Taubat Kolektif, Taubat Jamaah


Ketika membahas taubat personal pada tulisan sebelumnya, kita belajar dari Thalhah bin Ubaidillah dan Tsa'labah. Fakta bahwa jamaah dakwah ataupun harakah merupakan kumpulan manusia yang tak bisa luput dari segala salah dan khilaf membawa kita pada kesadaran bahwa jamaah dakwah ataupun harakah juga memiliki peluang untuk melakukan kesalahan. Kini kita akan belajar dari taubatnya sebuah harakah yang cukup populer di Mesir.

Namanya Jamaah Islamiyah. Setelah sekian lama mengalami dinamika pemikiran dan pengalaman di lapangan, jamaah yang semula mengambil "langkah-langkah kekerasan" sebagai jalurnya itu menyatakan berubah. 5 Juli 1997, di pengadilan militer wakil Jamaah Islamiyah Mesir mengumumkan perubahan haluan itu. Pernyataan itu disertai bukti tanda tangan para pemimpin kharismatik Jamaah Islamiyah Mesir; mengajak seluruh anggota Jamaah Islamiyah Mesir menghentikan seluruh aksi kekerasan dan pertumpahan darah. Pada saat yang sama, qiyadah jamaah Syaikh Umar Abdur Rahman berada dalam penjara Amerika Serikat.

Pengikut dan pemimpin Jama'ah Islamiyah Mesir yang lain semula ragu dengan pengumuman itu. Namun setelah melakukan konfirmasi, seluruh jamaah bergabung dalam barisan ulama perdamaian dan rekonsiliasi. Maka hari-hari berikutnya adalah pengumpulan tanda tangan perorangan anggota jamaah, hingga puncaknya pada deklarasi resmi 28 Maret 1999; dukungan penuh terhadap aksi-aksi damai dan menghentikan operasi kekerasan.

Tidak berhenti di situ. Taubat kolektif itu dikuatkan dengan penyebaran fikrah baru. Kader-kader terbaik jamaah menulis sejumlah buku yang dikompilasikan dengan nama "Silsilah Tashhih Al Mafahim". Buku-buku tersebut langsung berada di bawah koordinator dan editor yang terdiri dari para qiyadah kharismatik Jamaah Islamiyah Mesir: Karam Zuhdi, Najih Ibrahim, Usamah Hafidz, Fuad Dawalibi, Hamdi Abdurrahman, Ali Syarif, Ashim Abdul Majid, dan Isham Dirbalah.

Yang menarik, dalam buku-buku tersebut, mereka tidak malu-malu untuk menjadikan karya-karya kader Ikhwanul Muslimin sebagai referensi, khususnya buku-buku Yusuf Qardhawi.
***

Seperti pada paragraf awal tulisan ini, jamaah dakwah ataupun harakah adalah kumpulan manusia. Bukan kumpulan malaikat. Sebagaimana manusia secara personal bisa salah dan khilaf, jamaah juga demikian. Yang membedakan adalah, ketika secara personal seorang mukmin bisa terperosok dalam kesalahan tanpa disadari, jamaah memiliki perisai dan alat kontrol yang lebih peka. Ini berlaku jika tradisi suro berjalan. Artinya, selama di dalam jamaah itu ada sejumlah orang mukmin, maka sebagiannya akan merasakan kesalahan yang terjadi. Lalu ada dakwah internal jamaah. Mengingatkan. Dari sana biasanya akan muncul dinamika. Sebagian meyakini itu salah, sebagian lain mungkin merasa benar. Lalu terjadilah dialog. Na'udzubillah jika pada jamaah yang didalamnya berhimpun kaum mukminin lalu terjadi kesalahan yang tidak pernah terdeteksi oleh seorang pun.

Dalam dialog, dalam suro, di situlah dibutuhkan kearifan. Adalah sulit untuk menemukan kesalahan pada diri sendiri, tetapi dengan hidayah Allah, kemudian taujih sesama kader dakwah, kesalahan lebih mudah dirasa, kebenaran diterima, lalu taubat kolektif dilakukan.

Beruntunglah Jamaah Islamiyah Mesir dengan taubatnya sebagaimana ditulis Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Jihad. Barangkali kesalahannya tidak begitu halus untuk disadari bersama lalu diperbaiki bersama pula. Dan biasanya, kesalahan jamaah dakwah itu salah satu dari dua hal: berlebihan dalam memandang dakwah hingga terlalu ketat, ghuluw, bahkan terperosok dalam kekerasan; atau terlalu meremehkan segala infiltrasi dari luar atau longgar terhadap dunia hingga terseret dalam arus materi dan cinta dunia. Jamaah Islamiyah Mesir barangkali telah diselamatkan Allah dari yang pertama, dan kita berdoa semoga dakwah kita dihindarkan Allah dari kedua-duanya. [Muchlisin]
Powered by Blogger.