Namun ia bisa menjadi sama dalam bentuknya yang lain. Apa yang terjadi pada Cheng juga bisa terjadi pada anak-anak kita manakala guru hanya mengedepankan aspek kognitif. Yang penting ia sudah menyampaikan pelajaran. Yang penting muridnya sudah menguasai materi. Yang penting anak didiknya lulus ujian. Yang penting anak didiknya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Guru tidak peduli pada perkembangan afeksi muridnya. Tidak peduli bagaimana akhlak murid terhadap guru dan orangtua. Tidak mau tahu bagaimana karakter muridnya terbangun, lalu sikapnya mulai meresahkan teman dan lingkungannya.

Sementara guru yang baik, ia akan sangat concern pada aspek afektif muridnya, sama concern-nya dengan perhatiannya pada perkembangan kognitif dan psikomotorik. Maka guru seperti ini tidak akan melupakan untuk menanamkan nilai pada muridnya. Membangun akhlak yang baik. Mendidik bersikap mulia. Mengajarinya kasih sayang dan tanggungjawab. Dan, yang lebih penting adalah, guru langsung menjadi teladan dalam hal ini. Bukan hanya teori.

Imam Al-Ghazali dalam buku Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa guru yang baik seperti itu setidaknya harus memiliki delapan tugas atau karakter. Dan yang pertama adalah belas kasih kepada murid dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Poin pertama ini sesungguhnya sangat luas dan dari sana saja sudah membawa dampak positif yang luar biasa besar. Belas kasih dalam persepktif Islam bukan hanya mengasihi sehingga murid merasa dicintai dan terjaga dari rasa sakit atau terluka di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, guru akan memberikan yang terbaik baginya, bagi masa depannya. Sebagaimana ia menginginkan anaknya bahagia dunia akhirat, ia pun akan mendidik muridnya agar selalu berorientasi ridha Ilahi. Ia akan membimbing muridnya agar senantiasa berusaha memilih jalan menuju surga. Guru tidak akan berlaku keras terhadap muridnya, sebagaimana ia tidak ingin itu terjadi pada anaknya. Guru tidak membentak murid saat ia “menjengkelkan”, namun akan membentuknya hingga murid menyadari sikap-sikap yang bisa membuat jengkel orang lain, lalu meninggalkannya. Pada titik ini, sebenarnya konsep Al-Ghazali telah melampaui Quantum Teaching yang tujuannya adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

Kita mungkin akan kesulitan jika memilih guru satu persatu karena pendidikan formal anak kita tidak memungkinkan untuk itu. Yang bisa kita lakukan adalah memilih sekolah yang memiliki guru-guru seperti itu. Di sini setiap orang berhak untuk mengamati semua sekolah dan memberikan penilaian. Saya secara pribadi lebih mempercayai Sekolah Islam Terpadu (mohon maaf bagi yang tidak sependapat). Selain Sekolah Islam Terpadu sudah terbukti cukup berhasil dalam mengembangkan Pendidikan Berbasis Karakter dan karenanya menjadi sekolah favorit di semua kota, pengalaman telah mengajari saya. Ada bedanya ketika anak saya sekolah di Sekolah Islam Terpadu dan non SIT. Terutama pada attitude dan semangatnya untuk bersekolah.

O ya, nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh guru yang baik juga akan melahirkan kemampuan berinovasi. Di akhir film The Karate Kid, Dre bisa memenangkan turnamen terbuka meskipun salah satu kakinya patah. Bagaimana Dre bisa mengalahkan Cheng pada babak final itu dengan satu kaki? Ternyata Dre menggunakan jurus Kobra yang belum pernah diajarkan Mr. Han, Gurunya. Ia hanya mengamati saat seorang master mempraktikkannya di puncak The Great Wall (Tembok Besar). [Muchlisin]
Powered by Blogger.